Hukum khuruuj (keluar) bersama jamaah tablig (Syeikh Mustafa eladawy)

Siapa Anda

Jumat, 26 Maret 2010

Sejarah Tabligh

Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi diIndia. Nama Jama'ah Tabligh hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering menyampaikan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama "gerakan iman". Ilham untuk mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan Ibadah Haji kedua-nya di Hijaz pada tahun1926.[3]Maulana Ilyas menyerukan slogannya, ‘Aye Musalmano! Musalman bano’ (dalam bahasa Urdu), yang artinya ‘Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syari’ah seperti yang dicontohkan Rasulullah)’. Tabligh resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya.

Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai amir/pimpinan yang kedua, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Sekali terbentuk dalam suatu negara, Jamaah Tablih mulai membaur dengan masyarakat lokal. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau Tabligh adalah Amerika Serikat, tapi fokus utama mereka adalah di Britania Raya, mengacu kepada populasi padat orang Asia Selatan disana yang tiba pada tahun 1960-an dan 1970-an.[2]

Jamaah ini mengklaim mereka tidak menerima donasi dana dari manapun untuk menjalankan aktivitasnya. Biaya operasional Tabligh dibiayai sendiri oleh pengikutnya.

Tahun 1978, Liga Muslim Dunia mensubsidi pembangunan Masjid Tabligh di Dewsbury, Inggris, yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah Tabligh di Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar.

Ada yang mengatakan bahwa jamaah tabligh adalah penganut khurafat karna katanya kuburan maulana Ilyas di Nizamudin di tawafkan padahal di Nizamudin ada dua masjid yang pertama adalah masjid suatu kelompok yang di dalammya ada kuburan dan yang kedua adalah masjid yang didalamnya jangankan kuburan bahkan tulisan pun bersih dan telah dijadikan pusat penyebaran usaha da'wah Rasulullah Muhammad SAW yang sekarang telah menyebar ke seluruh dunia.

Usaha ini telah merubah banyak kalangan mulai dari orang miskin, kaya, pemulung, pejabat, polisi, tentara, bahkan preman dan pembunuh bayaran.
[sunting] Pengikut dari kalangan selebritis

Banyak terdapat pengikut Tabligh dari kalangan orang-orang penting dan Ternama. Di Kalangan politisi, ada mantan Presiden Pakistan Rafiq Tarar, Menteri kepala Sindh Dr. Arbab Ghulam Rahim, mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, dan mantan Jendral Pakistan Javed Nasir secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Tabligh. Di kalangan olahragawan, ada Shahid Afridi, Saqlain Mushtaq, Mushtaq Ahmed, Mohammad Yousuf, Inzamam-ul-Haq dan Saeed Anwar. Penyanyi terkenal seperti Junaid Jamshed dan Abrar-ul-Haq juga aktif dalam gerakan dakwah revolusi Islam ini. Politisi Ijaz-ul-Haq (anak dari Jendral Zia-ul-Haq) have juga terlihat beberapa kali bersama Jamaah Tabligh.

Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personil band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif.
[sunting] Aktivitas Dakwah
Berkas:Jamaah Tabligh.jpg
Salah seorang karkun (aktivis Jamaah Tabligh) di Banda Aceh

Markas internasional pusat tabligh adalah di Nizzamudin, India. Kemudian setiap negara juga mempunyai markas pusat nasional, dari markas pusat dibagi markas-markas regional/daerah yang dipimpin oleh seorang Shura. Kemudian dibagi lagi menjadi ratusan markas kecil yang disebut Halaqah. Kegiatan di Halaqah adalah musyawarah mingguan, dan sebulan sekali mereka khuruj selama tiga hari. Khuruj adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah, yang biasanya dari masjid ke masjid dan dipimpin oleh seorang Amir. Orang yang khuruj tidak boleh meninggalkan masjid tanpa seizin Amir khuruj. Tapi para karyawan diperbolehkan tetap bekerja, dan langsung mengikuti kegiatan sepulang kerja.

Sewaktu khuruj, kegiatan diisi dengan ta'lim (membaca hadits atau kisah sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria), jaulah (mengunjungi rumah-rumah di sekitar masjid tempat khuruj dengan tujuan mengajak kembali pada Islam yang kaffah), bayan, mudzakarah (menghafal) 6 sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada amir), dan musyawarah. Selama masa khuruj, mereka tidur di masjid.

Aktivitas Markas Regional adalah sama, khuruj, namun biasanya hanya menangani khuruj dalam jangka waktu 40 hari atau 4 bulan saja. Selain itu mereka juga mengadakan malam Ijtima' (berkumpul), dimana dalam Ijtima' akan diisi dengan Bayan (ceramah agama) oleh para ulama atau tamu dari luar negeri yang sedang khuruj disana, dan juga ta'lim wa ta'alum.

Setahun sekali, digelar Ijtima' umum di markas nasional pusat, yang biasanya dihadiri oleh puluhan ribu umat muslim dari seluruh pelosok daerah. Bagi umat muslim yang mampu, mereka diharapkan untuk khuruj ke poros markas pusat (India-Pakistan-Bangladesh/IPB) untuk melihat suasana keagamaan yang kuat yang mempertebal iman mereka.
Asas 6 Sifat

1. Yakin terhadap kalimat Thoyyibah Laa ilaaha ilallah Muhammadur rasulullah.

* Artinya: Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
* Laa ilaaha ilallah
o Maksudnya: Mengeluarkan keyakinan pada makhluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah di dalam hati.
o cara mendapatkannya:
+ dakwahkan pentingnya iman
+ latihan dengan membentuk halakah iman
+ berdoa kepada Allah agar diberi hakikat iman.

* Muhammadar rasulullah
o Maksudnya: Mengakui bahwa satu-satunya jalan hidup untuk mendapatkan kejayaan dunia dan akhirat hanya dengan mengikuti cara hidup Rasulullah s.a.w.
o cara mendapatkannya:
+ dakwahkan pentingnya sunnah rasulullah
+ latihan dengan menghidupkan sunnah 1x24 jam setiap hari
+ berdoa kepada Allah agar dapat mengikuti sunnah rasulullah.

2. Shalat khusyu' dan khudu'.
* Artinya: Shalat dengan konsentrasi batin dan rendah diri dengan mengikuti cara yang dicontohkan Rasulullah.
* Maksudnya: Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
* cara mendapatkannya:
o dakwahkan pentingnya sholat khusyu' wal khudu'
o latihan dengan memperbaiki zhahir dan bathinnya sholat mulai dari wudhu, ruku', gerakan serta bacaan2 dalam sholat
o berdoa kepada Allah agar diberi hakikat sholat khusyu' dan khudu'.

3. Ilmu ma'adz dzikr
* Ilmu
o Artinya: Semua petunjuk yang datang dari Allah melalui Baginda Rasulullah.
* Dzikir
o Artinya: Mengingat Allah sebagaimana Agungnya Allah.
o Maksudnya Ilmu ma'adz dzikr:

Melaksanakan perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan ke-Agungan Allah mengikuti cara Rasulullah.

4. Ikramul Muslimin
* Artinya: Memuliakan sesama Muslim.
* Maksudnya: Menunaikan kewajiban pada sesama muslim tanpa menuntut hak kita ditunaikannya.
* cara mendapatkannya:
o dakwahkan pentingnya ikramul muslimin
o latihan dengan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal menghormati yang tua, menghargai yang sesama, menyayangi yang muda.
o berdoa kepada Allah agar diberi hakikat ikrakul muslimin.

5. Tashihun Niyah
* Artinya:
Membersihkan niat.
* Maksudnya:
Membersihkan niat dalam beramal, semata-mata karena Allah.
* cara mendapatkannya:
o dakwahkan pentingnya tashihun niyah
o latihan dengan mengoreksi niat sebelum, saat dan setelah beramal.
o berdoa kepada Allah agar diberi hakikat tashihun niat.

6. Dakwah dan tabligh khuruj fii sabiilillah
* Dakwah
o Artinya: Mengajak
* Tabligh
o Artinya: Menyampaikan
+ Maksudnya:
# Memperbaiki diri, yaitu menggunakan diri, harta, dan waktu seperti yang diperintahkan Allah.
# Menghidupkan agama pada diri sendiri dan manusia di seluruh alam dengan menggunakan harta dan diri mereka.
+ cara mendapatkannya :
# dakwahkan pentingnya da'wah wat tabligh.
# latihan dengan keluar di jalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 hari setiap tahun dan 3 hari setiap bulan. kita tingkatkan pengorbanan dengan keluar 4 bulan setiap tahun, 10 hari setiap bulan dan 8 jam setiap hari.(ulama 1 tahun seumur hidup)

Jama'ah Tabligh

Oleh Ustadz Abu Ihsan Manhaj 12/28/2001

Gerakan dakwah yang dibidani oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi ini merupakan salah satu gerakan dakwah Tashawwuf yang sudah menyebar ke berbagai negara Islam maupun non Islam . Secara lahir gerakan ini nampak baik , karena banyak orang-orang yang dahulunya berandalan menjadi terbimbing melaksanakan ibadah lewat jamaah ini. Namun akhirnya para Ulama mengetahui kebobrokan aqidah kelompok ini, satu persatu ketahuan bid'ah-bid'ah yang ada dalam gerakan ini. Selain itu, pada dasarnya dakwah ini memang diilhami dari pemahaman tasawwuf atau tarekat. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa mereka adalah Shufiyyah 'Ashriyah (tasawwuf model baru). Gerakan ini berbasis di negara India dan disanalah gerakan ini pertama sekali muncul. Demikian juga di Pakistan dan Bangladesh. Sehingga ketiga negara tersebut (India, Pakistan, dan Bangladesh) merupakan dareah sasaran utama bagi anggota-anggota mereka untuk khuruj. Di Indonesia jama'ah ini sangat berkembang terutama di daerah timur Indonesia.

Makna kalimat tauhid menurut jamaah Tabligh

Jama'ah Tabligh mempunyai kalimat rahasia yang digunakan sebagai asas tegaknya jama'ah mereka yaitu "Segala sesuatu (walaupun merupakan kebenaran) yang bisa menyebabkan orang lari atau berpecah-belah atau berselisih maka harus ditinggalkan dan disingkirkan jauh-jauh"

Oleh karena hal ini maka mereka menafsirkan kalimat tauhid Laa ilaha illa LLah dengan makna Rububiah. Dengan penafsiran beginilah maka kaum muslimin tidak akan berselisih dan berpecah belah. Sebab jika ditafsirkan dengan makna Uluhiah atau Asma' wa Sifat maka hal ini bisa membuat kaum muslimin lari dari mereka, tidak menerima dakwah mereka dan lebih parah lagi anggota-anggota mereka akan bubar. Hal ini dikarenakan anggota-anggota mereka ada yang Mathurudiah, Asya'iroh dan lain sebagainya. (lihat Qutbiah hal-10) Mereka menafsirkan makna Laa ilaha illa LLah bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan makna-makna yang lainnya yang merupakan makna-makna tauhid rububiah. Padahal Kaum musyrikin Arab dulu juga mengakui tauhid ini.

Sehingga didapatkan ada diantara mereka yang menganggap bahwa sahabat nabi tidak mengetahi memahami tauhid. Sebagaimana ada sebuah kisah seorang guru yang merupakan anggota Jama'ah Tabligh sedang mengajar di sebuah madrasah ibtida'iah. Dia mnjelaskan tentang kecintaan kepada khulafaur Rosidin. Lalu sampailah dia pada kisah Umar bin Khatab yang di masa beliau timbul kelaparan dan paceklik. Lalu Umar pun menirim surat kepada amir-amir kota untuk membantu memberi rezeki keepadanya. Sehingga Umarpun menyeleweng dari agama disebabkan pengambilan sebab (yaitu Umar meminta tolong kepada manusia). Kemudian guru tersebut berkata pada murid-muridnya :"Jika diantara kalian ada yang tertimpa kebakaran atau tenggelam maka janganlah dia berteriak dan menyeru manusia (untuk menolongnya), sebab menyeru kepada manusia adalah kesyirikan." Guru tersebut telah menghilangkan "pengambilan sebab" dan telah menganggap Umar tidak memahami tauhid karena telah mengambil sebab yang menurut guru tersebut hal itu adalah kesyirikan. (lihat al-qoul al-baligh hal-47-48)

Syirik dan khurafat yang terdapat dalam kitab "Tablighi Nishab" (Manhaj Jamaah Tabligh).

Didalamnya terdapat :

1. Tawaasul dengan Nabi

2. Berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah

3. Meminta syafaat kepada selain Allah.

4. Berlebih-lebihan terhadap orang shalih.

5. Wihdatulwujud.

6. Hikayat khurafat.

7. Ajaran-ajaran Shufiyah yang sesat.

8. Hadits-hadits Dhoif, Dusta dan Palsu.

Fatwa terakhir Syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahumallah

Dalam buku yang berjudul Jilaaul Adzhan karangan Ghulam Musthafa Hasan dicantumkan fatwa-fatwa syaikhaini yang isinya adalah dukungan dan rekomendasi bagi gerakan Jamaah Tabligh ini. Namun sangat disayangkan penulis buku tersebut tidak mencantumkan fatwa terakhir dari kedua Syaikh tersebut. Selayaknya ia mencantumkan fatwa syaikh yang memansukhkan (menghapus) fatwa sebelumnya, karena hal itu merupakan tuntutan amanah ilmiyah. Sehingga tidak timbul anggapan bahwa rekomendasi dari syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim masih tetap berlaku! Kedua fatwa itu adalah sebagai berikut:

Fatwa terakhir Syaikh Muhammad Bin Ibrahim

Dari Muhammad bin Ibrahim kepada Hadrat Putera Mahkota Kerajaan Al-Amir Khalid bin Su'ud, Ketua Dewan Kerajaan Yang Terhormat.

As-Salamu 'Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu

Saya telah menerima surat dari yang Mulia nomor 37/4/5 dengan tanggal 21/1/1382H, yaitu permintaan dari Muhammad bin Abdul Hamid dan Syah Ahmad Nurani dan Abdussalam Al-Qadiri dan Su'uud Ahmad Dahlawi kepada Paduka Raja yang Mulia, tentang permintaan bantuan untuk proyek Jam'iyyah mereka yang bernama Kuliyyatud-Dakwah Wat-Tablighil-Islamiyyah demikian pula tentang tiga buah kitab yang disertakan bersama surat mereka. Saya jelaskan kepada yang Mulia bahwa Jam'iyyah ini tidak ada kebaikan padanya sebab ia adalah jam'iyyah bidah lagi sesat. Setelah membaca ketiga buku yang disertakan tersebut kami mendapatkan ketiga kitab itu penuh dengan kesesatan dan bidah dan ajakan kepada penyembahan kuburan dan syirik serta banyak lagi perkara yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Oleh karena itu kami akan membantahnya InsyaAllah dan menyingkap kesesatan seta memberantas kebathilannya. Allah pasti menolong Agama-Nya dan meninggikan Kalimat-Nya

As-Salamu 'Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

29/1/1382H

(Adapun surat Syaikh Muhammad bin Ibrahim kepada para ulama di Al-Ahsa' dan Kawasan Timur yang isinya adalah permohonan agar memberikan bantuan kepada Jamaah Tabligh tertanggal 19/5/1373H yaitu 9 tahun sebelumnya.)

Fatwa terakhir Syaikh Bin Baz yang dikeluarkan pada tahun 1416 H

Ada yang bertanya kepada Syaikh sebagai berikut:

Wahai Syaikh yang Mulia, kami sering mendengar tentang Jamaah Tabligh dan dakwah yang mereka sebarkan, Bolehkah saya ikut berkecimpung dalam Jamaah ini ? Saya mohon nasehat dan pengarahan dari Anda semoga Allah membalas Anda dengan Pahala yang besar

Jawab :

Setiap Orang yang menyeru kepada Agama Allah maka ia adalah Muballigh. (Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat). Akan tetapi Jamaah Tabligh dari India yang sudah dikenal ini, terdapat khurafat, bidah dan perbuatan syirik pada mereka. Maka tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali seseorang yang memiliki ilmu dengan maksud untuk mengingkari (kemungkaran-kemungkaran mereka) dan memberikan pelajaran kepada mereka. Akan tetapi apabila hanya sekedar khuruj mengikuti mereka maka hal itu tidak boleh , disebabkan khurafat, kesalahan dan minimnya ilmu yang ada pada mereka. Apabila yang khuruj bersama mereka adalah orang alim dan berilmu dalam rangka berdakwah kepada jalan Allah dan memberikan pengarahan dan bimbingan kepada kebaikan serta mengajari mereka sehingga meninggalkan cara mereka yang bahil dan berpegang kepada manhaj ahlu sunnah Wal Jamaah, maka hal itu dibolehkan.(dicuplik dari kaset Ta'qib Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziz bin Baz 'Alaa An-Nadwah)

(Sedangkan surat-surat Syaikh Bin Baz yang berisi rekomendasi bagi Jamaah Tabligh dikelurkan pada tahun 1407 H yaitu 9 tahun sebelumnya).

Khurujnya Jama'ah Tabligh

Syaikh al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam FATAWA AL-IMARATIAH (hal-30) ditanya tentang Jama'ah Tabligh, beliau memberikan jawaban berikut ini:

Dakwah Jama'ah Tabligh adalah dakwah Sufi masa kini yang tidak berpijak pada kitab Allah dan sunnah Rosul-Nya.

Khuruj (keluar untuk berdakwah) yang mereka lakukan dan mereka tentukan selama 3 hari atau 40 hari tidak pernah menjadi amalan generasi Salaf, dan bahkan tidak pernah pula menjadi amalan generasi Khalaf (kaum mataakhirin). Yang mengherankan, mereka keluar untuk tabligh (menyampaikan dakwah), padahal mereka sendiri mengakui bahwa mereka bukanlah ahlinya untuk tabligh.

Tabligh (menyampaikan dakwah) sepantasnya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang yang berilmu, seperti halnya pernah dilakukan oleh Rosulullah ketika mengutus delegasinya yang terdiri dari para shahabat yang alim untuk mengajarkan Islam kepada ummat. Misalnya beliau mengutus Ali bin Abi Tholib seorang diri, mengutus Mu'adz bin Jabal seorang diri (untuk menyampaikan dakwah kepada ummat) dan tidak pernah mengutus serombongan shahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan Rosul tersebut. Sekalipun mereka adalah juga shahabat-shahabat Rosul, namun ilmunya tidak dapat menyamai individu-individu para shahabat yang diutus beliau.

Karena itulah, kami menasehati agar mereka (orang-orang Jama'ah Tabligh) mau belajar dan memperdalam pemahaman mereka tentang agama. Kemudian, dalam kepergiannya ke negeri kafir untuk berdakwah, sesungguhnya mereka menghadapi fitnah yang jelas sekali, padahal tidak mereka memahami bahasa orang-orang kafir tersebut. Di sisi lain , tidak jarang mereka berdalil dengan perkataan :" Lihatlah para sahabat,......mereka ada yang Mekah dan ada pula yang berasal dari Madinah, namun kuburan-kuburan mereka ada yang di negeri Bukhara dan ada yang di negeri Samarkand". (Jika demikian dalil mereka), maka jawabannya adalah betapa inginnya kita seandainya bisa keluar (khuruj) sebagaimana para shahabat dulu telah keluar (khuruj). Mereka keluar untuk berjihad dalam peperangan. Artinya, analogi (pengkiasan) orang-orang Jema'ah Tabligh diatas adalah analogi yang tidak pada tempatnya. Kita tidak mengingkari amar ma'ruf nahi mungkar, tetapi kita mengingkari tanzhim (pengorganisasian dakwah) yang bernama Jama'ah Tabligh ini.

Sesungguhnya ada salah seorang tokoh Jama'ah Tabligh menyusun sebuah risalah. Ketika sampai pada penjelasan kalimat Laa ilaha illa LLah, ia menafsirkannya dengan penafsiran "Tidak ada yang disembah kecuali Allah..". Bagaimana mungkin tidak ada yang disembah selain Allah, padahal berhala-berhala yang disembah (selain Allah) jumlahnya banyak sekali. Para ulama menafsirkan kalimat tersebut dengan :"Tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah". Kalau yang disembah secara tidak benar, (maka jumlahnya banyak ). Lata disembah, Uzza disembah, Manat disembah, Api disembah dan seterusnya..."

Tentang Jamaah Tabligh

Jumat, 19/06/2009 10:34 WIB | email | print | share

Assalamu'alaikum wr.wb.

Ustadz, saya ingin menanyakan tentang Jama'ah Tabligh (Jama'ah Kebon jeruk ).

1. Apa ada dasarnya dari Rasulullah tentang cara kerja Jama'ah Tabligh ?

2. Saya pernah buka di internet tentang jamaah ini, makin banyak dibaca makin membingungkan saya, mana yang benar apakah Kelompok ini betul banyak bid'ahnya, karena mereka selalu mendengungkan pengikut dan pengamal sunnah Rasulullah ?

3. Saya pernah ikut sekali keluar (khuruj) 3 hari, apakah kalau saya keluar dari jama'ah ini saya berdosa ?

4. Apakah ada Fatwa MUI tentang Jamaah ini ?

Terima kasih banyak sebelumnya atas jawaban Ustadz, semoga kita selalu mendapat hidayah dari Allah swt. amiin.

HAmba Allah
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Jama’ah Tabligh lebih dekat kepada jama’ah pemberi nasehat atau arahan kepada kaum muslimin untuk melakukan berbagai keutamaan amal. Jama’ah ini juga meminta kepada para anggotanya agar menyediakan waktu khusus untuk “khuruj” atau keluar melakukan suatu perjalanan menyampaikan da’wah di tengah-tengah manusia dan bercampur dengan mereka di masjid-masjid, club-club, atau tempat-tempat kerja mereka.

Jama’ah Tabligh (JT) ini didirikan di Benua India oleh Muhammad Ilyas bin Syeikh Muhammad Ismail yang bermadzhab Hanafi. Beliau dilahirkan pada tahun 1303 H dan wafat pada tahun 1364 H.

Muhammad Ilyas mendasarkan pembentukan jama’ah yang menekankan da’wahnya pada tabligh (penyampaian) ini pada firman Allah swt :

نتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ


Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imron : 110)

Menurutnya makna “ukhrijat” adalah hendaknya kamu keluar untuk rihlah (wisata) dan menyampaikan da’wah kepada manusia.

Prinsip-prinsip Jama’ah Tabligh :
1. Kalimat Thayyibah : Laa Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah.
2. Mendirikan Shalat.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang di jalan Allah

Didalam mencapai 6 tujuan tersebut, JT menggunakan saran-sarana sebagai berikut :

1. Nasehat dan Arahan

Mereka yang telah menjadi anggota JT menyampaikan ceramah di masjid-masjid tertentu yang mempunyai hubungan dengan JT. Setelah ceramah, hadirin diminta menyisihkan sedikit waktu untuk jama’ah. Ukuran waktu ini ditetapkan sesuai dengan situasi dan kondisi para penyambut ajakan mereka. Penentuan waktu dimulai dari 6 bulan, 40 hari, 20 hari, satu pekan hingga 3 hari. Nama-nama peminat didaftarkan dan dihadapannya telah terbentang waktu da’wah yang telah ditetapkan untuk dirinya sesuai dengan situasi dan kondisinya.

2. Rihlah (perjalanan) atau Siyahah (Wisata)

Sasaran dari rihlah ini adalah tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi oleh JT sebelumnya. Waktu lamanya rihlah disesuaikan dengan kesediaan para peserta. Kelompok rihlah ini dinamakan dengan kafilah tabligh dengan dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut amir. Biayahrihlah ini ditanggung oleh seluruh anggota kafilah.

Amir kafilah membagi para anggotanya menjadi tiga kelompok : ada yang bertugas menyampaikan ceramah dan nasehat, ada yang ditugaskan membersihkan masjid atau tempat yang disinggahi kafilah dan dari mereka ada yang ditugasi berkeliling ke rumah-rumah penduduk meminta mereka mendengarkan nasehat dan arahan. Isi nasehat dan arahan difokuskan pada keutamaan amal, targhib (kabar gembira), tarhib (ancaman) atau membangktikan kasih saying.

Husein bin Muhammad bin Ali Jabir mengutip tesis dari Muhammad Aslam, seorang pimpinan militer Pakistan yang belajar ilmu agama dan diterima di Jamiah Islamiyah Fakultas Syari’ah dan telah memrampungkan studinya tahun 1398 – 1399 H, yang mengatakan bahwa pemikiran dan ajaran dari Jama’ah Tabligh adalah :

1. Keharusan bertaklid sebab syarat-syarat ijtihad yang dikemukakan para ulama salaf sudah tidak ada lagi di kalangan ulama saat ini.

2. JT meyakini bahwa tasawwuf adalah cara untuk mewujudkan hubungan dengan Allah dan memperoleh kelezatan iman. Tasawwuf adalah tolak ukur bagi JT untuk mengukur ketaatan anggota kepada jama’ah.

3. JT tidak memandang perlu nahi munkar.dengan alasan bahwa fase sekarang menurut mereka adalah fase mewujudkan iklim yang kondusif bagi masuknya kaum muslimin ke dalam jama’ah mereka sedangkan amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan penghalang bagi fase ini.

4. Mereka tidak memandang bahwa keluar dari 6 ajaran diatas yang telah digariskan Muhammad Ilyas sebagai keluar dari islam tetapi sebagai keluar dari strategi JT.

5. Melarang anggota JT memperluas dan mendalami aliran-aliran filsafat yang berkembang dalam masyarakat sekitar kita.

6. Mereka memisahkan antara agama dan politik. Setiap anggota tidak berhak mengkaji politik atau terjun dalam urusan yang berhubungan dengan pemerintahan. Atas dasar itu, mereka tidak terlibat dalam Front Oposisi Pakistan.

7. Mereka memandang tidak wajib seorang anggota berda’wah di negeri tempat tinggalnya, namun setiap anggota yang tinggal di satu kota tertentu wajib berda’wah di kota lain. Alasan yang digunakan adalah firman Allah,”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia..” (QS. Al Imron : 104) yang dimaksud ayat itu adalah keluar dari negerinya. (Menuju Jama’atul Muslimin hal 310 – 319)

Tentang tujuan, sarana maupun pemikiran Jama’ah Tabligh ini memang banyak mengundang pertanyaan dan komentar para ulama diantaranya :

1. Mengapa tujuan da’wahnya hanya dibatasi pada 6 prinsip saja?

2. Mengapa ijtihad dilarang kepada setiap anggotanya? bukankah persoalan-persoalan manusia terus berkembang dan menuntut solusi yang tidak menyimpang dari hukum agama?

3. Mengapa Nahi Munkar (mencegah kemunkaran) menjadi sesuatu yang dilarang? Bukankah nahi munkar senantiasa menyertai amar ma’aruf dan merupakan bagian dari perintah agama yang harus ditegakkan dan hal ini diperkuat oleh berbagai dalill baik Al Qur’an maupun Sunnah?

4. Mengapa terjadi pemisahan antara agama dan politik? Bukankah islam adalah agama yang mencakup seluruh sendi kehidupan termasuk didalamnya politik? Bukankah kekhilafahan yang pernah dibangun oleh para khulafaur Rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya adalah penerapan aspek politik islam? Dan bagaimana umat akan bisa mengembalikan khilafah jika mereka mengharamkan politik!

Meskipun tampak adanya parsialisasi didalam da’wahnya akan tetapi tidak dinafikan bahwa Jama’ah Tabligh pun telah memainkan peranan penting didalam da’wah-da’wahnya di dunia islam, seperti kesaksian Muhammad Aslam yang mengatakan,”Perlu dikemukakan satu hal penting yang tidak diingkari siapa pun bahwa jama’ah ini telah memainkan peranan yang sangat menonjol dalam memperbaiki manusia. Banyak orang yang bertaubat dari kefasikan dan maksiat serta kembali pada kebajikan berkat usaha gigih dari jama’ah ini. Mereka para pejuang da’wah JT tidak henti-hentinya berda’wah siang dan malam untuk menyelamatkan umat manusia dari kesesatan, mengarahkan mereka kepada cahaya dan petunjuk.”

Beliau melanjutkan kesaksiannya bahwa JT adalah satu-satunya jama’ah yang mampu menebar da’wah islam ke seluruh penjuru negeri, bahkan sampai ke negeri komunis dan Israel. JT adalah jama’ah yang mengembalikan kehidupan masjid yang selama beberapa abad telah ditutup pintunya, kemudian ditunaikan shalat di dalamnya serta menjadi tempat berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an setelah masjid-masjid ini lama ditinggalkan. Jama’ah ini telah membangkitkan hasrat penduduk negeri untuk membangun masjid.

Adapun tentang boleh tidaknya keluar dari jama’ah ini maka pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk melakukan pembai’atan kepada salah seorang amir atau imam dari jama’ah minal muslimin pada saat ini dikarenakan ketidakberadaan jama’atul muslimin.

Sehingga apabila seseorang meyakini bahwa jama’ah tempat dirinya berada sudah tidak sesuai atau tidak bisa lagi dipakai sebagai kendaraan baginya untuk meraih cita-citanya dikarenakan kekurangan yang ada didalamnya maka dibolehkan baginya untuk keluar darinya dan mencari jama’ah lainnya yang diyakini lebih baik. Untuk lebih jelasnya bisa baca “Hukum Berhenti Dari Jama’ah”

Wallahu A’lam

Mudzakarah 6 Sifat Shahabat

Allah SWT meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat hanyalah pada agama Islam yang sempurna. Agama Islam yang sempurna adalah agama yang dibawa oleh Rasululloh SAW. Meliputi Iman, Ibadah, Muamalah, Muasyarat dan Ahlaq. Pada saat ini umat islam tidak ada kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan agama secara sempurna. Para sahabat RA telah sukses dan jaya dalam mengamalkan agama secara sempurna karena mereka memiliki sifat-sifat dasar yang terkandung dalam enam sifat sahabat yang meliputi, 1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah” 2. Sholat khusyu’ dan khudlu’ 3. Ilmu ma’adzikir 4. Ikromul Muslimin 5. Tashihun niat 6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah. Enam sifat sahabat RA tersebut bukan merupakan wujud agama yang sempurna, karena agama yang sempurna terkandung dalam al qur’an dan al hadits, tetapi apabila enam sifat para sahabat tersebut ada dalam diri kita maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkan agama secara sempurna.
1.Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah“.
Arti : Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt. Dan Baginda Muhammad Saw. Adalah utusan Allah.
Maksud Laa ilaha illallah
Mengeluarkan keyakinan pada mahluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah Swt. Di dalam hati.
Fadhilah :
1. Barang siapa yang mati sedangkan dia yakin tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt., maka dijamin masuk surga.
2. Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan hatinya membenarkan lisannya, maka dipersilahkan masuk surga dari pintu mana yang dia suka.
3. Sekecil-kecil iman dalam hati maka akan Allah berikan surga yang luasnya 10 kali dunia.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya iman yakin.
2. Latihan dengan cara memperbanyak halaqoh-halaqoh / majlis iman yakin (bicara atau dengar).
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat iman dan yakin.
Maksud Muhammadarrasulullah
Meyakini hanya satu-satunya jalan untuk mencapai kejayaan dunia dan akherat hanya dengan cara ikut sunnah Rasulullah Saw.
Fadhilah :
1. Rasulullah Saw. bersabda, Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Aku (Muhammad) sebagai utusan Allah.
2. Rasulullah Saw. bersabda barang siapa yang berpegang teguh dengan sunnahku dikala rusaknya ummatku maka baginya pahala 100 orang mati syahid.
3. Rasulullah Saw. Bersabda barang siapa menghidupkan sunnahku sungguh dia cinta padaku, dan barangsiapa yang cinta padaku maka akan bersamaku didalam surga.
Cara mendapatkan :
1.Dakwahkan pentingnya menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.
2.Latihan , yaitu dengan cara menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Dalam kehidupan kita selama 24 jam.
3.Berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghidupkan sunnah.
2.Sholat khusyu’ dan khudlu’
Arti : Shalat dengan konsentrasi batin dan merendahkan diri dengan mengikut cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Maksud Shalat Khusu dan Khudu
Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah Swt didalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
2. Allah berfirman : Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
3. Rasulullah Saw. Bersabda : shalat adalah milahnya orang beriman.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya shalat
2. Latihan dengan cara :
a. Memperbaiki dhahirnya shalat.
b. Menghadirkan keagungan Allah
c. Belajar menyelesaikan masalah dengan shalat
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat shalat khusyu dan khudu.

3.Ilmu ma’adzikir
Arti Ilmu : Semua petunjuk yang dating dari Allah Swt melalui Baginda Rasulullah Saw.
Arti Dzikir: Mengingat Allah sebagaimana agungnya Allah.
Maksud Ilmu ma’adzikir
Mengamalkan perintah Allah Swt. Pada setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan keagungan Allah didalam hati dan ikut cara Rasulullah Saw.
Fadhilah Ilmu:
1. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka akan Allah fahamkan dirinya pada masalah agama.
2. Barangsiapa berjalan mencari ilmu maka akan Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.
3. Barangsiapa mempelajari satu ayat Al Quran maka nilainya adalah lebih baik daripada shalat sunnah 100 rakaat. Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu maka lebih baik nilainya daripada shalat sunnah 1000 rakaat.
Fadhilah Dzikir:
1. Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dibandingkan dengan orang yang mati.
2. Allah berfirman : Dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.
3. Allah berfirman : Ingatlah pada Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu.
Cara mendapatkan ilmu fadhail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu fadhail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh fadhail di masjid dan di rumah.
b. Ajak manusia untuk duduk dalam halaqoh fadhail
c. Hadirkan fadhail dalam setiap amalan .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu fadhail.
Cara mendapatkan ilmu masail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu masail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh masail dengan para alim ulama.
b. Bertanya kepada ulama baik untuk masalah agama maupun dunia.
c. Sering berziarah kepada para alim ulama .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu masail.
Cara mendapatkan dzikir :
1. Dakwahkan pentingnya dzikir kepada Allah Swt.
2. Latihan dengan cara :
a. Setiap hari membaca Al Quran (usahakan 1 juz).
b. Membaca tasbihat, shalawat dan istigfar masing-masing 100 X.
Ketika membaca tasbihat maka hadirkan kemahasucian Allah
Ketika membaca shalawat maka ingat jasa-jasa Rasulullah kepada kita.
Ketika membaca istigfar maka hadirkan sifat Maha Pengampunnya Allah.
c. Amalkan doa-doa masnunah (harian) .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dzikir.

4. Ikromul Muslimin
Arti : Memuliakan sesame orang islam / muslim.
Maksud ikramul muslimin
Menunaikan hak-hak semua orang islam tanpa meminta hak daripadanya.
Fadhilah :
1. Allah akan menolong seorang hamba selagi dia menolong saudaranya.
2. Barang siapa menutup aib saudaranya yang muslim maka Allah akan menutup aibnya dan barang siapa membuka aib saudaranya yang muslim maka Allah akan membuka aibnya sampai dia akan dipermalukan di rumahnya sendiri.
3. Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikram
2. Latihan dengan cara :
a. Memberi salam kepada orang yang kita kenal ataupun yang tidak kita kenal.
b. Menyayangi yang muda, menghormati yang tua, memuliakan uloama dan menghormati sesama.
c. Berbaur dengan semua orang yang berbeda-beda wataknya.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan ahlaq sebagaimana ahlaq Baginda Rasulullah Saw.

5. Tashihun niat
Arti : Membetulkan / meluruskan niat
Maksud tashihun niat
Membersihkan niat pada setiap amalan semata-mata karena Allah Swt.
Fadhilah :
1. Sesungguhnya Allahtidak akan menerima amalan seseorang kecuali dengan ikhlas.
2. Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupamu dan hartamu tetapi Dia akan memandang pada hatimu dan amalanmu.
3. Baginda Rasulullah Saw. Bersabda : Wahai Muadz jagalah keihklasan karena amal yang ikhlas walau sedikit akan mencukupi.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikhlas.
2. Latihan dengan cara : setiap beramal periksa niat kita, sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal, bersihkan niat agar semata-mata hanya karena Allah.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ikhlas dalam beramal.

6. 6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah
Arti : Dakwah mengajak, Tabligh menyampaikan dan khuruj fisabilillah adalah keluar di jalan Allah.
Maksud
1. Memperbaiki diri, yaitu bagaimana agar dapat menggunakan harta diri dan waktu sebagaimana yang diperintahkan Allah.
2. Menghidupkan agama secara sempurna pada diri sendiri dan semua manusia diseluruh alam dengan menggunakan harta dan diri sendiri.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : dan adakah yang perkataannya lebih baik daripada seseorang yang mengajak manusia kepada Allah.
2. Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk kebaikan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkan.
3. Sepagi sepetang dijalan Allah lebih baik daripada mendapatkan dunia dan seisinya.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya dakwah dan tabligh.
2. Latihan dengan cara : keluar dijalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 h setiap tahun, 3h setiap bulan dan 2,5 jam setiap hari. Tingkatkan dengan cara bertahap-tahap menjadi 4 bl tiap tahun, 10h tiap bulan dan 8 jam setiap hari.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dakwah dan tabligh yaitu dapat menggunakan harta, diri dan waktu untuk kepentingan agama.

Riwayat Hidup Maulana Muhammad Ilyas rah.a.[1]

Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy lahir pada tahun 1303 H. (1886) di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India. Ayahnya bernama Syaikh Ismail dan Ibunya bernama Shafiyah Al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama dan memiliki sifat wara’. Saudaranya antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad Yahya. Sementara Maulana Muhammad Ilyas adalah anak ketiga dari tiga bersaudara ini.

Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada kakeknya Syaikh Muhammad Yahya, beliau adalah seorang guru agama pada madrasah di kota kelahirannya. Kakeknya ini adalah seorang penganut mazhab Hanafi dan teman dari seorang ulama dan penulis Islam terkenal, Syaikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi yang merupakan seorang direktur pada lembaga Dar Al-‘Ulum di Lucknow, India[2]. Ayah beliau Syaikh Muhammad Ismail adalah seorang ruhaniawan besar yang suka menjalani hidup dengan ber’uzhlah, berkhalwat dan beribadah, membaca Al-Qur’an dan melayani para musafir yang datang dan pergi serta mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama.

Beliau selalu mengamalkan do’a ma’tsur dari hadits untuk waktu dan keadaan yang berlainan. Perangainya menyukai kedamaian dan keselamatan serta bergaul dengan manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, tidak seorangpun meragukan dirinya. Bahkan beliau menjadi tumpuan kepercayaan para ulama sehingga mampu membimbing berbagai tingkat kaum muslimin yang terhalang oleh perselisihan di antara mereka. Adapun ibunda beliau Shafiyah Al-Hafidzah adalah seoarang Hafidzah Al-Qur’an. Istri kedua dari Syaikh Muhammad Ismail ini selalu menghatamkan Al-Qur’an, bahkan sambil bekerjapun mulutnya senantiasa bergerak membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia hafal.

Maulana Muhammad Ilyas sendiri mulai mengenal pendidikan pada sekolah Ibtidaiyah (dasar). Sejak saat itulah beliau mulai menghafal Al-Qur’an, hal ini di sebabkan pula oleh kebiasaan yang ada dalam keluarga Syaikh Muhammad Ismail yang kebanyakan dari mereka adalah hafidzh Al-Qur’an. Sehingga diriwayatkan bahwa dalam shalat berjama’ah separuh shaff bagian depan semuanya adalah hafidzh terkecuali muazzin saja. Sejak kecil telah tampak ruh dan semangat agama dalam dirinya, beliau memilki kerisauan terhadap umat, agama dan dakwah. Sehingga ‘Allamah Asy-Syaikh Mahmud Hasan yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (guru besar ilmu hadits pada madrasah Darul ‘Ulum Deoband) mengatakan, “sesungguhnya apabila aku melihat Maulana Ilyas aku teringat akan kisah perjuangan para sahabat”.

Pada suatu ketika saudara tengahnya, yakni Maulana Muhammad Yahya pergi belajar kepada seorang ‘alim besar dan pembaharu yang ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, di desa Gangoh, kawasan Saranpur, Utar Pradesh, India. Maulana Muhammad Yahya belajar membersihkan diri dan menyerap ilmu dengan bimbingan Syaikh Rasyid. Hal ini pula yang membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik untuk belajar pada Syaikh Rasyid sebagaimana kakanya. Akhirnya Maulana Ilyas memutuskan untuk belajar agama menyertai kakaknya di Gangoh. Akan tetapi selama tinggal dan belajar di sana Maulana Ilyas selalu menderita sakit. Sakit ini ditanggungnya selama bertahun-tahun lamanya, tabib Ustadz Mahmud Ahmad putra dari Syaikh Gangohi sendiri telah memberikan pengobatan dan perawatan pada beliau.

Sakit yang dideritanya menyebabkan kegiatan belajarnyapun menurun, akan tetapi beliau tidak berputus asa. Banyak yang menyarankan agar beliau berhenti belajar untuk sementara waktu, beliau menjawab, ”apa gunanya aku hidup jika dalam kebodohan”. Dengan ijin Allah SWT, Maulana pun menyelesaiakan pelajaran Hadits Syarif, Jami’at Tirmidzi dan Shahih Bukhari, dan dalam jangka waktu empat bulan beliau sudah menyelesaikan Kutubus Sittah[3]. Tubuhnya yang kurus dan sering terserang sakit semakin membuat beliau bersemangat dalam menuntut ilmu, begitu pula kerisauannya yang bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh dari Syari’at Islam.

Ketika Syaikh Gangohi wafat pada tahun 1323 H, beliau baru berumur dua puluh lima tahun dan merasa sangat kehilangan guru yang paling dihormati. Hal ini membuatnya semakin taat beribadah pada Allah. Beliau menjadi pendiam dan hanya mengerjakan ibadah, dzikir, dan banyak mengerjakan amal-amal infiradi[4].





Maulana Muhammad Zakariya menuliskan:

Pada waktu aku mengaji sebuah kitab kepada beliau, aku datang padanya dengan kitab pelajaranku dan aku menunjukkan tempat pelajaran dengan jari kepadanya. Tetapi apabila aku salah dalam membaca, maka beliau akan memberi isyarat kepadaku dengan jarinya agar menutup kitab dan menghentikan pelajaran. Hal itu beliau maksudkan agar aku mempelajari kembali kitab tersebut, kemudian datang lagi pada hari berikutnya[5].

Beliau akhirnya berkenalan dengan Syaikh Khalid Ahmad As-Sharanpuri penulis kitab Bajhul Majhud Fi Hilli Alfazhi Abi Dawud dan akhirnya beliau berguru kepadanya. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki membuat beliau semakin tawaddu'. Ketawaddu'an beliau di usia mudanya menyebabkan beliau dihormati di kalangan para Ulama dan Masyaikh. Syaikh Yahya, kakak kandung beliau sendiri tidak pernah memperlakukan beliau sebagai anak kecil, bahkan Syaikh Yahya sangat menghormati beliau.

Pada suatu ketika di Kandhla ada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh ulama-ulama besar, di antaranya terdapat nama Syaikh Abdurrahman Ar-Raipuri, Syaikh Khalil Ahmad As-Sharanpuri, dan Syaikh Asyraf Ali At-Tanwi. Waktu itu tiba waktu sholat Ashar, mereka meminta Maulana Ilyas untuk mengimami sholat tersebut. Ustadz Badrul Hasan salah seorang di antara keluarga besar tersebut berkata, “alangkah panjang dan beratnya kereta api ini, namun alangkah ringan lokomotifnya”, kemudian salah seorang diantara hadirin menjawab,” tetapi lokomotif yang kuat itu justru karena ringannya”.

Akibat kematian kakaknya, Maulana Muhammad Yahya, pada 9 Agustus 1925, beliau mengalami goncangan batin yang cukup berat. Dua tahun setelah itu, menyusul kakaknya yang tertua, Maulana Muhammad. Beliau meninggal di Masjid Nawab Wali, Qassab Pura dan dimakamkan di Nizamuddin. Kematian Maulana Muhammad ini mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Beribu orang menziarahi jenazahnya. Setelah dimakamkan orang ramai meminta kepada Maulana Ilyas untuk menggantikan kakaknya di Nizamuddin padahal pada waktu itu beliau sedang menjadi salah seorang pengajar di Madrasah Mazhahirul ‘Ulum. Masyarakat bahkan menjanjikan dana bulanan kepada madrasah dengan syarat agar dapat diamalkan seumur hidupnya. Pada akhirnya, setelah mendapat ijin dari Maulana Khalil Ahmad dengan pertimbangan jika tinggalnya di Nizamuddin membawa manfaat maka Maulana Ilyas akan diberi kesempatan untuk berhenti mengajar. Beliau pun akhirnya pergi ke Nizamuddin, ke madarasah warisan ayahnya yang kosong akibat lama tidak dihuni. Dengan semangat mengajar yang tinggi beliaupun akhirnya membuka kembali madrasah tersebut.

Karena semangat yang tinggi untuk memajukan agama, beliaupun mendirikan Maktab di Mewat, tetapi kondisi geografis yang agraris menyebabkan masyarakatnya lebih menyukai anak-anak mereka pergi ke kebun atau ke sawah daripada ke Madrasah atau Maktab untuk belajar agama, membaca atau menulis. Dengan demikian Maulana Ilyas dengan terpaksa meminta orang Mewat untuk menyiapkan anak-anak mereka untuk belajar dengan pembiayaan yang ditanggung oleh Maulana sendiri. Besarnya pengorbanan Maulana hanya untuk memajukan pendidikan agama bagi masyarakat Mewat tidak mendapatkan perhatian. Bahkan mereka enggan menuntut ilmu, mereka senang hidup dalam kondisi yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun turun temurun.

Beliau melihat bahwa kebodohan, kegelapan dan sekularisme yang melanda negerinya sangat berpengaruh terhadap madrasah-madrasah. Para murid tidak mampu menjunjung nilai-nilai agama sebagaimana mestinya, sehingga gelombang kebodohan semakin melanda bagaikan gelombang lautan yang melaju deras sampai ratusan mil membawa mereka hanyut. Tetap saja masyarakat masih belum memiliki semangat agama. Kebanyakan mereka tidak begitu berminat untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar ilmu di Madrasah. Hal ini disebabkan mereka tidak tahu pentingnya ilmu agama, mereka pun tidak menaruh hormat pada lulusan Madrasah yang telah memberikan penerangan dan dakwah. Orang Mewat pun tidak mau mendengarkan apalagi mengikutinya. Kesimpulannya bahwa Madrasah-madrasah yang ada itu tidak mampu mengubah warna dan gaya hidup masyarakat[6].

Melihat keadaan Mewat yang sangat jahil itu semakin menambah kerisauan beliau akan keadaan umat Islam terutama masyarakat Mewat. Kunjungan-kunjungan diadakan bahkan madrasah-madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat Mewat. Dengan ijin Allah timbullah keinginannya untuk mengirimkan jama’ah dakwah ke Mewat. Pada tahun 1351 H/1931 M, beliau menunaikan haji yang ketiga ke tanah suci Makkah. Kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab guna mengenalkan usaha dakwah dan dengan harapan agar usaha ini dapat terus dijalankan di tanah Arab. Keinginannya yang besar menyebabkan beliau berkesempatan menemui Sultan Ibnu Sa’ud yang menjadi raja tanah Arab untuk mengenalkan usaha mulia yang dibawanya. Selama di tanah Makkah Jama’ah bergerak setiap hari sejak pagi sampai petang, usaha dakwah terus dilakukan untuk mengajak orang taat kepada perintah Allah dan menegakkan dakwah.

Setelah pulang dari haji tersebut, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai Jama’ah dengan jumlah yang cukup besar, paling sedikit seratus orang. Bahkan di beberapa tempat jumlah itu justru semakin membengkak. Kunjungan pertama dilakukan selama satu bulan dan kunjungan ke dua dilakukan hanya beberapa hari saja. Dalam kunjungan tersebut beliau selalu membentuk jama’ah-jama’ah yang dikirim ke kampung-kampung untuk berjaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama[7]. Beliau sepenuhnya yakin bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan. Adapun satu-satu jalan adalah membujuk orang-orang Mewat agar keluar dari kampung halamannya untuk memperbaiki diri dan belajar agama, serta melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga tumbuh kesadarannya untuk mencintai agama lebih daripada dunia dan mementingkan amal dari mal (harta).

Dari Mewat inilah secara berangsur-angsur usaha tabligh meluas ke Delhi, United Province, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar, Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah lainnya. Begitu juga di bandar-bandar pelabuhan banyak jama’ah yang tinggal dan terus bergerak menuju tempat-tempat yang ditargetkan sepeti halnya daerah Asia Barat[8]. Terbentuknya jama’ah ini adalah dengan ijin Allah melalui kerisauan seorang Maulana Muhammad Ilyas, menyebarlah jama’ah-jama’ah yang membawa misi ganda yaitu ishlah diri (perbaikan diri sendiri) dan mendakwahkan kebesaran Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Perkembangan jama’ah ini semakin hari semakin tampak. Banyak jama’ah yang dikirim dari tempat-tempat yang dikunjungi jama’ah pun ada yang kemudian membentuk rombongan jama’ah baru sehingga silaturrahim antara kaum muslimin dengan muslim yang lain dapat terwujud. Gerakan jama’ah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi sedikit telah menyebar ke barbagai negara. Hanya kekuasaan Allah yang dapat memakmurkan dan membesarkan usaha ini.

Kerisauan akan keadaan umat semakin bertambah, jama’ah-jama’ah banyak dibentuk dan dikirim ke pelosok jazirah. Sehingga dengan ijin Allah usaha ini pun semakin meluas. Maulana Muhammad Ilyas tanpa henti terus memberi dorongan dan arahan ilmu dan pemikirannya untuk menjalankan usaha dakwah ini agar sampai ke seluruh alam. Dalam keadaan umur yang tua renta, Maulana terus bersemangat hingga tubuhnya yang kurus tidak mampu lagi untuk digerakkan ketika beliau menderita sakit. Pada hari terakhir dalam sejarah hidupnya Maulana mengirim utusan kepada Syaikhul Hadits Maulana Zakariya, Maulana Abdul Qodir Raipuri, dan Maulana Zafar Ahmad, bahwa beliau akan mengamanahkan kepercayaan sebagai amir jama’ah kepada sahabat-sahabatnya seperti Hafidz Maqbul Hasan, Qozi Dawud, Mulvi Ihtisamul Hasan, Mulvi Muhammad Yusuf, Mulvi Inamul Hasan, Mulvi Sayyid Raza Hasan. Pada saat itu terpilihlah Mulvi Muhammad Yusuf sebagai pengganti Maulana Muhammad Ilyas dalam memimpin usaha
dakwah dan tabligh[9].

Pada sekitar bulan Juli 1944 beliau jatuh sakit yang cukup parah, beliau hanya berbaring di tempat tidur dengan ditemani para pembantu dan muridnya. Kondisi tubuhnya yang telah lemah merupakan bukti nyata bahwa beliau bersungguh-sungguh menghabiskan waktu berdakwah Khuruj Fi Sabilillah mengembara dari satu tempat ke tempat lain bersama dengan Jama’ah untuk mendakwahkan kebesaran Allah dan kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah.

Pada tanggal 13 Juli 1944, Maulana telah siap untuk menempuh perjalanannya yang terakhir. Beliau bertanya kepada salah seorang yang hadir, “apakah besok hari Kamis?”, yang di sekelilingnya menjawab,”benar”, kemudian beliau berkata lagi, “periksalah pakaianku, apakah ada najisnya atau tidak”, yang disekelilingnya berkata bahwa pakaian yang dikenakannya masih dalam keadaan suci. Kemudian beliau turun dari dipan, berwudlu dan mengerjakan sholat Isya’ dengan berjama’ah. Beliau berpesan kepada orang-orang agar memperbanyak dzikir dan do’a pada malam itu. Beliau berkata,”yang ada di sekelilingku ini pada hari ini hendaklah menjadi orang-orang yang dapat membedakan antara perbuatan setan dan perbuatan malaikat Allah”.


Pada pukul 24.00 beliau pingsan dan sangat gelisah, dokter segera dipanggil dan obat pun segera diberikan, kata-kata Allahu Akbar terus keluar dari mulutnya ketika malam telah menjelang pagi, beliau mencari putranya Maulana Muhammad Yusuf dan Maulana Ikromul Hasan ketika dipertemukan beliau berkata,” kemarilah kalian, aku ingin memeluk, tidak ada lagi waktu setelah ini, sesungguhnya aku akan pergi”. Akhirnya Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, beliau pulang ke rahmatullah sebelum adzan Shubuh. Seorang pengembara yang amat lelah yang mungkin tidak pernah tidur dengan tenang, kini sampai ke tempat tujuannya. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan di ridhai-Nya. Maka masuklah kamu kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Fajr, 127-128)[10].

Beliau tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikiran beliau dituang dalam lembar-lembar kertas surat yang di himpun oleh Maulana Manzoor Nu’mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah ini. Karya beliau yang paling nyata adalah bahwa beliau telah meninggalkan kerisuaan dan fikir atas umat Islam hari ini serta metode kerja dakwahnya yang atas ijin Allah SWT telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Orang-orang yang mengetahui keadaan umat, Insya Allah akan mengambil jalan dakwah ini sebagai penawar dan obat hatinya, dan akan menjadi sebab hadirnya hidayah bagi dirinya dan orang lain.

Prinsip dan Usaha Membangun Tradisi Dakwah

Dakwah merupakan masalah yang paling penting dalam mengembalikan kejayaan umat Islam. Kesan dakwah pada saat ini tidaklah sepenting yang digariskan, dan seakan sudah tidak ada lagi dalam pikiran orang-orang Islam yang hidup pada zaman ini. Orang-orang Islam mungkin lupa bahwa risalah kenabian dan kerasulan telah ditutup oleh Allah SWT. Sementara agama Islam yang menjadi jalan keselamatan harus sampai kepada generasi terakhir umat manusia yang tidak seorangpun mengetahui kapan berakhirnya. Sering diungkapkan dalam riwayat-riwayat tentang penyakit umat-umat nabi terdahulu yang pada saat ini dapat kita lihat sendiri. Maka menjadi tugas umat Islam sebagai pewaris tugas kenabian untuk mendakwahkan agama Allah SWT hingga generasi terakhir dari peradaban manusia.

Dalam pandangan Maulana Muhammad Ilyas dakwah merupakan kewajiban umat Nabi Muhammad saw. Pada prinsipnya setiap orang yang mengaku mengikuti ajaran Nabi Muhammad tentulah memiliki kewajiban mendakwahkan ajarannya, yaitu agar selalu taat kepada Allah dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah. Menjadikan dakwah sebagai maksud hidup untuk mencapai puncak pengorbanan merupakan tujuan yang harus dicapai setiap individu pendakwah yang mengerti kondisi umat Islam saat ini. Sebagaimana halnya para sahabat nabi yang dalam riwayat banyak dikisahkan tentang pengorbanan mereka terhadap agama Allah SWT, sehingga Allah memberikan kemulian dan kesempurnaan amal agama dan kehidupan yang tidak hanya berdimensi ibadah semata melainkan mencakup semua bidang kehidupan berupa politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Pada awal perkembangannya yang sedemikian terbatas, Islam mampu menguasai belahan dunia pada saat itu dengan menundukkan Romawi dan Persi serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan ke seluruh belahan dunia. Hal ini merupakan bukti tentang besar dan megahnya Islam dengan generasi yang berpegang teguh pada ajarannya. Hal inilah yang dikehendaki Maulana agar dapat terwujud kembali di kalangan umat Islam. Maulana menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwah, mengajarkan prinsip dakwah yang hakiki yakni bahwa setiap diri yang mengaku sebagai umat Islam mempunyai kewajiban dakwah, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Dalam salah satu suratnya yang ditujukan pada Syaikh Muhammad Zakariya, beliau menulis:

Aku ingin agar pikiran, hari, kekuatan dan waktuku hanya aku gunakan demi cita-citaku ini saja. Bagaimana aku dapat bekerja selain dari kerja dakwah dan tabligh, sedangkan aku melihat ruh Nabi saw bersedih akibat perilaku buruk umatnya, lemah agama dan aqidah, merosot dan hina serta tidak adanya kejayaan bahkan telah lama digilas kekufuran[11].

Kerisauan yang mendalam akan keadaan umat inilah yang menyebabkan beliau berkeinginan kuat untuk terus berdakwah mengajak orang taat kepada Allah dan menyampaikan kebesaran Allah dengan manifestasi menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Melalui segala macam usaha yang dilakukan oleh beliau dengan pikiran dan kerisauan akhirnya terbentuklah jama’ah-jama’ah yang berkeinginan mendakwahkan kembali ajaran Nabi Muhammad saw kepada umatnya.

Membebankan kewajiban bertabligh (amar ma’ruf nahi munkar) semata-mata pada kalangan ulama adalah sebagai tanda adanya kebodohan pada diri kita. Tugas ulama adalah mengajarkan ilmu dan menunjukkan jalan yang benar akan pemahaman terhadap agama. Sedangkan memerintahkan berbuat kebajikan di antara khalayak dan mengusahakan supaya mereka menuju jalan yang benar adalah tanggung jawab semua orang Islam[12]. Sementara Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam tulisannya menegaskan:

Laju perjalanan umat Islam saat ini jauh tertinggal di belakang, setelah sebelumnya berada di barisan paling depan. Banyak sebab yang menjadikan kaum muslimin dalam kondisi seperti ini, di antara sebab terpenting adalah ditinggalkannya kewajiban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah. Semua ini berangkat dari kesalahan persepsi umat dalam memandang kewajiban ini. Masih banyak yang memahami bahwa dakwah adalah kewajiban ulama saja, terbatas dalam bentuk ceramah, khutbah dan mau’idzhoh saja. Sementara itu, sebagian dari mereka ada yang memahami dakwah ini merupakan kewajiban yang berlaku atas setiap individu muslim, namun mereka melakukannya tanpa disertai pemahan yang baik terhadap manhaj dakwah nabawiyah dan rambu-rambu Al-Qur’an[13].

Jauh sebelum itu Maulana Muhammad Ilyas telah memikirkan keadaan ini, sehingga keinginannya yang telah bersatu dengan kerisauannya akan kondisi umat Islam yang dilihatnya, membuatnya mencurahkan hidupnya untuk kerja dakwah. Bahkan Maulana Muhammad Ilyas mulai membangun tradisi dakwah yang ia mulai dengan membentuk jama’ah-jama’ah dakwah yang dikirim ke tempat-tempat tertentu, bahkan dipimpin langsung oleh beliau. Dengan tenaga dan kerisauan yang ada beliau berusaha mengenalkan kewajiban dakwah pada umat Islam dan membangun tradisi tersebut agar semua dapat melaksanakan jalan dakwah ini.

Membangun tradisi dakwah diantara kondisi umat yang jauh dari agama, seperti di Mewat tidaklah semudah yang dibayangkan. Dalam keadaan yang penuh dengan kesesatan dan kejahilan masyarakat, Maulana Muhammad Ilyas terpanggil untuk mengajak mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Terlebih lagi masyarakat yang masih kuat memegang syariat agama. Beliau sangat menyadari bahwa Rasulullah bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri, beliau selalu memikirkan umatnya, merisaukan keadaan umatnya di kemudian hari. Sehingga dalam riwayat di beritakan bahwa ketika ajal beliau datang, dengan terbata-bata masih menyebut umatnya. Pikiran itulah yang selalu muncul dalam benak Maulana, bahwa dakwah hari ini adalah bagaimana mengajak umat kembali kepada jalan Allah dan Rasulnya.

Berdasarkan pengalaman dan pemikiran yang panjang, Maulana melihat bahwa para petani Mewat yang miskin tidak mungkin dapat meluangkan waktunya untuk belajar agama, sedangkan mereka masih berada di tengah-tengah lingkungan dengan segala kesibukannya. Bahkan dalam jangka waktu yang pendek yang dapat mereka berikan itu, tidak dapat diharapkan agar mereka dapat memperoleh kesan yang dalam dari ajaran-ajaran agama yang telah mereka peroleh, serta memiliki semangat agama sebagaimana yang diharapkan yang dapat mengubah cara hidup mereka. Sesungguhnya tidak mungkin meminta mereka semuanya untuk ke madrasah. Namun juga tidak tepat berangan-angan bahwa hanya dengan sekedar nasihat dan ceramah akan mengubah kehidupan mereka dari cara-cara jahiliyah kepada cara-cara Islam, baik dalam perangai, tradisi, maupun pola pikir[14].

Peran Maulana Muhammad Ilyas dalam menggerakkan masyarakat Mewat yang jahiliyah itu menyebabkan tumbuhnya suasana agama yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Suasana agama inilah yang diperlukan guna menstimulasi berkembangnya masyarakat yang Islami yang mengikuti kehidupan rasul dan para sahabat. Jama’ah-jama’ah dari masyarakat pun dibentuk untuk dikirim ke beberapa tempat agar dapat memperbaiki diri dalam suasana agama, dengan perbekalan seadanya dan semangat untuk menyebarkan dan mensuasanakan agama.

Datangnya Ramadhan dan cahayanya telah menyinari hati manusia, Maulana Ilyas pun meminta para sahabatnya agar menyiapkan jama’ah untuk dikirim ke Kandhla. Padahal mereka tahu bahwa Kandhla merupakan pusat ilmu dan banyak terdapat rohaniawan. Tentu saja mereka berkeberatan untuk menyampaikan seruan agama tersebut. Apalagi jama’ah itu adalah orang-orang yang bodoh, sungguh ini merupakan suatu yang aneh. Namun akhirnya terbentuklah jama’ah yang terdiri dari sepuluh orang Mewat yang dipimpin oleh Hafidzh Maqbul Hasan. Jama’ah ini bertolak dari Delhi menuju ke Kandhla setelah hari raya. Jama’ah mendapatkan sambutan yang menyenangkan[15].


Jama’ah pertama yang dikirim menyebabkan bertambahnya semangat beliau dalam membangun tradisi dakwah di kalangan masyarakat. Daerah-daerah lain pun mulai dipikirkannya. Gerak jama’ah sangat penting artinya bagi upaya mengubah pola hidup masyarakat. Bagaimanapun keadaannya, beliau tetap berharap dapat mengirimkan jama’ah-jama’ah serupa ke berbagai tempat lainnya. Jama’ah kedua dikirim ke Raipur, kemudian mengadakan ijtima’ (berkumpul bersama) di Chatora hingga terbentuk jama’ah lagi hingga dikirim ke Sonepar, Panipat, dan daerah sekitarnya. Begitulah perkembangan yang terjadi di daerah Mewat dan sekitarnya.

Beliau sepenuhnya meyakini bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan. Adapun satu-satunya jalan keluar adalah membujuk orang-orang Mewat supaya keluar (dari kampung halamannya) guna memperbaiki diri, belajar agama, dan melatih kebiasaan yang baik hingga tumbuh kesadarannya untuk lebih mencintai agama daripada dunia, dan mementingkan amal daripada mal (harta)[16]. Maulana bercita-cita mewujudkan satu generasi yang benar-benar mau berkorban untuk agama, seperti berkorbannya para sahabat dahulu. Jika sehari-hari mereka berkorban waktu, harta, dan diri mereka untuk keduniaan, maka mereka pun harus berusaha untuk berkorban dengan diri, harta dan waktu mereka untuk agama. Menjadi hal yang biasa bahwa segala sesuatu yang diperoleh melalui pengorbanan akan sangat dicintai.

Lambat laun suasana di Mewat semakin berubah. Bahkan perubahan tersebut makin tampak pada cara hidup dan tradisi mereka. Mewat menjadi tanah gembur dan subur yang apabila tanaman dakwah Islamiyah dan pengajaran hukum-hukum agama ditanamkan akan tumbuh, berkembang dan berbuah di tempat tersebut[17]. Perkembangan yang terjadi di Mewat adalah perkembangan yang mengesankan, Mewat yang pada mulanya dilingkupi jahiliyah kini telah berubah menjadi pusat dakwah dan siar agama. Usaha Maulana Muhammad Ilyas yang pertama adalah menanamkan iman dan keyakinan yang benar terhadap Allah SWT dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah. Kemudian beliau menyampaikan keutamaan-keutamaan beramal dan kerugian meninggalkannya serta mengajak umat Islam untuk berkorban menyisihkan diri, harta dan waktunya di jalan Allah.

Sampai akhir hayatnya beliau tetap mencurahkan perhatiannya pada usaha dakwah ini. Bahkan setelah berkembang di India, usaha dakwah ini berkembang ke seluruh dunia. Hingga saat ini negara-negara di beberapa berlahan benua telah memiliki amal jama’ah dakwah. Mereka terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajak manusia kembali kepada tugas utama sebagai hamba Allah yang sudah seharusnya mengabdi dengan segenap jiwa dan raga serta sebagai umat Nabi yang terakhir Muhammad saw yang mempunyai tugas dakwah beramar ma’ruf nahi munkar.

--------------------------------------------------------------------------------

[1]Riwayat Hidup maulana Muhammad Ilyas diambil dari buku karangan Sayyid Abul Hasan Ali-Nadwi, (1999), Riwayat Hidup Dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, Yogyakarta: Ash-Shaff, hlm. 5-18

[2]lihat, H.A. Hafizh Dasuki (et al), (1993), Ensiklopedi Islam Vol. S1-1, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, hlm. 266
[3]Kutubus Sittah berarti kitab yang enam yaitu kitab-kitab hadits yang telah dijadikan standar para ulama dan kaum muslimin untuk menjadi hujjah bagi persoalan-persoalan agama diantaranya adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majjah.

[4]Infiradi berasal dari kata faroda yang dalam bahasa arab berarti sendiri, yang dimaksudkan adalah beramal secara sendiri atau tidak berjama’ah

[5]Sayyid Abul Hasan Ali Nadwi, op. cit., hlm. 14

[6]Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadwi, op. cit., hlm. 39-40

[7]Ibid, hlm. 43-44

[8]Tutus Hendrato, op. cit., hlm. 22-23

[9]Ibid, hlm. 24

[10]Sayyid Abul hasan Ali- Nadwi, op. cit., hlm. 127-128

[11]Ibid, hlm. 145

[12]Maulana Ihtisamul Hasan Kandhalawi, (1998), Keruntuhan Umat Islam Dan Cara Mengatasinya, Yogyakarta: Ash-Shaff, hlm. 23

[13]Sayyid Muhammad Nuh, (1996), Dakwah Fardiyah, Dalam Manhaj Amal Islami, Solo: Citra Islami Press, hlm. 9

[14]Sayyid Abul Hasan Ali-Nadwi, loc. cit., hlm 44

[15]Ibid, hlm. 47

[16] Sayyid Abul Hasan Ali-Nadwi, op. cit., 45-46

[17]Ibid, hlm. 51


BACK
Posted by yahya at 9.48.MD
Subscribe to: Posts (Atom)

STUDI KRITIS PEMAHAMAN JAMA’AH TABLIGH DAN KITAB TABLIGHI NISHAB

Oleh : Abu Salma al-Atsari

SEJARAH SINGKAT
Jama’ah Tabligh didirikan oleh Syaikh Maulana Ilyas bin Syaikh Muhammad Ismail Al-Kandahlawi Al-Hanafi –Rahimahullah- di benua hindia, tepatnya di kota Sahar Nufur. Beliau dilahirkan tahun 1303 H. di lingkungan keluarga yang mengikuti thariqat Al-Jitsytiyyah ash-Shufiyyah. Beliau orang yang hafidz (hafal Qur’an) dan menimba ilmu di Madrasah Diyuband setelah diba’iat oleh guru besar Thariqat, Syaikh Rasyid Ahmad Al-Katskuhi.
Pusat perkembangan jama’ah tabligh ada di India, tepatnya perkampungan Nidzammudin, Delhi. Mereka memiliki masjid sebagai pusat tabligh yang dikeliliingi oleh 4 kuburan wali. Mereka terkesan sangat mengagungkan masjid tersebut dan menganggap suci masjid yang ada kuburannya tersebut. Da’wah jama’ah tabligh menyebar hingga ke Pakistan, Bangladesh dan negara-negara asia timur dan menyebar hingga ke seluruh dunia. Tujuan dakwah mereka adalah membina ummat islam dengan konsep khuruj/jaulah[1] yang lebih menekankan kepada aspek pembinaan suluk/akhlak, ibadah-ibadah tertentu seperti dzikir, zuhud, dan sabar[2].
AQIDAH MEREKA
Jama’ah tabligh bermanhaj shufi dalam masalah aqidah. Tasawwuf sangatlah mendominasi anggota-anggota jama’ah dimana mereka sangat bersemangat dalam ibadah, dan dzikir, melatih diri dengan sedikit makan dan minum, tidur dan berbicara. Mereka juga mencurahkan perhatian besar terhadap mimpi dan takwilnya. Aqidah mereka menurut pandangan ahlus sunnah wal jama’ah adalah rusak dan khatir, sesat dan menyesatkan. Aqidah jama’ah tabligh tercampur baur dengan syirik, khurafat, bid’ah, wihdatul wujud dan hulul [3].Mereka berkeyakinan akan adanya mukasyafah [4], wali-wali aqhtab [5], dan mereka membenarkan ucapan-ucapan syatahat [6]. Mereka juga menghidupkan dan mengajarkan bid’ah-bid’ah syirkiyyat seperti tabaruk [7], tawassul terhadap makhluk, terhadap kuburan-kuburan nabi dan wali, dan kesyirikan-kesyirikan yang nyata lainnya. Mereka juga menghidupkan bid’ah-bid’ah mawalid dengan membaca qashidah burdah yang penuh dengan kesyirikan dan kebid’ahan.[8]
KHURUJ METODE DAKWAH BID’AH
Mereka begitu mencintai metode dakwah mereka yang mereka nama khuruj ini, bahkan seolah-olah khuruj ini termasuk dalam bagian tak terpisahkan dari syariat islam yang murni dan suci ini. Mereka telah mengotori manhaj dakwah nabi dengan memasukkan apa-apa yang bukan dari-nya. Mereka begitu mengagung-agungkan metode ini, sampai-sampai jika ada diantara jama’ah yang disuruh memilih antara khuruj dan haji, maka mereka lebih memilih dan menyatakan keutamaan khuruj, sembari menyatakan, jika kita berhaji maka pahalanya dan kebaikannya adalah untuk kita sendiri, namun jika kita melaksanakan khuruj maka pahala dan kebaikannya selain untuk kita, juga untuk manusia lainnya. Bahkan mereka lebih memuliakan khuruj dibandingkan jihad fi sabilillah, sebab menurut mereka khuruj itulah jihad fi sabilillah. Mereka berdalil tentang disyariatkannya khuruj ini dengan mimpi pendiri jama’ah tabligh ini, yakni Maulana Ilyas Al-Kandahlawi, yang bermimpi tentang tafsir Al-Qur’an Surat Ali Imran 110 yang berbunyi : “Kuntum khoiru ummatin UKHRIJAT linnasi …” mereka menafsirkan kata ukhrijat dengan makna keluar untuk mengadakan perjalanan (siyahah). Sungguh penafsiran yang bathil yang menyelisihi hampir seluruh kitab tafsir ulama’ salaf dan khalaf.Mereka pun ketika khuruj dan berdakwah kepada ummat tanpa disertai ilmu dan bashirah (hujjah yang nyata dan jelas). Mereka mengajak kaum muslimin untuk menegakkan sholat namun mereka tidak mau membahas permasalahan sholat secara mendalam beserta hujjah dan dalilnya sehingga mereka tidak tahu bagiamana sifat sholat rasulullah yang benar itu. Mereka mengajak untuk mencontoh kepada rasulullah sedangkan mereka tidak mengetahui sunnah-sunnah dan hadits rasulullah, mereka tidak peduli entah yang mereka gunakan itu hadits dhaif atau maudhu’, yang penting hadits…!!!Mereka telah menetapkan sesuatu syariat yang seharusnya menjadi hak Allah dan rasul-Nya, mereka mengkhususkan bilangan jumlah hari dalam dakwah (baca : khuruj) secara tertentu tanpa ada keterangannya dari rasulullah, mereka menentukan bilangan hari dalam khuruj dengan bilangan yang tidak ada dasarnya sama sekali dari sunnah. Mereka menentukan bilangan hari khuruj selama 6 bulan, 3 bulan, 40 hari, 20 hari, 7 hari lalu seminggu. Suatu pengkhususan yang tidak berdasar dalam manhaj da’wah rasulullah.
Mereka begitu terdorong dan bersemangat mengikuti hadits rasulullah yang menyatakan : “Balligu ‘anni walau aayah…” (Sampaikan dariku walau satu ayat…) namun mereka melupakan kata ‘annii (dari-ku, yakni dari rasulullah), yang seharusnya mereka menyampaikan ayat yang telah benar-benar nyata dari rasulullah. Mereka juga lupa akan ayat Allah yang berbunyi : “Katakanlah (wahai Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah atas bashiroh (hujjah yang nyata)” (QS. Yusuf 108). Yang seharusnya mereka menyeru kepada islam di atas hujjah yang nyata…!!!
Khuruj yang dilakukan jama’ah Tabligh yang mereka tentukan jumlah harinya pada hakikatnya tidak pernah menjadi amalan generasi para salaf dan khalaf. Yang mengherankan adalah mereka keluar untuk tabligh (menyampaikan islam) namun mereka mengakui bahwa mereka tidak layak untuk tabligh dan bukan ahlinya. Tabligh seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas keilmuan yang mumpuni seperti yang dilakukan oleh rasulullah ketika mengutus delegasinya yang terdiri dari sahabat alim yang mengajarkan islam kepada ummatnya, seperti beliau mengutus Ali bin Abi Thalib, Mu’adz bin Jabal, dan selainnya seorang diri, tidak pernah beliau mengutus serombongan sahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan rasul tersebut.
Karena itu kami menasehati jama’ah tabligh untuk lebih memperdalam ilmu dien ini. Mengenai ucapan mereka -Jama’ah Tabligh- yang menyatakan : “lihatlah para sahabat… mereka berasal dari mekkah, berasal dari medinnah… namun kuburan-kuburan mereka tersebar, ada yang dikuburkan di negeri Bukhara, di negeri samarkhand, di negeri Andalusia…” maka sungguh mereka salah meletakkan ucapan mereka yang mengqiyaskan apa yang dilakukan oleh para sahabat itu sebagai khuruj ala tablighi. Namun adalah mereka, para sahabat –Ridhwanullah ‘alaihim ajma’in- mereka keluar adalah dalam rangka jihad fi sabilillah.
KEANEHAN-KEANEHAN KITAB TABLIGHI NISHAB/ FADHAILUL ‘AMAL
Sungguh, mereka benar-benar telah menjadikan 2 kitab tulisan tokoh mereka yakni Tablighi Nishab[9] yang ditulis oleh Maulana Zakaria al-Kandahlawy dan Hayatus-Shahabah yang ditulis oleh Maulana Yusuf al-Kandahlawy, sebagaimana 2 kitab syaikhani[10], padahal 2 kitab yang mereka jadikan rujukan utama, yang senantiasa mereka baca di setiap waktu, yang mereka cintai, yang selalu mereka bawa kemana-mana, adalah kitab yang sesat lagi menyesatkan, di dalamnya tercampur antara hadits shahih dengan hadits dhaif, maudhu’, dan laa ashla lahu, di dalamnya terkumpul bid’ah, syirik, khurafat, dongeng, mitos, dan kesesatan lainnya[11]. Namun, begitu taqlidnya mereka, begitu husnudh-dhonnya mereka, sehingga mereka biarkan kesesatan itu tetap ada di dalam kitab mereka, mereka tidak ridha dan rela kitab mereka dibersihkan dari kesesatan ini, mereka tetap menginginkan kitab itu seperti apa adanya sebagaimana ditulis oleh penulisnya, dan mereka tidak sadar bahwa penulis kedua kitab itu tidak ma’shum, namun mereka tetap tidak mengindahkannya, dan mereka menganggap seolah-olah penulis dua kitab itu bagaikan wali yang ma’shum. –Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka-Sungguh, telah banyak para ulama’ pencinta kebenaran yang mengkoreksi kitab-kitab semacam ini, yang berusaha membuang dan membersihkan agama ini dari kotoran-kotoran, yang berusaha memelihara kemurnian agama ini, yang berusaha memerangi para ahli bid’ah dan kebid’ahannya. Namun, usaha mereka itu tidaklah mendapatkan tempat bagi orang-orang yang cinta akan kesesatan dan kebid’ahan. Diantara kesesatan kitab itu adalah :
TABLIGHI NISHAB MENCAMPUR HADITS-HADITS MAUDHU’ DAN DHAIF
1. Dalam Fadha’iludz Dzikir, hal. 96 Diriwayatkan dari Umar, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Manakala nabi Adam ‘alahi salam melakukan perbuatan dosa, ia mengetengadahkan kepala ke langit seraya berkata : ‘Ya Rabb, aku memohon kepada-Mu dengan keagungan Muhammad, ampunilah dosaku.’ Maka Allah menurunkan wahyu dari ‘arsy. Lalu Adam berkata : ‘Maha suci nama-Mu, tatkala Kau menciptaku, aku mengetengadahkan kepalaku ke arah arsy, ternyata tertulis padanya, Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Maka aku mengetahui bahwa tak seorangpun yang lebih mulia martabatnya di sisi-Mu daripada orang yang telah engkau jadikan beriringan dengan nama-Mu.’ Lalu Allah berfirman kepada Adam, ‘wahai Adam, sesunggunya Muhammad itu nabi terakhir dan termasuk anak cucumu, seandainya Muhammad tidak diciptakan maka Aku tidak menciptamu.” (Tablighi Nishab, bab Fadhailudz Dzikir, hal 96.)Keterangan : Hadits di atas adalah hadits Maudhu’ dalam Al-Maudhu’at Al-Kabir. Perawi-perawi dalam hadits di atas majhul (tidak dikenal).
2. Dalam Fadha’iludz Dzikir, hal. 109-110
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, bersabda Rasulullah : ‘Barangsiapa menziarahi kuburanku, maka wajib atasnya syafatku.’ (Tablighi Nishab, Bab Fadha’iludz Dzikir, hal. 109-110)
Keterangan : Hadits di atas hadits Maudhu’, lihat Dhaiful Jami’ no 5618.
3. Dalam Fadha’ilul Haj, hal. 101
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang menziarahiku setelah wafat maka ia laksana menziarahiku sewaktu aku hidup.” Berkata penulis : Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Daruquthni dan Baihaqi. Baihaqi menyatakan Hadits ini Dhaif dalam Al Ittihaf. Berdasarkan riwayat Imam Baihaqi dalam Al-Misyqat disebutkan, “Siapa yang melakukan haji dan menziarahi kuburanku, maka ia seperti menziarahiku sewaktu aku hidup.” Berkata penulis : Al-Muwaffiq dalam Al-Mughni menjadikan hadits ini sebagai dalil terhadap keutamaan ziarah ke makam nabi. (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 101)
Keterangan : Hadits di atas Maudhu’ dalam Dha’iful Jami’ no 5563
Inilah sekelumit di antara kandungan hadits-hadits Maudhu’ dalam Tablighi Nishab, yang masih sangat banyak lagi di dalamnya yang harus dibersihkan dan dibuang jauh-jauh, karena Rasulullah bersabda dalam haditsnya yang Mutawattir : “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja maka persiapkan duduknya di atas neraka”, termasuk berdusta atas nama nabi yakni menyampaikan kepada ummat apa-apa yang bukan dari beliau namun disandarkan terhadap beliau, masuk di dalamnya menyampaikan atau menggunakan hadits maudhu’, dan telah sepakat ummat ini bahwa hadits maudhu’ tidak dapat dijadikan hujjah atau dalil.
TABLIGHI NISHAB BERISI KHURAFAT, HIKAYAT DAN DONGENG.
Muhammad Zakaria al-Kandahlawy –semoga Allah mengampuninya- di dalam bukunya Tablighi Nishab merangkum khurafat, bid’ah, mitos dan hikayat-hikayat yang memekakkan telinga dan jauh dari kodrat dan tidak bisa dibenarkan akal sehat. Rujukan yang dipegangnya tak dapat dipercaya dan ia menukil dari pengarang yang tak mendapatkan legitimasi para ulama’. Diantara kisah-kisah tersebut adalah :
1. Dalam Fadhailul Haj, hal 137-138, akhir bab IX, hikayat ke-13 Dinukil dari As-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi bahwa Sa’id Ahmad Ar-Rifa’I berziarah ke makam Nabi setelah haji pada tahun 555 H. Ia melagukan dua bait syair sebagai berikut :
Dalam hal yang jauh, ruhku kulepaskan….
Bumi menerima dariku, karena ia wakilku…
Inilah kerajaan khayalan yang aku hadiri…
Maka ulurkan tangan kananmu agar terengkuh oleh bibirku…
Lalu tangan nabi yang diberkahi keluar dari makamnya yang mulia dan Ar-Rifa’i pun mencium tangannya.
Penulis menambahkan dalam kitab Al-Bunyan Al-Masyid, “ada 90 ribu orang yang menyaksikan hal itu. Mereka adalah peziarah makam Nabi. Diantara peziara itu adalah Syaikh Abdul Qodir Jailani.”
(Tablighi Anishab, bab Fadhailul Haj, hal 137-138, akhir bab IX, hikayat 13)
2. Dalam Fadha’ilul Haj, hal 133
Syaikh Abu Khair Al-Aqtha’ berkata, “Aku merasa lapar karena selama 5 hari aku belum makan. Lalu aku berziarah dan ketiduran setelah aku membaca shalawat kepada Nabi di sisi makamnya. Aku bermimpi Nabi datang bersama Syaikhani dan Ali Radhiallahu ‘anhu. Kemudian beliau memberi aku sepotong roti. Aku makan roti itu setengahnya, ketika aku terbangun, aku melihat setengah roti sisanya masih ada di tanganku.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 133)
3. Dalam Fadahilul hajj, hal 141
Syaikh Syamsuddin, ketua Khadamul haram An-Nabawi berkata : “Satu jama’ah dari Aleppo menyuap gubernur Madinnah agar mereka dizinkan membongkar makam Syaikhani dan mengambil jasad keduanya. Maka ketika itu datanglah 40 orang laki-laki membawa cangkul pada malam harinya. Keempat puluh orang itu iba-tiba saja hilang di telan bumi. Setelah itu gubernur Madinah berkata, ‘Janganlah kau sebarkan hal ini, atau aku akan memenggal kepalamu.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 141)
4. Dalam Fadha’ilul Haj, hal 87)
Syaikh Zakaria berkata, “Dinukil dari beberapa Syaikh, bahwa seorang Syaikh yang tinggal di negeri Khurasan lebih dekat ke Ka’bah karena ia selalu bersentuhan dengan ka’bah dibandingkan orang-orang yang selalu berthawaf di ka’bah. Bahkan terkadang ka’bah datang mengunjunginya.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Haj, hal 87)
5. Dalam Fadhailush Shadaqah, hal. 588. dikisahkan : Syaikh Zakaria mengerjakan sholat sebanyak 1000 raka’at dengan berdiri. Apabila ia merasa lelah, maka ia sholat dengan duduk sebanyak 1000 raka’at. (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilush Shadaqah, hal 588)
6. Dalam Fadha’ilul Qur’an, hal. 15. Diceritakan : bahwa Ibnu Katib mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari sebanyak 8 kali.
7. Dalam Fadhailul Haj, hal. 218. Diceritakan : bahwa Nabi Khidr mengerjakan sholat shubuh di mekkah dan duduk di rukun syami sampai terbit matahari, kemudian sholat Dhuhur di Madinah, sholat ashar di Baitul Maqdis dan Sholat Maghrib dan Isya’ di Al-Iskandari.
8. Dalam Fadha’ilush Shadaqah hal. 588. Diceritakan : bahwa Abu Muhammad Al Jurairi melaksanaknan I’tikaf di Makkah selama setahun penuh, tidak tidur tidak pula bersandar di dinding atau tiang.
9. Dalam Fadhailul Hajj, hal 135
Seseorang bertanya kepada Nabi Khidir, “apakah kamu melihat seseorang yang lebih mulia daripada dirimu?” menjawab Nabi Khidir, “Pada suatu ketika aku berada di dalam masjid Muhammad (di madinah). Pada waktu itu Imam Abdurrazaq sedang mengajari jama’ah tentang hadits nabi, maka aku melihat seorang pemuda duduk sendiri di pojok masjid sambil meletakkan kepalanya di atas kedua lututnya. Aku bertanya padanya, ‘mengapa kau tidak mengikuti majlis Abdurrazaq dan mendengarkan hadits-hadits nabawi’, ia menjawab, ‘Di sana jama’ah mendengarkan pengajian dari Abdurrarzaq, namun di sini ada seorang sendirian mendengarkan pelajaran Abdurrazaq tanpa ada orang lain.’ Kemudian Nabi Khidr berkata, ‘Jika benar demikian maka katakanlah siapakah aku ini?’ Ia menjawab ‘Kamu adalah nabi Khidr’. Nabi Khidr berkata. ‘dengan demikian aku mengetahui bahwa ada sebagian wali Allah yang tidak aku ketahui dikarenakan ketinggian derajatnya.” (Tablighi Nishab, bab Fadha’ilul Hajj, hal 135)
Banyak lagi hikayat-hikayat lainnya di samping dongeng-dongeng di atas, yang mana di dalam buku ini banyak sekali berserakan di dalamnya mitos, kebatilan, khurafat dan bid’ah. Apakah gerangan yang diinginkan pengarang buku ini dengan memuat segala malapetaka ini? Bagiamana bisa Jama’ah Tabligh menerima sesuatu yang rasanya pahit ini? Bagiamanakah sikap ulama’ mereka terhadap bahaya sufistik ini? Apakah ada yang bisa menjawab? Hanya Allah lah tempat mengadu…!!!
PERNYATAAN ULAMA’-ULAMA’ SUNNAH TENTANG JAMA’AH TABLIGH•
Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashrudin Al-Albani –Rahimahullah- dalam fatawa Al-Imarotiyah hal. 30 ketika ditanya tentang jama’ah tabligh, beliau memberikan jawaban : “Da’wah Jama’ah Tabligh adalah sufi masa kini (shufiyyah ashriyyah) yang tidak berpijak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya…”
• Fatwa terakhir Samahatusy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim ‘alu Syaikh –Rahimahullah- : “Saya jelaskan bahwa jam’iyyah ini (jama’ah tabligh, peny.) adalah jam’iyah yang tidak kebaikan padanya. Sebab itu jam’iyah ini adalah bid’ah lagi sesat menyesatkan.” (fatawa Syaikh Ibrahim, hal. 405 tanggal 29/1/82 H)
• Fatwa terakhir Al-Allamah Samahatusy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz –Rahimahullah-, ketika beliau ditanya mengenai jama’ah tabligh, beliau menjawab : “…Jama’ah Tabligh dari India yang sudah dikenal ini terdapat khurafat, bid’ah dan syirik pada mereka…” (Fatwa terakhir Syaikh bin Bazz dikutip dari kaset Ta’qib Samahatusy-Syaikh Abdul Aziz bin Bazz ‘ala Nadwah.)
• Syaikh Hammud bin Abdullah At-Tuwaijiri –Rahimahullah- ketika ditanya tentang jama’ah tabligh, beliau menjawab secara terperinci dalam Al-Qoul Al-Baligh fi ar-Roddi ‘ala jama’atit tabligh yang intinya adalah : “Saya katakan bahwa jama’ah tabligh itu kelompok yang sesat lagi bid’ah. Mereka tidaklah mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah dan sahabatnya, juga para tabi’in. Akan tetapi mereka mengikuti metode shufiyyah yang bid’ah…”
• Syaikh Ali Hasan ketika ditanya mengenai kebaikan jama’ah tabligh karena banyaknya pemuda yang masuk islam melalui da’wah mereka, menjawab : “Perkataan itu benar namun kurang! Benar jama’ah tabligh menda’wahi banyak manusia dimana menghasilkan orang yang dahulunya berandalan sekarang bertaubat, tetapi sebagaimana pendapat ulama’, bahwasanya hidayah itu ada dua, yakni hidayah ‘ila thariq (ke jalan) dan hidayah fi thariq (di jalan). Ya.. memang jama’ah tabligh ini mendakwahi manusia ‘ila thariq, tapi mereka tidak berdakwah fi thariq. Bagaimana tidak !!! aqidah mereka saja hancur!!! Mereka mengatakan dalam kitab mereka yang masyhur tablighi nishab yang penuh dengan khurafat serta penyimpangan-penyimpangan…” (kaset muhadharah Syaikh Ali berjudul Manhaj as-Salaf).
• Fatawa Lajnah Al-fatawa fi idaratil Buhuts al-ilmiyyah wal ifta’ wad da’wah wal irsyad, menyatakan : “Jama’ah Tabligh sangat berlebihan dalam hal-hal negatif dan generalisasi terhadap suatu masalah. Jama’ah tabligh tidak jelas mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah dalam berdakwah sampai dengan perincian prinsip-prinsip syariat islam dan cabang-cabang hukumnya…” (dinukil oleh Ust. Falih Nafi’ dalam kitabnya Ad-Diinun-Nashiihah hal 17-18)

NASIHAT BAGI JAMA’AH TABLIGH
Kami nasihatkan bagi jama’ah tabligh dan orang-orang yang simpati pada da’wah mereka, termasuk orang-orang yang mengepankan ukhuwwah dan tidak menegakkan pilar saling menasihati dan membiarkan kebathilan dan kesalahan seperti ini dipendam dengan maksud menjaga ukhuwwah dan supaya ummat tidak terpecah belah, agar : 1. Bertakwa kepada Allah, takut akan siksa-Nya dan adzab-Nya. Menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya dan meninggalkan segala hal yang mengakibatkan murka-Nya.2. Bertaubat kepada Allah akan kesalahan-kesalahan kita, berjanji tidak akan mengulanginya, dan meninggalkan segala pemahaman-pemahaman sesat dan salah yang selama ini kita pegang.
3. Menuntut ilmu dien yang syar’i yang selaras dengan pemahaman salaf ash-sholih, mengamalkannya, mendakwahkannya dan sabar dalam memeliharanya.
4. Senantiasa menegakkan pilar nasehat-menasehati dan tolong menolong dalam kebenaran dan ketakwaan.
Catatan kaki :
[1] keluar wilayah untuk berdakwah dengan jumlah waktu yang telah ditentukan seperti 4 bulan, 40 hari, seminggu, dls.
[2] baca ‘Jama’ah Tabligh’ karya M. Aslam Al-Bakistani –beliau mantan tokoh Jama’ah tabligh yang ruju’ /taubat dari manhaj tablighi-
[3] akan datang keterangannya mengenai kesesatan aqidah jama’ah tabligh ini.
[4] tersingkapnya tabir ghaib sehingga manusia dapat mengetahui yang ghaib dan ini merupakan aqidah shufi yang rusak
[5] keyakinan adanya wali-wali kutub yang memiliki kemampuan mempengaruhi kahidupan makhluk –ini termasuk kesyirikan yang nyata
[6] (ucapan-ucapan yang keluar dari orang-orang shufiyah ketika akal mereka hilang dan mereka menganggap mereka (orang-orang shufiyah ini, peny.) dalam maqam yang paling tinggi dan ucapannya hampir seperti wahyu –Wallahul musta’an)
[7] mencari berkah baik di kuburan ataupun di tempat-tempat yang dikeramatkan dan ini termasuk kesyirikan yang nyata
[8] Baca kitab mereka yang berjudul Bahjatul qulub karya Muhammad Iqbal, salah seorang tokoh jama’ah tabligh, buku ini penuh dengan keanehan-keanehan, kesyirikan dan kebid’ahan yang sesat lagi menyesatkan.
[9] Atau dikenal dengan Fadhailul ‘amal. Nama fadhailul ‘amal ini diambil sebagai upaya pentalbisan dengan mengangkat kebolehan penggunaan hujjah hadits dhaif dalam fadhilah ‘amal (amalan fadhilah), namun mereka melupakan syarat-syarat bolehnya hadits dhoif digunakan sebagai fadhilah amal, lebih jauh lagi, kitab ini bukan hanya mengangkat hadits dhoif saja, namun juga maudhu’, hikayat-hikayat, dan dongeng-dongeng palsu.
[10] Yaitu Bukhari Muslim, wallahu a’lam
[11] Akan menyusul contoh-contohnya dalam risalah ini






BOROK-BOROK AQIDAH JAMA’AH TABLIGH
Oleh:
Al-Ustadz Azhari Asri hafizahullah Ta’ala

Mungkin ada yang bertanya: Kenapa dakwah Salafiyah sering membicarakan kejelekan fulan dan fulan, kelompok ini dan kelompok itu? Apakah ini bukan termasuk ghibah?
Ketahuilah wahai saudaraku, tidaklah semua ghibah diharamkan. Ada jenis ghibah tertentu yang diperbolehkan. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: Ketahuilah, bahwasanya ghibah diperbolehkan bila untuk tujuan yang benar dan syar’i yang tidak mungkin dapat dicapai (tujuan itu) kecuali dengannya.
Yang demikian itu dengan alasan enam sebab:
1. Karena terzhaliminya (seseorang).
2. Dalam rangka minta bantuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang bermaksiat kepada kebenaran.
3. Minta fatwa.
4. Memperingatkan kaum Muslimin dari suatu kejelekan dan menasehati mereka. Yang demikian meliputi beberapa bentuk di antaranya dengan menerangkan kejelekan rawi-rawi hadits dan para saksi yang memiliki kejelekan. Hal itu diperbolehkan berdasarkan ijma’ kaum Muslimin bahkan wajib karena adanya kebutuhan. Dan (bentuk lain) yaitu jika seseorang melihat seorang penuntut ilmu mondar-mandir mendatangi mubtadi’ atau seorang yang fasik, dia mengambil ilmu darinya dan dikhawatirkan si penuntut ilmu itu terpengaruh dengannya maka wajib bagi orang tadi untuk menasehatinya dengan menerangkan keadaan mubtadi’ tersebut. Dengan syarat dia bermaksud memberi nasehat.
5. Adanya seseorang yang terang-terangan dengan kefasikannya dan kebid?ahannya.
6.Untuk pengenalan, (misalnya) seorang manusia terkenal dengan julukan si kabur matanya, si buta, si pincang, dan yang lain maka diperbolehkan memperkenalkan mereka dengan julukan-julukannya itu. Tetapi diharamkan jika tujuannya untuk mencela dan merendahkan. Dan seandainya memungkinkan untuk diperkenalkan dengan selain itu, itu lebih baik.
Demikian dinukil secara ringkas dari Kitab Riyadhush Shalihin bab ke-256, Bab Perkara Diperbolehkan Berghibah halaman 525-527 tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah.
Perhatikanlah jenis keempat, Imam An-Nawawi menyatakan bahwa ghibah diperbolehkan jika dalam rangka memperingatkan kaum Muslimin dari suatu kejelekan dan untuk menasehati mereka. Berapa banyak kitab-kitab para ulama yang membahas kejelekan rawi-rawi hadits dan kelemahaan mereka, seperti Kitab Adh-Dhu’afa karya Imam Bukhari, Nasa’i, Al-Uqaili, dan Ad-Daraquthni. Kitab Al-Kamil fid Dhu’afa karya Ibnu Abi Hatim, Kitab Al Mughni fidh Dhu’afa karya Imam Adz Dzahabi dan berbagai kitab lainnya yang berisi jarh (kritikan) terhadap rawi-rawi hadits. Apakah kita menuduh para ulama telah melakukan ghibah terhadap individu-individu tertentu atau kelompok-kelompok tertentu. Na’udzu Billah.
Ketahuilah, bahwa menyebutkan kejelekan seseorang diharamkan jika tujuannya semata-mata mencela, membongkar aib, dan merendahkan dia. Adapun jika di situ ada maslahat bagi seluruh kaum Muslimin atau khususnya bagi sebagian mereka dan bertujuan mencapai maslahat itu maka tidak diharamkan tetapi mandub (disunnahkan). Tegas Ibnu Rajab Al Hambali dalam Al Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir halaman 25.
Kita tidak akan tinggal diam ketika melihat kemungkaran-kemungkaran atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kaum Muslimin. Kita harus memperingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati dari orang-orang yang menyimpang atau kelompok-kelompok yang menyimpang dari Al Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shalih dari generasi shahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagian mereka berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya berat bagiku untuk mengatakan si fulan begini dan begitu. Maka beliau berkata: Kalau Anda diam dan akupun diam, kapan orang yang tidak tahu akan tahu mana yang benar dan yang salah”. (Naqdur Rijal halaman 39)
Baiklah, yang menjadi sorotan kita kali ini adalah penyimpangan aqidah Firqah Tabligh. Sejauh mana kelompok yang bertambah subur dimana-mana ini menyimpang dari aqidah yang benar, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Pemahaman Syahadat Menurut Jama’ah Tabligh
Dalam menafsirkan makna Laa Ilaaha Illallah terjadi kesalahan fatal (fatal error) pada mereka. Mereka menafsirkan lafadh itu dengan makna Rububiyah Allah. Yaitu bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi Rizqi, Pengatur Semua Urusan dan Yang Menghidupkan serta Yang Mematikan. Memang benar Allah demikian, tapi apakah makna seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika mendakwahi kaum musyrikin di zaman beliau. Tidak! Mengapa?. Karena kaum musyrikin yang hidup di masa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memiliki keyakinan yang demikian. Allah kisahkan keadaan mereka itu dalam firman-Nya (yang artinya): “Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kalian dari langit dan bumi atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak mau bertaqwa (kepada-Nya).” (QS. Yunus: 31)
”Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya jika mereka mengetahui.? Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah: ‘Maka mengapa kalian tidak ingat’. Katakanlah: ‘Siapa yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar’. Mereka akan menjawab: ‘Milik Allah’. Katakanlah: ‘Maka apakah kalian tidak bertakwa’. Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya jika kalian mengetahui’. Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah: ‘(Kalau demikian) maka dari jalan mana kalian ditipu”. (QS. Al Mukminun: 84-89)
Nah,.walau demikian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tetap memerangi mereka. Mengapa?. Karena mereka tidak mengakui bahwa Allah saja yang berhak untuk diibadahi. Dan mereka tahu kalau mengucapkan syahadat berati mereka mengkufuri semua sesembahan mereka. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Padahal mereka kaum musyrikin mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi Rizki sendiri saja tanpa sekutu. Dan tidak ada pemberi rizki kecuali Dia. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali Dia. Tidak ada yang mengatur alam kecuali Dia. Semua langit yang tujuh dan para penghuninya, bumi-bumi dan para penghuninya semuanya adalah hamba-hamba-Nya dan dalam kekuasaan-Nya dan kalau Anda menginginkan dalil bahwa mereka yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga meyakini seperti ini, bacalah ayat… (Kemudian beliau membawakan ayat-ayat tadi)”. (Lihat Kasyfusy Syubuhat halaman 9-10, ta’liq Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)
Pemahaman menyimpang di atas terjadi pula pada Jama’ah Tabligh ini. Mereka menafsirkan kata Illah dalam syahadat dengan Rububiyah. Ini dinyatakan oleh Syaikh Hammud dan dialaminya sendiri oleh beliau serta teman-temannya yang lain ketika berdialog dengan salah seorang tokoh mereka ketika ditanyakan tentang makna Illah dalam syahadat.
Adapun dalam hal tauhid Asma’ was Shifat, di kalangan orang-orang tabligh ada yang berpemahaman Asy’ariyah dan Maturidiyah. Kedua madzhab ini termasuk dalam madzhab yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Al Qaulul Baligh hal: 8 )
Pengingkaran Jamaah Tabligh Terhadap ‘Uluwullah
Dalam kitab Al-Qaulul Baligh halaman 42-43 disebutkan kisah seorang pemimpin Jama’ah Tabligh di Saudi Arabia yang beraqidah Maturidiyah dan mengingkari ‘Uluwullah (sifat ketinggian bagi Allah di atas makhluk-Nya). Syaikh Hammud At-Tuwaijiri mengisahkan bahwa seorang guru di Jama’atul Islamiyah Madinah mengirim surat kepadanya. Dalam surat itu, guru tadi berkata: ‘Suatu kisah pernah saya alami, seseorang datang menemuiku hendak mengingkari kritikan saya terhadap Jama’ah Tabligh. Aku berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya mereka berpemahaman sufi dan Maturidiyah, mereka enggan mensifati Allah dengan sifat ‘Uluw’. Dia (seorang tablighi) berkata: ‘Apa buktinya’. Aku berkata kepadanya: ‘Pergilah dan buktikan sendiri!’. Maka dia pergi, selang beberapa hari dia datang kepadaku dan berkata: ‘Apa yang Anda katakan bahwa mereka tidak mengakui bahwa Allah di atas dan bersemayam (istiwa’) di atas ‘Arsy-Nya adalah benar. Aku bertanya kepadanya: ‘Bagaimana Anda bisa tahu hal itu?’. Dia berkata: ‘Aku mendatangi seorang pimpinan Tabligh yang bernama Sa’id Ahmad, dia sangat percaya kepadaku karena aku termasuk muridnya. Aku berkata kepadanya: ‘Aku benar-benar tidak meragukan keyakinan kita bahwa Allah ada di setiap tempat dan Dia tidak berada di atas langit. Akan tetapi dengan apa kita membantah orang yang mengatakan bahwa Allah di atas langit.? (Sa’id Ahmad) berkata: ‘Tinggalkanlah mereka dan tetaplah di atas aqidahmu karena itulah yang benar!”.
Perhatikanlah pentolan Tabligh ini! Dia dengan tegas mengatakan bahwa Allah berada di mana-mana dan tidak bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Bukankah keyakinan seperti ini menyimpang dari keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah di atas seluruh makhluk-Nya, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, berada di atas langit-Nya, di atas makhluk-Nya, terpisah dari mereka, Dia mengetahui amalan-amalan mereka, mendengar ucapan-ucapan mereka, melihat gerak dan diamnya mereka, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sedikitpun. (Shifatullahi ‘Azza wa Jalla halaman 186)
Betapa banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang ‘Uluwullah, di antaranya Allah berfirman (yang artinya):”Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi”. (QS. Al A’la: 1)
”Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya” (QS. Al An’am: 18)
”Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di atas langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang”. (QS. Al Mulk: 16)
”Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy-Nya”. (QS. Thaha: 5)
Juga dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dijelaskan tentang ‘Uluwullah. Di antaranya kisah dialog Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan seorang budak wanita milik Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami radliyallahu ‘anhu. Beliau bertanya kepada budak tersebut: “Di manakah Allah?” Dia menjawab: ‘Di atas langit’. Beliau bertanya lagi: “Siapakah aku?” Dia menjawab: ‘Engkau adalah Rasulullah’. Maka beliau berkata (kepada Mu’awiyah): “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang perempuan Mukminah”. (HR. Ahmad dan Muslim)
Bandingkanlah antara budak wanita yang hidup di masa Rasulullah ini dengan tokoh Tabligh tersebut. Meskipun statusnya sebagai budak tetapi dia lebih pandai daripada tokoh Tabligh itu. Memang kesesatan itu tidak pandang bulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjuki siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki pula. Syaikh Hammud At Tuwaijiri mengomentari kisah tokoh Tabligh tadi: “Ini adalah penyimpangan terbesar dalam aqidah orang-orang Tabligh, yaitu mengingkari ‘Uluwullah di atas makhluk-Nya. Inilah madzhab Jahmiyah (para pengikut Jahm bin Shafwan yang mengingkari sifat ‘Uluwullah, pent.) yang dikafirkan oleh kebanyakan ulama Salaf.
Maka hendaknya orang-orang yang ingin bergabung dengan Jama’ah Tabligh mengambil pelajaran dari kisah seorang pimpinan Jama’ah mereka itu yang meyakini bahwa Allah berada di setiap tempat dan tidak berada di atas langit! Ini adalah kekufuran yang nyata karena bertentangan dengan dalil-dalil yang banyak dari Al Kitab, As Sunnah, dan ijma’ kaum Muslimin yang menyatakan bahwa Allah di atas seluruh makhluk-Nya dan Allah bersama makhluk dengan ilmu-Nya, pengawasan-Nya, dan peliputan-Nya. Hendaknya seorang Mukmin ‘yang menasehati dirinya’ berhati-hati untuk bergabung dengan orang-orang Tabligh yang mengingkari ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan menyangka bahwa Allah berada di setiap tempat. Maha Tinggi Allah dari apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dhalim”. (Al Qaulul Baligh halaman 43-44)
Jamaah Tabligh Mengagung-agungkan Kuburan
Termasuk kesesatan Tabligh dalam hal aqidah adalah mereka mendatangi kuburan tokoh-tokoh mereka kemudian berdoa dan menanti ilmu laduni (kasyaf, ilmu menyingkap rahasia-rahasia tersembunyi), karamah-karamah, dan ikatan batin dengan orang-orang yang ada di kuburan itu. Bukti atas ucapan ini adalah sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Aslam dalam kitabnya yang berjudul Jama’ah Tabligh ‘Aqidatuha wa Afkaru Masyayikhiha. Pengarang berkata pada halaman 3: “Bahwasanya tokoh utama orang-orang Tabligh, Muhammad Ilyas, duduk di belakang kuburan Abdul Quddus Al Kankuhi (seorang pemimpin tarikat Sufi beraliran Jistiyah) pada sebagian besar waktunya. Dan dia juga duduk berkhalwat (bersendiri) di dekat kuburan Sa’id Al Badayuni dan shalat jamaah di sana”. (Lihat Al Qaulul Baligh halaman 65)
Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan tokoh mereka ini adalah perbuatan syirik bahkan menyerupai perbuatan Yahudi dan Nashara. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya): “Laknat Allah terhadap Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid”. (Aisyah berkata): ‘Beliau memperingatkan apa yang mereka lakukan dan seandainya jika tidak ada (peringatan itu) niscaya kuburan beliau ditampakkan (ditinggikan) tetapi karena beliau takut kalau kuburannya dijadikan masjid (maka tidak ditampakkan)’. (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radliyallahu ’anha)
Ketika Ummu Habibah dan Ummu Salamah menerangkan keadaan gereja yang berada di negeri Habasyah (Ethiopia), keduanya menyebutkan keindahannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya): “Mereka adalah suatu kaum yang jika ada seorang yang shalih meninggal di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan mereka membuat gambar-gambar itu (gambar orang shalih tersebut). Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Dengan sebab inilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang menjadikan masjid-masjid di atas kuburan karena hal itu yang banyak menjerumuskan kebanyakan umat-umat ke dalam syirik akbar dan yang lebih rendah/hina dari itu. Sesungguhnya jiwa-jiwa manusia akan berbuat kesyirikan terhadap patung orang-orang shalih dan gambar-gambar yang dianggap sebagai mantera-mantera dan yang semacamnya. Kesyirikan karena adanya kuburan seseorang yang diyakini keshalihannya adalah lebih dekat kepada jiwa-jiwa manusia dibanding kesyirikan karena mengagungkan sebuah pohon atau sebuah batu. Oleh karena itu, Anda akan menjumpai orang-orang yang berbuat syirik, merendahkan diri, khusyu’, hening, dan menunaikan ibadah di kuburan-kuburan tersebut yang tidak mereka lakukan ketika berada di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur.
Di antara mereka ada yang sujud kepada kuburan itu. Dan kebanyakan mereka mengharapkan barakah shalat dan berdoa di tempa itu apa yang mereka tidak harapkan ketika di masjid-masjid. Karena kerusakan itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memutuskan penyebab utamanya. Hingga beliau melarang shalat di kuburan secara mutlak. Walaupun orang yang shalat di situ tidak mengharapkan barakah tempat tersebut sebagaimana ketika shalat di masjid. Sebagaimana beliau melarang shalat ketika matahari terbit dan ketika terbenam. Karena waktu-waktu itu adalah waktu shalat bagi kaum musyrikin kepada matahari. Maka beliau melarang umatnya shalat ketika itu meskipun ia tidak bermaksud sebagaimana tujuan kaum musyrikin, (hal ini dilakukan) dalam rangka menutup jalan menuju larangan.
Adapun jika seseorang shalat di sisi kuburan dengan tujuan mencari barakah di tempat itu maka ini benar-benar menentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi agama Rasul dan melakukan kebid’ahan dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah. Karena kaum Muslimin telah sepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dari agama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa shalat di sisi kuburan adalah terlarang dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melaknat orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat sujud. Karena termasuk kebid’ahan terbesar dan sebab-sebab perbuatan syirik adalah shalat di sisi kuburan, menjadikannya sebagai tempat sujud, dan membangun masjid-masjid di atasnya. Telah mutawatir dalil-dalil dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan larangan dan sikap keras beliau terhadap (orang yang) membangun masjid di atas kuburan dan sujud di sisinya”. (Lihat Fathul Majid halaman 275-276)
Keterkaitan Jama’ah Tabligh Dengan Jimat-Jimat
Di antara kesyirikan-kesyirikan yang tersebar di kalangan Jama’ah Tabligh adalah menggantungkan jimat-jimat yang berisi mantera-mantera, nama-nama yang asing, nomor-nomor atau rumus-rumus yang aneh yang tidak terlepas dari permintaan, pertolongan, dan perlindungan kepada selain Allah. (Lihat Al Qaulul Baligh halaman 13)
Tidakkah mereka mengetahui bahwa memakai jimat-jimat hukumnya haram dan termasuk syirik asghar. Bahkan bisa menjadi syirik akbar jika seandainya orang yang memakainya bergantung sepenuhnya kepada jimat-jimat tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menggantungkan jimat-jimat maka sungguh dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad dan Al Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Shahihah nomor 492)
Dan sungguh keras ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang yang berbuat syirik. Allah berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah mengharamkan padanya Surga dan tempatnya ialah di neraka, tidaklah ada bagi orang yang dhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al Maidah: 72)
Penutup
Dari sejumlah penyimpangan-penyimpangan yang telah disebutkan di atas, cukup bagi kita untuk menilai sampai sejauh mana jama’ah ini menyeleweng dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangatlah memperhatikan perbaikan perkara aqidah di tengah umat ini. Bahkan yang pertama kali mereka (Ahlus Sunnah) dakwahkan adalah bagaimana mengaplikasikan penghambaan seseorang kepada Allah semata dan menjauhkannya dari segala kesyirikan dan penghambaan kepada selainAllah.
Adapun Jama’ah Tabligh tidak menghiraukan sama sekali perkara aqidah. Sehingga tak heran kalau mereka tidak memahami makna hakiki dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Bahkan mereka (Jama’ah Tabligh) menghalang-halangi orang-orang yang berdakwah kepada tauhid dan menganggap dakwah tauhid adalah dakwah pemecah-belah umat.
Asas dakwah Jama’ah Tabligh dibangun di atas kejahilan dan kebodohan. Mereka menghalang-halangi para pemuda untuk menuntut ilmu agama dan menganggap bahwa ilmu agama itu bisa didapatkan dengan melakukan khuruj fi sabilihim (keluar berdakwah di jalan mereka bukan di jalan Allah) tanpa mendatangi para ulama dan menuntut ilmu dari mereka. Akibatnya, kesyirikan-kesyirikan, khurafat-khurafat, dan kebid’ahan-kebid’ahan tumbuh subur di kalangan mereka. Dan hasil dari dakwah yang berdiri di atas kebodohan adalah kebodohan pula, tidak ada yang lain.
Maka penulis menasehatkan kepada seluruh pembaca agar berhati-hati dari Jama’ah Tabligh atau seluruh jama’ah-jama’ah yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyah Al Firqatun Najiyah Ath Tha’ifah Al Manshurah. Di hadapan kita banyak dai-dai yang mengajak kepada kesesatan sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika menafsirkan ayat: “Dan bahwasanya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al An’am: 153)
Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggaris sebuah garis dengan tangannya kemudian berkata: “Inilah jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau menggaris sejumlah garis di sebelah kanan dan kiri garis itu kemudian bersabda: “Dan inilah jalan-jalan, tidaklah setiap jalan kecuali terdapat syaitan yang mengajak kepadanya”. (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)





Membongkar Kedok Jamaah Tabligh
Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc
Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.
Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; ”Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.
Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adalah jawabannya.
Pendiri Jamaah Tabligh
Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti.
Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis Bri Musliman, hal.583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).
Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh
Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, ”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah I’tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa’iduha Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19).
Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).
Markas Jamaah Tabligh
Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14).
Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yang dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan masjid. Padahal Rasulullah sebagai masjid, bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek . (Lihat Al-Qaulul Baligh Fit Tahdziri Min Jama’atitmakhluk di sisi Allah Tabligh, karya Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)
Asas dan Landasan Jamaah Tabligh
Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:
Sifat Pertama :
Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 4). Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al-asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75)
Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah, dan kepada Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jamaah At-Tablighiyyah, hal. 46).
Sifat Kedua :
Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).
Sifat Ketiga :
Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-dasar pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu. Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).
Sifat Keempat :
Menghormati Setiap Muslim Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al-wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang bertentangan dengan kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang tersebut 'alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)
Sifat Kelima :
Memperbaiki Niat Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)
Sifat Keenam :
Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata'ala Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta’lim setiap hari, majelis ta’lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i’tikaf pada setiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen) sebut dengan khuruj maka ini bid’ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 7)
Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 6)
Aqidah Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya
Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah 2 :
1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).
2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A’mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Qur’an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A’mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai’atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).
7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya Asy-Syaikh Sa’ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).
8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. (Fadhail A’mal, bab Fadhail Ash-Shalati ‘alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).
9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 10).
10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I’tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta’rifuha, hal. 70).
11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A’mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta’an.
Fatwa Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh
1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.
2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid’ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid’ahan”.
3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata: “Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid’ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur-kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.
4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.” Beliau juga berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.
5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.
Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwamith Thariq









BANTAHAN TAFSIR MIMPI MUHAMMAD ILYAS
Disusun Oleh:
Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan

Berkata Muhammad Manzur Al-Nu’maaniy menukil perkataan Syaikh Muhammad Ilyas tentang dirinya:”Terbuka jelas jalan dakwah ini ketika saya mendapatkan ilham dalam mimpi tentang tafsir baru firman Allah:
{كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ} (110) سورة آل عمران
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imron: 110).
Dan hal itu tidak dapat terwujud dengan tetap tinggal disatu tempat, berdasarkan dalil firman Allah ( أخرجت). Dan iman akan bertambah dengan khuruj ini, dengan dalil adanya firman Allah Azza wa Jalla ( وتؤمنون بالله ) setetelah firman-Nya ( أخرجت للناس ) dan makna kalimat ( أمة ) adalah bangsa arab dan ( الناس) adalah bangsa-bangsa selain arab1).
Berkata Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmiy hafizahullah Ta’ala ketika mengomentari pernyataan di atas:
a) Sesungguhnya Al-Qur’an tidak dapat ditafsirkan oleh orang-orang yang sedang tidur, sesungguhnya hal ini merupakan salah satu penafsiran Al-Kasyf dari para pengikut shufiyyah yang mana hal ini berasal dari Syaithon.
b) Perkataannya:” Dan hal itu tidak dapat terwujud dengan tetap tinggal disatu tempat..”. Ini adalah perkataan bathil. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mewujudkan dakwah sedangkan ia berada di Makkah dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah mewujudkan dakwah sedangkan ia berada di Ad-Dar’iyyah. Barangsiapa yang membuka madrosah dan mengajarkan ilmu kepada menusia maka ia telah menegakkan/mewujudkan dakwah di atas tangannya apabila ia melakukannya dengan ikhlash dan menasehati (ummat, pent) walaupun ia tinggal disuatu tempat.
c) Dan perkataannya:” Dan iman akan bertambah dengan khuruj..”. Pernyataan ini juga tidak benar, karena iman akan bertambah dengan keta’atan apabila menetapi syarat-syarat diterimanya suatu amal. Karena syarat diterimanya suatu amal adalah ikhlash dan benar dengan apa-apa yang disyari’atkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:
{وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى …} (76) سورة مريم
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunju…” (QS. Maryam: 76).
Membaca Al-Qur’an dengan mentadaburinya, membaca As-Sunnah (Al-Hadits, pent) dengan tujuan untuk memahami Ad-Dien, berdzikir dengan dzikir-dzikir yang masyru’, melakukan sholat sunnah, shodaqoh, shaum dan lain sebagainya semuanya ini merupakan wasilah bertambahnya iman. Bertambahnya iman bukan karena khuruj.
d) Sedangkan tafsir ( أمة) khusus untuk bangsa arab saja dan ( الناس) untuk orang-orang selain bangsa arab, ini adalah penafsiran yang tidak pernah aku (Syaikh Ahmad Yahya, pent) lihat dari generasi terbaik ummat ini, bahkan khithob (ayat ini, pent) adalah kepada seluruh ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, baik bangsa arab maupun bangsa selain arab.
Berkata Abdullah bin ‘Abas:
” هم الذين هاجروا من مكة وشهدوا بدرا والحديبية “
“Mereka adalah orang-orang yang berhijrah dari Makkah dan syahid di Badr dan Hudaibiyyah” (HR. Ahmad 1/272; An-Nasa’I dalam At-Tafsir 1/319 no. 92; Ath-Thabariy dalam Tafsirnya 7/110; Ibn Abi Haatim no. 1157; Ibn Abi Syaibah 12/155; Ath-Thabraniy dalam Al-Kabiir no. 12303; Al-Haakim 2/294 ia berkata:”Shahih menurut syarat Imam Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Berkata Al-Hafiz (Ibn Hajar, pent) dalam Al-Fath 8/225:”Sanadnya bagus”)
Berkata ‘Umar ibn Al-Khothob:
” من فعل فعلهم فهو مثلهم “
“Barangsiapa yang melakukan apa-apa yang mereka lakukan maka ia seperti mereka”2)
Dan dalam hadits Shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم…))
“Sebaik-baiknya manusia adalah pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya…” (HR. Bukhori no. 4557; Ath-Thabraniy 4/29-30; Ibn Abi Haatim no. 1161; Al-Haakim dalam Al-Mustadrok 4/84. Hadits ini dishahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Lihat Tafsir Ibn Katsir 1/392).
Berkata Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholiy hafizahullah:”Dan yang benar terhadap tafsir ayat: {كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ… } adalah umum untuk seluruh ummat di setiap masa.3 dan 4)
Catatan Kaki:
1) Lihat Al-Mauridul ‘Adzbul Zulal, hal: 250-251. Oleh: Syaikh Ahmad Yahya dan juga Jama’ah Tabligh, hal: 14. Oleh: Miyan Muhammad Aslam.
2) Lihat Ad-Durul Mantsur 2/293.
3) Lihat Tuhfatul Ahwadzi 8/353.
4) Dinukil dari kitab Al-Mauridul ‘Adzbul Zulal, hal: 265-268 dengan diringkas.



USIR JAMA'AH TABLIGH
DARI PINTU-PINTU RUMAH KALIAN
Oleh: Asy Syaikh 'Ubaid Al Jabiri


Pengantar:
Segala puji hanya bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, keluarga, serta para sahabatnya .

Amma ba'du:

Masih hangat dalam ingatan kami kejadian sekitar 3-4 tahun yang lalu akan tingkah laku dan ucapan Sururiyin Indonesia yang berada di Kuwait terhadap Tablighiy. Ucapan pembelaan mereka terhadap Tablighiy yang waktu itu akan bertandang ke tempat kami namun kami menolaknya: "Biarkan saja mereka ikut/hadir dalam kajian kita. Semoga saja mereka mendapat hidayah dengan datang ketempat/kajian kita" atau perkataan semakna dengannya*).Dan demi Allah, kami tahu pasti bahwa kalian mengetahui akan kesesatan serta penyimpangan Jama'ah Tabligh, namun mengapa kalian melakukan hal yang demikian?!

Maka perhatikanlah wahai Sururiyin (Abu 'Umair Faruq, Ummu 'Umair Indah binti Andi, Abu Abdullah Guspar, Abu Abdurrahman Waridi, Imtihan, dan Ahmad Fajri) tentang apa yang telah kalian ucapkan dan lakukan terhadap Tablighiy Indonesia yang bertandang ke Kuwait. Bukankah apa yang telah kalian ucapkan dan lakukan adalah suatu kesalahan yang sangat fatal!!? Maka sebagai nasehatku kepada kalian, perhatikanlah fatwa ulama Rabbaniy di bawah ini. Semoga kalian mendapat mengambil manfaatnya.

Pertanyaan
(Soal dibacakan oleh moderator untuk asy-Syaikh 'Ubaid al-Jabiry -hafidzhahulloh) Sang penanya ini menganggap bahwa dirinya masih awam dan dia mengeluh tentang banyaknya jama’ah tabligh yang berdatangan di depan rumahnya dan dia tidak mengetahui apa yang harus dia perbuat terhadap mereka?
Jawaban asy-Syaikh 'Ubaid al-Jabiry Pertama ; hendaklah anda bersama orang-orang yang berilmu –sebagaimana yang telah lewat (penyebutannya)- yang mereka dikenal dengan kekokohan manhaj dan keyakinan yang shohih, ambillah (ilmu) dari mereka dan belajarlah.
Kedua : Usirlah mereka (firqoh tabligh tersebut), katakan kepada mereka :“Saya tidak menginginkan kalian dan jangan lagi kalian (datang kemari) selama-lamanya. Saya bukan termasuk golongan kalian dan kalian bukan termasuk bagian dari kami. Pergilah kalian karena kami tidak menginginkan kalian”.
Jama’ah tabligh adalah jama’ah bid’ah lagi sesat dan menyesatkan, (keyakinan mereka) adalah sufiyah. Hingga puncak dari urusan mereka –yaitu orang-orang yang terjerembab ke dalam (keyakinan sufiyah)- adalah membai’at (kelompok mereka) di atas empat tarekat sufiyah, yaitu al-Jisytiyah, al-Qadiriyah, an-Naqsabandiyah dan as-Sahruwandiyah.
Dan bacalah –semoga Allah memberkahimu- tulisan as Syeikh Sa’ad al Husain hafizhohullah, dan tulisan al Akh Nazar Al Jarbu’iy serta tulisan as Syeikh Hamud At Tuwaijiriy rohimahullah. Demikian pula dari kitab-kitab sebelum as Syeikh Muhammad Aslam rahimahullah dan syarah kitab as syeikh Muhammad Aslam- saya (syeikh) kira judulnya ; (Jama’ah at Tabligh ma laha wa ma ‘alaiha) atau yang semisalnya. Namun as Syeikh Taqiyuddin Siroj rahimahullah mensyarahnya dengan judul “As Sirojul Munir”.
(Diterjemahkan oleh al-Ustadz Abu Abdir-Rahman Abdul Aziz as-Salafy dari Naskah Ushul Waqowaid Fii Manhaj Salafi Karya asy-Syaikh 'Ubaid bin Abdullah bin Sulaiman Al Jabiry -hafidzhahulloh )



Soal Jawab: Seputar Jamaah Tabligh (2)

Oleh
Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma’had Ilmi)
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab tersebut layak kita pergunakan sebagai rujukan untuk beramal? Bagaimanakah amalan mereka yang berdakwah secara door to door menghampiri umat untuk menyadarkan.
Lanjutan Jawaban:
Berikut artikel lanjutan mengenai beberapa kesalahan dakwah dan pemikiran Jamaah Tabligh beserta jawabannya (dengan beberapa perubahan format artikel) masih ditulis oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada jalan yang lurus kepada kita dan mereka…
KHURUJ ALA JAMA’AH TABLIGH (SYUBHAT DAN BANTAHANNYA)
Disusun Oleh: Abu Ihsan Al Atsari
Khuruj, merupakan salah satu metode kerja dakwah yang dikenal dalam lingkungan Jama’ah Tabligh. Metode seperti ini, tentu tidak dikenal dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengirim sembarang orang untuk tugas dakwah, apalagi mengirim orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Tidak pernah terdengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Arab badui yang tinggal di sekitar Madinah menjadi duta dakwah Beliau. Namun Beliau mengutus para sahabat yang terkemuka dalam ilmu dan agama, seperti: Mu’adz bin Jabal, Abu Musa Al Asy’ari, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhum.
Jadi, membahas khuruj ala Jama’ah Tabligh ini, bukan hanya sekadar membahas boleh tidaknya keluar untuk tujuan dakwah. Karena masalahnya tidak sesederhana itu. Mereka melakukan kegiatan tersebut dengan mengatasnamakan dakwah. Padahal, dakwah haruslah sesuai dengan tuntunan Sunnah Nabi. Karena ia termasuk ibadah. Bahkan ibadah yang sangat mulia.
Tidak pernah ditemui dalam riwayat -baik yang dhaif, apalagi yang shahih- yang menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas para sahabat untuk khuruj tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari atau satu tahun. Pembatasan hari seperti itu, juga tidak ada dalilnya dalam syari’at. Jadi, khuruj yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh ini, sebenarnya lebih mirip dengan siyahah (pengembaraan) yang biasa dilakukan oleh orang-orang Shufi.
Syaikh Saifur Rahman bin Ahmad Ad Dahlawi berkata, “Berkenaan dengan kerja tabligh berjama’ah, mereka mengatakan, ‘Ia merupakan jihad besar bahkan akbar’. Bahkan mereka membenci kerja dakwah yang tidak sesuai dengan kerja dakwah mereka. Mereka melarang manusia berdakwah kepada agama Allah, berdakwah kepada Al Quran dan As Sunnah dalam halaqah-halaqah khusus mereka. Kecuali dakwah yang sesuai dengan pokok-pokok dasar, ajaran dan manhaj jama’ah mereka. Dan masih dalam koridor hikayat-hikayat, cerita-cerita mimpi dan fadhail yang sejalan dengan aqidah dan khurafat mereka. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam masalah khuruj berjama’ah ini, sehingga melewati batas kewajaran yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata.” (Silakan lilhat buku I’tibariyah Haula Al Jama’ah Tablighiyah, hal. 43).
Hal ini telah dialami sendiri oleh Syaikh Muhammad Nasib Ar Rifa’i, ketika menyampaikan beberapa patah kalimat tentang aqidah di markas Jama’ah Tabligh. Mereka menyerang Beliau. Bahkan mengeluarkan Beliau dan berbuat yang tidak baik terhadapnya. Sebagaimana halnya beberapa perkara yang mereka cantumkan dalam adab-adab khuruj. Yakni tidak membicarakan masalah khilafiyah. Demikian mereka katakan, secara umum, baik masalah fikih maupun masalah aqidah. Hingga masalah-masalah penting yang sudah disepakati dalam aqidah, juga mereka anggap sebagai masalah khilafiyah dan melarang anggota mereka untuk membicarakannya. Wallahul musta’an.
Lalu Beliau melanjutkan lagi, “Salah satu ciri khas jama’ah ini ialah, mereka meyakini, bahwa siapa saja yang keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah, berarti telah melakukan jihad yang besar, bahkan akbar. Mereka beranggapan, keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah ini lebih afdhal daripada berperang dengan pedang dan pena, lebih afdhal daripada memerangi musuh Allah dan Rasul-Nya, lebih afdhal daripada memelihara kemurnian Islam dan keutuhan kaum muslimin (Bukti yang menguatkannya ialah pernyataan dari seorang ulama dan para penuntut ilmu pada masa peperangan jihad Afghanistan melawan kaum komunis, bahwa Jama’ah Tabligh mendatangi tempat-tempat mereka untuk mengajak mereka khuruj bersama jama’ah mereka!). Barang siapa melakukannya, berarti ia telah melaksanakan sunah para nabi dan rasul, telah melaksanakan sunah sayyidul anbiyaa’ wal mursalin, Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam. Berarti ia telah keluar seperti halnya sahabat radhiallahu ‘anhum ajma’ain dalam peperangan dan medan jihad.” (Silakan lihat buku I’tibariyah Haula Al Jama’ah Tablighiyah, hal. 51).
JAWABAN TERHADAP SYUBHAT-SYUBHAT MEREKA
Pertama. Argumentasi mereka dengan ayat:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)
Adalah argumentasi yang batil. Karena maksud kata ukhrijat, bukanlah khuruj seperti yang mereka artikan itu.
Kedua, argumentasi mereka dengan ayat-ayat dan hadits-hadits jihad merupakan tahrif (penyimpangan makna). Sebab, yang dimaksud berjihad adalah berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh agama.
Ketiga, argumentasi mereka dengan tersebarnya kubur para sahabat di luar jazirah Arab, juga merupakan argumentasi yang menyesatkan. Karena para sahabat keluar dari negeri mereka bersama para pasukan, berperang fi sabilillah untuk memperluas wilayah Islam dan untuk meninggikan kalimat Allah.
Keempat, argumentasi mereka dengan firman Allah:
التَّآئِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji (Allah), yang berjihad, yang ruku’, yang sujud.” (QS. At Taubah: 112)
Adalah kejahilan terhadap Kitabullah. Sebab yang dimaksud dengan as-saa-ihuun, adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Ibnu Katsir berkata, “Ada bukti yang menguatkan, bahwa yang dimaksud dengan siyaahah di sini ialah jihad… bukan maksudnya siyaahah yang dipahami oleh sebagian orang yang beribadah hanya dengan melakukan siyaahah (pengembaraan) di muka bumi.” (Tafsir Al Qur’an Al Adhzim II/407).
Kelima, membatasi khuruj mereka dengan tiga hari, empat puluh hari, tiga bulan atau satu tahun adalah bid’ah yang tidak ada contohnya dalam agama. Mereka berdalil dengan ayat-ayat Al Quran yang tidak ada sangkut- pautnya dengan khuruj mereka. Untuk khuruj tiga hari mereka berdalil dengan ayat:
فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ
Maka berkata Shalih, “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)
Dan berdalil dengan batas waktu mengqashar shalat, yakni tiga hari. Untuk khuruj empat puluh hari, mereka berdalil ayat:
وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاَثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.” (QS. Al A’raf: 142)
Untuk khuruj empat bulan mereka berdalil dengan ayat:
فَسِيحُوا فِي اْلأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ
“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan.” (QS. At Taubah: 2)
Dan dengan ayat:
لِّلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِن نِّسَآئِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ
“Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).” (QS. Al Baqarah: 226)
Argumentasi seperti itu terlalu dipaksakan dan merupakan tahrif (penyelewengan) terhadap Kitabullah dari maksud yang sebenarnya. Jelas, angka-angka yang disebutkan dalam ayat di atas bukanlah batasan untuk khuruj dalam arti kata dakwah. Bahkan beberapa ayat di atas sebenarnya ditujukan kepada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, seperti dalam surat Hud ayat 65 dan At Taubah ayat 2 di atas.
Dengan pendalilan yang dipaksakan ini mereka akan sangat kerepotan ketika menghadapi ayat,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ankaabut: 14)
Apakah ada di antara mereka yang sanggup mengerjakan khuruj selama 950 tahun!! Padahal Allah tidak mungkin membebani manusia dengan syariat di luar batas kemampuan manusia. Ini adalah salah satu bukti kesalahan mereka dalam memberikan argumen mengenai dasar syariat khuruj ala Jamaah Tablig -ed.
Keenam. Mereka katakan, khuruj yang mereka lakukan itu menghasilkan sejumlah faidah. Di antaranya banyak orang yang masuk Islam melalui dakwah mereka. Jawaban terhadap alasan mereka ini sebagai berikut:
(1) Kita tidak boleh mencapai satu tujuan dengan segala cara. Sebagaimana tujuannya harus mulia, caranya juga harus benar dan bersih dari bid’ah. Adapun khuruj ala Jama’ah Tabligh ini merupakan bid’ah yang paling buruk dalam dakwah.
(2) Kebanyakan para pelaku maksiat yang bergabung bersama Jama’ah Tabligh, akhirnya mengikuti pola mereka. Padahal keadaan mereka sebelumnya sebenarnya lebih baik. Sebab maksiat lebih ringan kerusakannya daripada bid’ah. Pelaku maksiat masih bisa diharapkan bertaubat. Berbeda halnya dengan para pelaku bid’ah, sulit sekali diharapkan bertaubat. Oleh sebab itu Sufyan Ats Tsauri berkata, “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat, karena maksiat masih bisa diharapkan bertaubat darinya, sementara bid’ah sukar diharapkan bertaubat darinya.”
Ketika menyebutkan sifat kaum Sufi, imam Al ‘Izz bin Abdus Salam berkata, “Mereka (kaum Sufi) lebih buruk daripada para perompak dan penyamun. Karena kaum Sufi menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Mereka sengaja mengucapkan perkataan-perkataan yang buruk terhadap Allah dan berbuat tidak etis terhadap para Nabi, Rasul, para pengikut Nabi dan Rasul dari kalangan ulama dan orang-orang yang bertakwa. Melarang pengikut mereka dari mendengarkan perkataan para ahli fikih, karena mereka tahu, para ahli fikih tersebut melarang orang untuk mengikuti mereka dan mengikuti manhaj mereka.” (Qawaaidul Ahkam II/178-180).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membantah kaum ahli bid’ah para pengikut thariqat Rifa’iyah yang mengaku telah berhasil menyelamatkan manusia dari lembah maksiat. Beliau berkata, “Sebagian mereka ada yang berkata, ‘Kami berhasil mengajak manusia bertaubat’. Aku katakan kepada mereka, ‘Dari apa mereka bertaubat?’ Ia berkata, ‘Dari menyamun, mencuri dan sebagainya.’ Aku katakan, ‘Keadaan mereka sebelum kalian ajak bertaubat lebih baik daripada setelah kalian ajak bergabung bersama kalian. Sebab, mereka dahulu orang fasik yang meyakini, bahwa perbuatan mereka itu haram dan mereka masih mengharapkan kasih sayang Allah dan bertaubat kepada-Nya, serta berniat untuk bertaubat. Lalu setelah kalian ajak bertaubat, mereka berubah menjadi orang sesat dan orang yang berbuat syirik, keluar dari syariat Islam, menyukai apa yang dibenci Allah dan membenci apa yang dicintai Allah. Kami tegaskan, bahwa bid’ah yang mereka dan kalian lakukan itu lebih buruk daripada maksiat’.” (Ar Rasaail wal Masaail I/153).
Ketika menyebutkan biografi Mihyar Ad Dailami, berkatalah Al Hafidz Ibnu Katsir, “Dahulu ia penganut agama Majusi, lalu masuk Islam. Sayangnya, ia jatuh dalam dekapan kaum Rafidhah. Ia menggubah syair-syair dalam mazhab Rafidhah yang berisi caci-maki terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum. Hingga Abul Qasim bin Burhan mengatakan, ‘Hai Mihyar, engkau berpindah dari satu sudut neraka kepada sudut lainnya. Engkau dahulu penganut agama Majusi, kemudian engkau masuk Islam dan mencaci-maki sahabat Nabi!’” (Al-Bidayah wa Nihayah XII/41).
Syaikh Hamud At Tuwaijri mengatakan, “Para ahli sejarah sebelum dan sesudah Ibnu Katsir juga banyak yang membawakan kisah tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengingkari perkataan Ibnu Burhan terhadap Mihyar ini. Itu menunjukkan, bahwa mereka menyetujui perkataan tersebut. Kisah tersebut mirip dengan keadaan orang-orang yang masuk Islam lewat Jamaah Tabligh, kemudian mereka mengikuti bid’ah, kejahilan dan kerusakan aqidah jama’ah ini…” (Al Qaulul Baligh fit Tahdzir Min Jamaah Tabligh, halaman 225).
Demikianlah jawaban terhadap beberapa argumentasi yang mereka bawakan. Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan mereka lainnya, namun semua itu tidak jauh berbeda dengan argumentasi di atas tadi. (Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membukakan hati kita semua -ed).
***
Penanya: Abdul Halim Firhad
Dijawab oleh: Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma’had Ilmi)

Soal Jawab: Seputar Jamaah Tabligh (1)
Penanya: Abdul Halim Firhad
Dijawab oleh: Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma’had Ilmi)

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab tersebut layak kita pergunakan sebagai rujukan untuk beramal? Bagaimanakah amalan mereka yang berdakwah secara door to door menghampiri umat untuk menyadarkan.
Jawaban:
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Berikut kami sertakan artikel seputar Jamaah Tabligh yang disusun oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari dengan sedikit perubahan yang tidak mengurangi intisari permasalahan.
JAMA’AH TABLIGH (SUFI GAYA BARU)
Disusun Oleh: Abu Ihsan Al-Atsary
Syaikh Al Albani pernah ditanya tentang buku berjudul Zhahiratul Irja’ Fil Fikr Islami, karangan Safar Al Hawali. Di dalamnya disebutkan tentang vonis kafir terhadap pelaku sebagian dosa besar. Beliau menjawab, “Dahulu saya pernah melontarkan sebuah pendapat, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih mengajar di Al Jami’ah (maksud Beliau Jami’ah Islamiyah Madinah An Nabawiyah). Dalam sebuah majelis yang besar, saya ditanya, bagaimana pandangan saya terhadap Jama’ah Tabligh. Ketika itu saya jawab: Shufi gaya baru. Sekarang terbetik dalam hatiku untuk mengomentari jama’ah yang muncul saat ini dan menyelisihi manhaj Salaf. Saya katakan -sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Adz Dzahabi, ‘Mereka telah menyelisihi Salaf dalam sejumlah persoalan manhaj,’ maka saya sebut mereka ini: Khawarij gaya baru.”
Pada kesempatan kali ini kali ini, kami akan mengupas seputar Jama’ah Tabligh, yang oleh Syaikh Al Albani disebut Shufi gaya baru. Akan kami tunjukkan bukti-bukti kebenaran perkataan Syaikh Al Albani tersebut. Perlu diketahui, bahwa Syaikh Al Albani mengatakan hal itu tiga puluh tahun atau bahkan empat puluh tahun yang lampau, sebagaimana tersebut dalam pengakuan Beliau di atas.
MENGENAL MUHAMMAD ILYAS, PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jama’ah Tabligh didirikan oleh Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail Al Kandahlawi Ad Deobandi Al Jisyti. Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung bernama Kandhla di Saharanpur India. Dia lahir pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband. Salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini didirikan pada tahun 1283H. Menurut pengakuan pendirinya, madrasah tersebut didirikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau menghadiri perayaan-perayaan masyayaikh madrasah tersebut. Al Jisyti adalah nisbat kepada salah satu tharikat shufi bernama Jisytiyyah. Silsilah tharikat tersebut dimulai dari India, dari seorang Shufi bernama Khawajah Mu’inuddin Al Jisyti. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di Kandhla, sebuah desa di kawasan Muzhaffar Naghar di wilayah Uttarpradesh, India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi India yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah ini. Muhammad Ilyas meninggal pada tahun 1364H. Setelah itu kepemimpinan Jama’ah Tabligh dipegang oleh anaknya bernama Muhammad Yusuf, meninggal dunia pada tahun 1385H. Setelah itu Jama’ah Tabligh dipimpin oleh In’aamul Hasan sampai ia meninggal pada tahun 1416H. Hingga saat ini tidak ada seorangpun yang menggantikannya. Apa alasannya? Masih tidak jelas. Akan tetapi sebagian anggota Jama’ah Tabligh mengatakan, bahwa mereka menunggu kedatangan Mahdi. (Silakan lihat Jama’ah Islamiyah, karangan Salim bin ‘Ied Al Hilali, hal. 362).




ASAL-USUL BERDIRINYA JAMA’AH TABLIGH
Muhammad Ilyas, pendiri Jama’ah Tabligh mengatakan, “Tersingkaplah bagiku usaha dakwah tabligh ini dan diresapkan ke dalam hatiku, dalam mimpi tafsir ayat:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia seperti halnya para nabi. Firman Allah: ‘dikeluarkan’ merupakan isyarat, bahwa kerja dakwah ini tidak hanya di satu tempat saja, namun dibutuhkan perjalanan ke negeri-negeri lain. Dan tugasmu adalah amar ma’ruf nahi mungkar.” (Dinukil dari buku Malfudhat Ilyas, hal. 57, oleh Muhammad Aslam dalam kitabnya yang berjudul Jama’ah Tabligh, Aqidatuha wa Afkaruha wa Masyayikhiha, hal. 14). Konon katanya, peristiwa itu terjadi di Madinah An Nabawiyah, seperti yang dinukil oleh Abul Hasan An Nadwi dalam kitabnya berjudul Syaikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Ad Diiniyyah. (Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, terbitan As Shaff, tahun 1999).
“Pada kesempatan haji yang kedua inilah, Allah subhanahu wa ta’ala telah membuka hati Maulana Ilyas untuk memulai usaha dakwah dan pergerakan agama yang menyeluruh. Dia mengakui dirinya lemah, sedangkan usaha dakwah merupakan sebuah usaha yang besar. Namun demikian, Beliau telah bertekad untuk melaksanakan usaha tersebut. Beliau sangat yakin, bahwa pertolongan Allah akan menyertainya, sehingga Beliau merasa lega. Selanjutnya Beliau meninggalkan kota Madinah -setelah tinggal di sana selama lima bulan- dan tiba di Kandla pada tanggal 13 Rabi’ul Akhir 1345 H, bertepatan dengan tanggal 25 September 1925. Setelah pulang dari haji, Maulana memulai usaha tabligh dan mengajak orang lain untuk bergabung dalam usaha yang sama. Serta mengajarkan kepada khalayak ramai tentang rukun-rukun Islam, seperti: syahadat, shalat dan lain sebagainya…”
Muhammad Ilyas juga berkata, “Sesungguhnya, jika mengingatnya aku merasa terhimpit beban berat. Ketika hal ini aku sampaikan kepada Syaikh Ganggohi -yakni Rasyid Ahmad Ganggohi mursyid Muhammad Ilyaas- ia gemetar, lalu berkata, ‘Syaikh Muhammad Qasim telah mengadukan perkara serupa seperti itu kepada Haji Imdadullah’.” (Syaikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Ad Diiniyyah, karangan Abul Hasan An Nadwi, hal. 15).
Adapun pengaduan Muhammad Qasim Nanuti kepada mursyidnya ialah, “Setiap kali aku meletakkan tasbih di tanganku, aku pasti ditimpa musibah dan terhimpit beban berat. Kalaulah seseorang meletakkan batu-batu besar di atasku, maka seolah-olah setiap batu beratnya seratus ton, akan terhentilah gerakan lisan dan hati. Syaikh Imdadullah berkata kepada muridnya, Muhammad Qasim Nanuti, ‘Ini merupakan karunia nubuwah yang diresapkan ke dalam hatimu. Itulah beban berat yang dirasakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika turun wahyu. Allah akan menggunakan dirimu untuk sebuah tugas yang dahulu dilakukan oleh para nabi’.” (Sawanih Qasimi I/258-259).
Menanggapi perkataan Muhammad Ilyas, “Tersingkaplah bagiku kerja dakwah tabligh ini dan diresapkan ke dalam hatiku, dalam mimpi tafsir ayat… Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia seperti halnya para nabi…”
Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam kitab Jama’ah Islaamiyah, hal. 366 mengatakan, “Ini sejenis wahyu, jika mereka katakan: Ini adalah ilham! Maka aku katakan: Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendapat ilham, karena syariat telah sempurna dan tidak membutuhkan ilham. Jika memang ada yang mendapat ilham, maka orang itu adalah Umar, bukan yang lainnya sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dan dari perkataannya: Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia seperti halnya para nabi; ini merupakan pengakuan, bahwa dirinya sejajar dengan para nabi, mendapat ilham dan wahyu. Bahkan dalam tulisan-tulisannya, Muhammad Ilyas menganggap bahwa anggota jama’ahnya mampu melakukan amalan yang tidak dapat dilakukan oleh nabi sekalipun (Silakan lihat kitab Jama’ah Tabligh, Aqidatuha wa Afkaruha wa Masyayikhiha, hal. 45-46). Dan pengakuan-pengakuan seperti ini persis seperti pengakuan kaum Shufi, seperti pengakuan Ahmad Ar Rifa’i -pendiri tharikat Ar Rifa’iyyah- yang mengklaim mendapat titah langsung dari Rasulullah ketika ia berziarah ke makam Rasul. Atau seperti Ahmad At Tijani yang mengaku mendapat perintah langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ilham yang diklaim oleh Muhammad Ilyas ini, yang dibanggakan oleh murid-muridnya lalu dilaksanakan oleh jama’ahnya, sebenarnya ia ambil dari pemikiran Jama’ah An Nuur di Turki. Enam sifat yang selalu mereka dengung-dengungkan itu, sebenarnya dikarang oleh Badi’uz Zaman Sa’id An Nuuri, yakni ketika Muhammad Ilyas pergi ke Hijaz. Dia mendengar darinya, kemudian menerapkannya. Lalu mengklaim, bahwa ia mendapatkannya melalui mimpi…. (Silakan lihat kitab Jama’ah Tabligh, Aqidatuha wa Afkaruha wa Masyayikhiha, hal. 45-46 dan kitab Jama’ah Islamiyah, karangan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali).
GHULUW (BERLEBIHAN) TERHADAP MUHAMMAD ILYAS DAN USAHA TABLIGHNYA
Sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap guru, merupakan salah satu ciri kaum Shufi. Demikian pula halnya sikap para pengikut Jama’ah Tabligh terhadap guru mereka, Muhammad Ilyas, ataupun tokoh-tokoh mereka lainnya. Contohnya ialah perkataan Muhammad Ilyas sendiri, bahwa jama’ahnya mampu melakukan amalan yang tidak dapat dilakukan oleh para nabi sekalipun. Muhammad Ilyas menulis dalam khutbahnya yang dikirimkan kepada anggota-anggota jama’ahnya: “Sungguh, jika Allah tidak menghendaki seseorang untuk beramal, maka tidak akan mungkin dapat ia lakukan. Hingga para nabi sekalipun, tidak akan mungkin mereka melakukan, meskipun mengerahkan kemampuan mereka untuk mengerjakannya. Namun, jika Allah menghendaki, orang-orang lemah seperti kalian mampu untuk melakukan amalan yang tidak dapat dilakukan oleh para nabi sekalipun.” (Makatib Ilyas, hal. 107, 108).
Contoh lainnya ialah perkataan Abul Hasan An Nadwi, “Sungguh, dalam diri Maulana Muhammad Ilyas sejak kecil telah nampak ruh dan semangat para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dia memiliki kerisauan dan perhatian begitu tinggi terhadap agama dan dakwah. Sehingga Syaikh Mahmud Hasan, yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (Guru Besar ilmu hadits di madrasah Darul Ulum Deoband) mengatakan, ‘Sesungguhnya, apabila aku melihat Maulana Ilyas, maka akupun teringat para sahabat radhiallahu ‘anhum.’” (Silakan lihat buku Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, tulisan Abul Hasan An Nadwi, hal. 9).
Coba pula perhatikan perkataan Abul Hasan An Nadwi yang terlalu berlebihan tentang Maulana Muhammad Ilyas ini, “Gambaran sebenarnya mengenai usaha dakwah ini (dakwah Tabligh), tidak mungkin bisa terungkapkan melalui tulisan. Kata-kata terlalu lemah untuk menjelaskan hakikat, cara-cara dan perasaan yang dialami oleh seseorang. Kata-kata dan tulisan mustahil dapat melukiskan perasaan dan pandangan Beliau (Syaikh Muhammad Ilyas). Syaikh Muhammad Ilyas memiliki cita-cita dan tekad yang luar biasa. Jika Beliau telah berazam mengerjakan sesuatu, kesulitan apapun tidak mampu menghalanginya. Meski kesehatan Beliau terganggu dan badan Beliau lemah, namun semangat Beliau tetap tinggi. Pendeknya Beliau benar-benar tidak mengenal putus asa. Memang benar apa yang dikatakan Syaikh Manzhur Nu’mani, bahwa Syaikh Muhammad Ilyas telah mengorbankan segala-galanya, bahkan di luar kemampuannya dalam rangka mengembangkan usaha dakwah dan pembaharuan. Boleh dikatakan, seandainya surga dengan segala kenikmatannya atau neraka dengan segala siksanya diletakkan di depan seseorang, kemudian dikatakan kepadanya, ‘Jika kamu melakukan demikian, kamu akan mendapatkan surga. Jika kamu meninggalkannya, kamu akan dilemparkan ke dalam neraka,’ orang tersebut tetap tidak akan melakukan usaha yang lebih banyak, dibandingkan usaha yang telah dilakukan oleh Syaikh Muhammad Ilyas dalam berdakwah menyeru manusia kepada Allah, terutama pada saat menjelang akhir kehidupannya.” (Silakan lihat buku Maulana Muhammad Ilyas Di antara Pengikut & Penentangnya, karangan Dr. Abdul Khaliq Pirzada, hal. 6).
Coba perhatikan pula penuturan Manzhur Nu’mani -yang tidak kalah berlebihan dengan pernyataan Abul Hasan An Nadwi di atas-, “Saya yakin, bahwa usaha ini (dakwah Tabligh) merupakan satu-satunya usaha yang dapat menghidupkan kembali ruh keimanan dengan sempurna di kalangan umat Islam.” (Ibid hal. 5). Jelas sebuah pernyataan yang terlalu berlebihan dan tidak sepatutnya diucapkan. Perkataan seperti itu mirip perkataan kaum Shufi dalam mengagungkan kelompok tharikat dan mursyid mereka.
Bahkan menurut klaim pengikut dan simpatisannya, Muhammad Ilyas ini telah mencapai derajat ihsan. Seperti yang dikatakan oleh Abul Hasan An Nadwi, “Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ihsan adalah ‘hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya’. Dalam riwayat lain disebutkan, hendaklah kamu takut kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Maulana Muhammad Ilyas telah mengamalkan makna hadits tersebut. Bahkan dalam keadaan ramai, seolah-olah Beliau merasa dalam keadaan sepi saja. Sehingga Beliau akan bermunajat kepada Tuhannya. Hal ini dibenarkan oleh Syaikh Manzhur Nu’mani, yang secara langsung melihat kehidupan Beliau. Dia mengatakan, “Sesungguhnya, ketika Beliau membaca kalimat, ‘Maha suci Allah dengan puja-pujiNya. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Engkau, Engkaulah Yang Esa, tiada sekutu bagi Engkau. Aku memohon ampun kepada Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Yang Maha Berdiri Sendiri. Dengan rahmatMu, aku memohon pertolongan. Perbaikilah keadaanku semuanya. Dan janganlah Engkau serahkan aku kepada nafsuku, walau sekejap mata’. Beliau membaca kalimat-kalimat tersebut, seolah-olah sedang berada di hadapan Arsy Allah subhanahu wa ta’ala.” (Silakan lihat buku Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, tulisan Abul Hasan An Nadwi, hal. 143).
Begitulah penegasan mereka, tanpa memberi peluang untuk mengatakan insya Allah. Mereka memastikan guru dan tokoh mereka itu telah memperoleh predikat muhsin. Sungguh ini merupakan salah satu sikap ghuluw yang diwarisi dari kaum Shufi terdahulu dalam menyanjung guru dan mursyid atau pemimpin tharikat mereka.
JAMA’AH TABLIGH DAN KITAB FADHAIL AMAL
Buku Fadhail Amal ini merupakan salah satu buku rujukan utama Jama’ah Tabligh. Dikarang oleh Muhammad Zakariya Al Kandahlawi, yang tidak lain merupakan kemenakan sekaligus menantu Muhammad Ilyas. Buku ini seolah-olah dikeramatkan oleh Jama’ah Tabligh. Ke mana saja Jama’ah ini bergerak, buku inilah yang mereka bawa ke mana-mana. Hampir di setiap masjid yang didiami Jama’ah Tabligh, pasti di situ ada buku ini. Bahkan, buku inilah yang sering mereka baca secara berkelompok setiap dalam bayan selesai shalat. Perlu pembaca ketahui, bahwa Muhammad Ilyas, menyetujui kitab ini. Bahkan karena demikian gembiranya atas buku ini, ia mengungkapkannya dalam bentuk tulisan juga. Sebagaimana tertulis dalam salah satu suratnya kepada beberapa alim ulama, “Syaikhul hadits (Muhammad Zakaria) telah berhasil menulis sebuah kitab. Memang hati saya menghendaki agar setiap bagian dari kerja tabligh ini ada satu risalah yang ditulis oleh Beliau.”
Dalam tulisan lain, Muhammad Ilyas mengatakan, “Semoga Allah menerima tulisanmu dan juga pengaruhnya. Seandainya engkau pegang kemuliaan tabligh ini, maka insya Allah bukumu dan pengaruhnya tidak hanya tersebar di negeri India saja, bahkan juga membanjiri tanah Arab dan Ajam.” (Silakan lihat buku Menjawab Kritikan Atas Kitab Fadhail Amal, hal. 25. Disusun oleh Maulana Sayyid Muhammad Syahid, diterbitkan Pustaka Da’i, Bandung. Pada sampul buku tersebut tertulis: Khusus Qudama (senior) Tabligh).
Mengenai hadits-hadits dhaif, maudhu’ dan tidak ada asalnya yang terdapat dalam buku ini, sudah sangat masyhur. Para ulama Ahlusunnah wal Jamaah telah menjelaskan hal tersebut. Di antaranya ialah Syaikh Sa’ad Al Hushayin yang telah menyertai jamaah ini selama delapan tahun, kemudian keluar.
Namun ada satu hal yang mesti pembaca ketahui, mengenai asal-usul penulisan buku ini. Konon, kata penulisnya, Muhammad Zakariya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memeriksa buku tulisannya ini dan menyetujuinya. Sayyid Muhammad Syahid menuturkan, “Beberapa tahun yang telah lampau, secara tiba-tiba dengan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, Beliau telah dimudahkan untuk berziarah ke tanah Hijaz. Dan kemudian -alhamdulillah- Beliau mendapat kesempatan untuk tinggal di Madinah Al Munawwarah selama setahun penuh. Selama tinggal di sana, Beliau banyak mengalami mimpi-mimpi baik yang menggembirakan tentang kitab Beliau ini, serta ucapan-ucapan pujian atas kitab yang telah Beliau susun dari para shalihin secara kelompok ataupun pribadi. Akan tetapi, bagi Beliau mimpi-mimpi itu lebih utama daripada segala keutamaan yang lainnya. Sebagaimana yang telah Beliau saksikan sendiri. Kebiasaan dan aturan Beliau dalam menceritakan mimpinya tidaklah tetap. Tidak juga Beliau menyimpannya saja. Kadang-kadang, sepintas lalu Beliau teringat, kemudian menceritakannya. Kadang-kadang Beliau juga terpengaruh oleh suatu semangat khusus, sehingga Beliau tulis kejadian-kejadian dalam mimpi tersebut di dalam buku hariannya. Sehingga para khadim dan pelayan Beliau pun mengetahui tentang mimpi-mimpinya. Jika tidak, tentu Beliau menyimpannya sendiri dan menjadi seorang pendiam. Walau bagaimanapun, ada sebuah tulisan mengenai salah satu mimpi Beliau tentang kitab Fadhail Amal, yang Beliau tulis dalam buku hariannya, yaitu demikian, ‘Sekarang -setelah shalat Jum’at- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang. Beliau memeriksa risalah yang pertama dari kitab Fadhail Amal. Dan pada esok hari, Beliau akan memeriksa tentang risalah Tabligh’. Mimpi ini, Beliau lihat pada tanggal 27 Jumadil Awwal 1393H, setelah shalat Jum’at ketika Beliau tidur siang.” (Ibid hal. 26).
Dalam buku Hadrat Syaikh Maulana Zakariya, tulisan Sufi Muhammad Iqbal disebutkan, “Maulana Muhammad Zakariya telah melihat di dalam mimpi, bahwa draft kitab-kitabku, seperti Aujaz telah disusun dan daku akan serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sebelah kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diduduki oleh Alama Zarkani dan Allama Baaji di sebelah kiri. Apabila daku menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, daku lihat kitab Aujaz yang lengkap berada di tangannya, yang serupa dengan kitab-kitab yang kubawa bersama-samaku untuk ditunjukkan kepada baginda Rasul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bergembira dan berdoa yang aku tidak dapat ingat. Daku sangat gembira dengan mimpi ini, dan berharap usahaku menyusun Aujaz dapat diterima.” (Lihat buku Hadrat Maulana Zakariya, tulisan Sufi Muhammad Iqbal, hal. 7).
Coba lihat, betapa miripnya dengan pengakuan Ibnu Arabi yang sesat dan telah sepakat dikafirkan oleh para ulama tentang bukunya Fushusul Hikam -kitab suci kaum Shufi- ia berkata, “Amma ba’du, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi pada sepuluh terakhir bulan Muharram tahun 627H di Mahrusah Damaskus. Beliau memegang sebuah kitab, lalu berkata kepadaku, “Ini adalah kitab Fushusul Hikam, ambillah kitab ini dan sebarkan ke tengah-tengah manusia, agar mereka mendulang faidah darinya.” Kataku, “Patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya serta Ulil Amri, seperti yang telah diperintahkan kepada kami.” Maka aku pun mewujudkan cita-cita tersebut, aku ikhlaskan niat dan aku bulatkan tekad untuk meluncurkan kitab ini, sebagaimana yang telah digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku, tanpa ditambah dan dikurangi.” (Fushusul Hikam, hal. 47).
Keberanian dusta atas nama Rasulullah, bukanlah perkara baru bagi kaum Shufi. Bahkan tidak lengkap suatu urusan tanpa dusta tersebut. Apa yang kami nukil di atas tadi sudah cukup menjadi buktinya. Tahukah pembaca, bahwa dalam buku Fadhail Amal ini banyak sekali hikayat-hikayat yang tidak jelas kebenarannya. Bahkan sudah nyata kesesatan dan kebatilannya. Mungkinkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan dan menyetujui kitab ini? Sungguh itu merupakan dusta yang keji. Dalam buku yang dipuji oleh Muhammad Ilyas dan diklaim telah diperiksa serta disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, disebutkan tafsir batil dan sesat kaum Shufi tentang keutamaan surat Al Fatihah. Berikut penukilannya:
“Sebagian ahli Shufi mengatakan, segala apa yang ada dalam kitab-kitab Allah terdahulu adalah terkandung dalam Al Qur’an. Apa yang ada di dalam Al Qur’an, semuanya terkandung dalam surat Al Fatihah. Semua apa yang terkandung dalam surat Al Fatihah terdapat di dalam Bismillah, dan apa yang terkandung dalam Bismillah terdapat pada huruf pertamanya (yaitu huruf ba’). Diterangkan juga dalam syarah, bahwa huruf ba’ artinya menyatakan suatu tempat. Maksudnya ialah seorang hamba menyatakan pengesaannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari segala sesuatu. Sebagian lagi menafsirkannya dengan lebih mendalam. Apa saja yang terdapat dalam huruf ba’ adalah terkandung di dalam titik yang menggambarkan keesaan Allah. Di dalam istilah disebut nuqthah (titik), artinya sesuatu yang tidak dapat dipecah-pecah lagi.” (Silakan lihat kitab Fadhail Amal, hal. 394; kitab Fadhilah Al Qur’an, diterbitkan Pustaka Ramadhan).
Patutkah buku yang memuat khurafat dan bid’ah seperti itu dikatakan telah diperiksa oleh Rasulullah?! Itulah buku yang dipuji-puji oleh Muhammad Ilyas.

مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِباً
“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al Kahfi:5)
SATU LAGI KEYAKINAN SUFI
Ternyata pemikiran Sufi ini juga dimiliki oleh anak Muhammad Ilyas, yang meneruskan kepemimpinan Tabligh sepeninggal ayahnya, yakni Maulana Muhammad Yusuf. Nampak dalam buku yang ditulis oleh Maulana Muhammad Manshur berjudul Mutiara Nasihat Maulana Ilyas dan Maulana Yusuf, berikut ialah perkataannya:
“No: 223 Allah subhanahu wa ta’ala Menciptakan Dunia Dikarenakan Adanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan dunia beserta segala isinya, karena adanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi pada hakikatnya adalah milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang yang menggunakan benda-benda yang ada di dunia ini, tanpa mempedulikan dibolehkan atau tidak oleh Allah dan RasulNya, maka berarti ia telah menjadi seorang pencuri. Karena mempergunakan sesuatu tanpa izin, sama dengan pencurian.” (Silakan lihat buku Mutiara Nasihat Maulana Ilyas dan Maulana Yusuf, karangan Maulana Muhammad Manshur hal. 123, diterbitkan Pustaka Ramadhan Bandung).
Bukankah pernyataan ini setali tiga uang dengan keyakinan Nur Muhammadi yang dianut oleh kaum Shufi?! Dalam kitab Jama’ah Islamiyah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali menjelaskan sesatnya keyakinan kaum Shufi ini. Beliau mengatakan:
“Menurut kaum Sufi, seluruh alam semesta ini diciptakan karena Muhammad. Ibnu Nabatah Al Mishri berkata:
Kalau bukan karenanya (Muhammad), niscaya bumi, ufuk, zaman, makhluk dan gunung tidak akan ada.
Al Bushairi berkata dalam kitab Nahjul Burdah:
Mengapakah engkau mengajaknya (Muhammad) kepada dunia Padahal sekiranya kalaulah bukan karenanya, niscaya dunia tidak akan ada.
(Silakan lihat kitab Al Jama’ah Al Islamiyah, karangan Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilali).
Itulah keyakinan kaum Shufi yang diadopsi oleh Jama’ah Tabligh.
TAKLID BUTA ALA SUFI
Salah satu ajaran Sufi yang sangat populer ialah ketundukan mutlak kepada pemimpin atau guru, benar ataupun salah perintah gurunya itu. Ali Wafa berkata, “Murid yang sejati dalam berperilaku di hadapan syaikhnya, laksana mayat yang terbaring di hadapan petugas yang memandikannya.” Al Ghazzali berkata, “Hendaklah ia ketahui, mengikuti kesalahan gurunya bila benar salah, lebih bermanfaat daripada mengikuti pendapatnya, meski pendapatnya itu benar.” (Ibid III/76).
Kelihatannya, prinsip taklid buta ini juga dipegang oleh Jama’ah Tabligh. Dalam buku Hikmah Usaha Hidayat, karangan Muhammad Yunus Suraji Panidi, hal. 102 disebutkan, “Jama’ah manapun yang datang dari luar negeri sekali pun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas Besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun usulan itu, walaupun kelihatan baik.”
Sebenarnya masih banyak warna-warni Shufi pada Jama’ah Tabligh, yang menegaskan adanya benang merah antara Jama’ah Tabligh dengan ajaran Shufi. Semoga yang kami sebutkan di atas, sudah cukup untuk membuktikan kebenaran perkataan Syaikh Al Albani rahimahullah tentang Jama’ah Tabligh. Semoga peringatan ini bermanfaat bagi orang-orang yang ingin mencari kebenaran dan tidak terbelenggu dengan fanatik golongan yang tercela.

Soal Jawab: Seputar Jamaah Tabligh (2)
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab tersebut layak kita pergunakan sebagai rujukan untuk beramal? Bagaimanakah amalan mereka yang berdakwah secara door to door menghampiri umat untuk menyadarkan.
Lanjutan Jawaban:
Berikut artikel lanjutan mengenai beberapa kesalahan dakwah dan pemikiran Jamaah Tabligh beserta jawabannya (dengan beberapa perubahan format artikel) masih ditulis oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada jalan yang lurus kepada kita dan mereka…
KHURUJ ALA JAMA’AH TABLIGH (SYUBHAT DAN BANTAHANNYA)
Disusun Oleh: Abu Ihsan Al Atsari
Khuruj, merupakan salah satu metode kerja dakwah yang dikenal dalam lingkungan Jama’ah Tabligh. Metode seperti ini, tentu tidak dikenal dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengirim sembarang orang untuk tugas dakwah, apalagi mengirim orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Tidak pernah terdengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Arab badui yang tinggal di sekitar Madinah menjadi duta dakwah Beliau. Namun Beliau mengutus para sahabat yang terkemuka dalam ilmu dan agama, seperti: Mu’adz bin Jabal, Abu Musa Al Asy’ari, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhum.
Jadi, membahas khuruj ala Jama’ah Tabligh ini, bukan hanya sekadar membahas boleh tidaknya keluar untuk tujuan dakwah. Karena masalahnya tidak sesederhana itu. Mereka melakukan kegiatan tersebut dengan mengatasnamakan dakwah. Padahal, dakwah haruslah sesuai dengan tuntunan Sunnah Nabi. Karena ia termasuk ibadah. Bahkan ibadah yang sangat mulia.
Tidak pernah ditemui dalam riwayat -baik yang dhaif, apalagi yang shahih- yang menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas para sahabat untuk khuruj tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari atau satu tahun. Pembatasan hari seperti itu, juga tidak ada dalilnya dalam syari’at. Jadi, khuruj yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh ini, sebenarnya lebih mirip dengan siyahah (pengembaraan) yang biasa dilakukan oleh orang-orang Shufi.
Syaikh Saifur Rahman bin Ahmad Ad Dahlawi berkata, “Berkenaan dengan kerja tabligh berjama’ah, mereka mengatakan, ‘Ia merupakan jihad besar bahkan akbar’. Bahkan mereka membenci kerja dakwah yang tidak sesuai dengan kerja dakwah mereka. Mereka melarang manusia berdakwah kepada agama Allah, berdakwah kepada Al Quran dan As Sunnah dalam halaqah-halaqah khusus mereka. Kecuali dakwah yang sesuai dengan pokok-pokok dasar, ajaran dan manhaj jama’ah mereka. Dan masih dalam koridor hikayat-hikayat, cerita-cerita mimpi dan fadhail yang sejalan dengan aqidah dan khurafat mereka. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam masalah khuruj berjama’ah ini, sehingga melewati batas kewajaran yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata.” (Silakan lilhat buku I’tibariyah Haula Al Jama’ah Tablighiyah, hal. 43).
Hal ini telah dialami sendiri oleh Syaikh Muhammad Nasib Ar Rifa’i, ketika menyampaikan beberapa patah kalimat tentang aqidah di markas Jama’ah Tabligh. Mereka menyerang Beliau. Bahkan mengeluarkan Beliau dan berbuat yang tidak baik terhadapnya. Sebagaimana halnya beberapa perkara yang mereka cantumkan dalam adab-adab khuruj. Yakni tidak membicarakan masalah khilafiyah. Demikian mereka katakan, secara umum, baik masalah fikih maupun masalah aqidah. Hingga masalah-masalah penting yang sudah disepakati dalam aqidah, juga mereka anggap sebagai masalah khilafiyah dan melarang anggota mereka untuk membicarakannya. Wallahul musta’an.
Lalu Beliau melanjutkan lagi, “Salah satu ciri khas jama’ah ini ialah, mereka meyakini, bahwa siapa saja yang keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah, berarti telah melakukan jihad yang besar, bahkan akbar. Mereka beranggapan, keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah ini lebih afdhal daripada berperang dengan pedang dan pena, lebih afdhal daripada memerangi musuh Allah dan Rasul-Nya, lebih afdhal daripada memelihara kemurnian Islam dan keutuhan kaum muslimin (Bukti yang menguatkannya ialah pernyataan dari seorang ulama dan para penuntut ilmu pada masa peperangan jihad Afghanistan melawan kaum komunis, bahwa Jama’ah Tabligh mendatangi tempat-tempat mereka untuk mengajak mereka khuruj bersama jama’ah mereka!). Barang siapa melakukannya, berarti ia telah melaksanakan sunah para nabi dan rasul, telah melaksanakan sunah sayyidul anbiyaa’ wal mursalin, Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam. Berarti ia telah keluar seperti halnya sahabat radhiallahu ‘anhum ajma’ain dalam peperangan dan medan jihad.” (Silakan lihat buku I’tibariyah Haula Al Jama’ah Tablighiyah, hal. 51).
JAWABAN TERHADAP SYUBHAT-SYUBHAT MEREKA
Pertama. Argumentasi mereka dengan ayat:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)
Adalah argumentasi yang batil. Karena maksud kata ukhrijat, bukanlah khuruj seperti yang mereka artikan itu.
Kedua, argumentasi mereka dengan ayat-ayat dan hadits-hadits jihad merupakan tahrif (penyimpangan makna). Sebab, yang dimaksud berjihad adalah berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh agama.
Ketiga, argumentasi mereka dengan tersebarnya kubur para sahabat di luar jazirah Arab, juga merupakan argumentasi yang menyesatkan. Karena para sahabat keluar dari negeri mereka bersama para pasukan, berperang fi sabilillah untuk memperluas wilayah Islam dan untuk meninggikan kalimat Allah.
Keempat, argumentasi mereka dengan firman Allah:
التَّآئِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji (Allah), yang berjihad, yang ruku’, yang sujud.” (QS. At Taubah: 112)
Adalah kejahilan terhadap Kitabullah. Sebab yang dimaksud dengan as-saa-ihuun, adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Ibnu Katsir berkata, “Ada bukti yang menguatkan, bahwa yang dimaksud dengan siyaahah di sini ialah jihad… bukan maksudnya siyaahah yang dipahami oleh sebagian orang yang beribadah hanya dengan melakukan siyaahah (pengembaraan) di muka bumi.” (Tafsir Al Qur’an Al Adhzim II/407).
Kelima, membatasi khuruj mereka dengan tiga hari, empat puluh hari, tiga bulan atau satu tahun adalah bid’ah yang tidak ada contohnya dalam agama. Mereka berdalil dengan ayat-ayat Al Quran yang tidak ada sangkut- pautnya dengan khuruj mereka. Untuk khuruj tiga hari mereka berdalil dengan ayat:
فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ
Maka berkata Shalih, “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)
Dan berdalil dengan batas waktu mengqashar shalat, yakni tiga hari. Untuk khuruj empat puluh hari, mereka berdalil ayat:
وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاَثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.” (QS. Al A’raf: 142)
Untuk khuruj empat bulan mereka berdalil dengan ayat:
فَسِيحُوا فِي اْلأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ
“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan.” (QS. At Taubah: 2)
Dan dengan ayat:
لِّلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِن نِّسَآئِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ
“Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).” (QS. Al Baqarah: 226)
Argumentasi seperti itu terlalu dipaksakan dan merupakan tahrif (penyelewengan) terhadap Kitabullah dari maksud yang sebenarnya. Jelas, angka-angka yang disebutkan dalam ayat di atas bukanlah batasan untuk khuruj dalam arti kata dakwah. Bahkan beberapa ayat di atas sebenarnya ditujukan kepada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, seperti dalam surat Hud ayat 65 dan At Taubah ayat 2 di atas.
Dengan pendalilan yang dipaksakan ini mereka akan sangat kerepotan ketika menghadapi ayat,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ankaabut: 14)
Apakah ada di antara mereka yang sanggup mengerjakan khuruj selama 950 tahun!! Padahal Allah tidak mungkin membebani manusia dengan syariat di luar batas kemampuan manusia. Ini adalah salah satu bukti kesalahan mereka dalam memberikan argumen mengenai dasar syariat khuruj ala Jamaah Tablig -ed.
Keenam. Mereka katakan, khuruj yang mereka lakukan itu menghasilkan sejumlah faidah. Di antaranya banyak orang yang masuk Islam melalui dakwah mereka. Jawaban terhadap alasan mereka ini sebagai berikut:
(1) Kita tidak boleh mencapai satu tujuan dengan segala cara. Sebagaimana tujuannya harus mulia, caranya juga harus benar dan bersih dari bid’ah. Adapun khuruj ala Jama’ah Tabligh ini merupakan bid’ah yang paling buruk dalam dakwah.
(2) Kebanyakan para pelaku maksiat yang bergabung bersama Jama’ah Tabligh, akhirnya mengikuti pola mereka. Padahal keadaan mereka sebelumnya sebenarnya lebih baik. Sebab maksiat lebih ringan kerusakannya daripada bid’ah. Pelaku maksiat masih bisa diharapkan bertaubat. Berbeda halnya dengan para pelaku bid’ah, sulit sekali diharapkan bertaubat. Oleh sebab itu Sufyan Ats Tsauri berkata, “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat, karena maksiat masih bisa diharapkan bertaubat darinya, sementara bid’ah sukar diharapkan bertaubat darinya.”
Ketika menyebutkan sifat kaum Sufi, imam Al ‘Izz bin Abdus Salam berkata, “Mereka (kaum Sufi) lebih buruk daripada para perompak dan penyamun. Karena kaum Sufi menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Mereka sengaja mengucapkan perkataan-perkataan yang buruk terhadap Allah dan berbuat tidak etis terhadap para Nabi, Rasul, para pengikut Nabi dan Rasul dari kalangan ulama dan orang-orang yang bertakwa. Melarang pengikut mereka dari mendengarkan perkataan para ahli fikih, karena mereka tahu, para ahli fikih tersebut melarang orang untuk mengikuti mereka dan mengikuti manhaj mereka.” (Qawaaidul Ahkam II/178-180).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membantah kaum ahli bid’ah para pengikut thariqat Rifa’iyah yang mengaku telah berhasil menyelamatkan manusia dari lembah maksiat. Beliau berkata, “Sebagian mereka ada yang berkata, ‘Kami berhasil mengajak manusia bertaubat’. Aku katakan kepada mereka, ‘Dari apa mereka bertaubat?’ Ia berkata, ‘Dari menyamun, mencuri dan sebagainya.’ Aku katakan, ‘Keadaan mereka sebelum kalian ajak bertaubat lebih baik daripada setelah kalian ajak bergabung bersama kalian. Sebab, mereka dahulu orang fasik yang meyakini, bahwa perbuatan mereka itu haram dan mereka masih mengharapkan kasih sayang Allah dan bertaubat kepada-Nya, serta berniat untuk bertaubat. Lalu setelah kalian ajak bertaubat, mereka berubah menjadi orang sesat dan orang yang berbuat syirik, keluar dari syariat Islam, menyukai apa yang dibenci Allah dan membenci apa yang dicintai Allah. Kami tegaskan, bahwa bid’ah yang mereka dan kalian lakukan itu lebih buruk daripada maksiat’.” (Ar Rasaail wal Masaail I/153).
Ketika menyebutkan biografi Mihyar Ad Dailami, berkatalah Al Hafidz Ibnu Katsir, “Dahulu ia penganut agama Majusi, lalu masuk Islam. Sayangnya, ia jatuh dalam dekapan kaum Rafidhah. Ia menggubah syair-syair dalam mazhab Rafidhah yang berisi caci-maki terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum. Hingga Abul Qasim bin Burhan mengatakan, ‘Hai Mihyar, engkau berpindah dari satu sudut neraka kepada sudut lainnya. Engkau dahulu penganut agama Majusi, kemudian engkau masuk Islam dan mencaci-maki sahabat Nabi!’” (Al-Bidayah wa Nihayah XII/41).
Syaikh Hamud At Tuwaijri mengatakan, “Para ahli sejarah sebelum dan sesudah Ibnu Katsir juga banyak yang membawakan kisah tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengingkari perkataan Ibnu Burhan terhadap Mihyar ini. Itu menunjukkan, bahwa mereka menyetujui perkataan tersebut. Kisah tersebut mirip dengan keadaan orang-orang yang masuk Islam lewat Jamaah Tabligh, kemudian mereka mengikuti bid’ah, kejahilan dan kerusakan aqidah jama’ah ini…” (Al Qaulul Baligh fit Tahdzir Min Jamaah Tabligh, halaman 225).
Demikianlah jawaban terhadap beberapa argumentasi yang mereka bawakan. Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan mereka lainnya, namun semua itu tidak jauh berbeda dengan argumentasi di atas tadi. (Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membukakan hati kita semua -ed).
***
Penanya: Abdul Halim Firhad
Dijawab oleh: Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma’had Ilmi)


Jamaah Tabligh (2)
Indeks > Artikel > Jamaah Tabligh Jan08


Pengantar
Sebagaimana artikel tentang Wahidiyah, artikel ini dikutip dari buku Polaritas Sektarian, Rekonstruksi Doktrin Pinggiran, sebuah buku hasil kajian siswa mutakharijin tahun 2007 pada Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Ditujukan agar masyarakat bisa mempertimbangkan secara matang segala aliran yang ada disekitarnya, bukan dalam tataran caci maki, tetapi tetap dalam koridor saling mengingatkan.
مَنِ الذِى ساء قط و مَنِ الذى حسنى فقط
Siapa orang yang buruk saja dan siapa orang yang baik saja (tanpa cela)?
Karena itu artikel ini mohon dibaca dalam tataran menguliti diri menuju muhasabah yang paripurna guna menjadi insan kamil yang diharapkan.
Indeks
1. Profil Pendiri Jama'ah Tabligh
2. Motif Berdirinya Jamaah Tabligh
3. Akidah Jama'ah Tabligh
4. Ushulus Sittah
5. Tabligh, Tarekat dan Tasawwuf Muhammad Ilyas
6. Catatan Suplemen Dari Ustadz Azizi
7. Pandangan Habib Mundzir Al Musawa Tentang Jamaah Tabligh
Nama Jama'ah Tabligh telah menggema ke mana-mana. Mereka telah dikenal oleh mayoritas kaum muslimin terutama mereka yang bergelut dalam bidang dakwah. Mereka memiliki karakteristik dakwah yang khas, yaitu dengan mempromosikan keutamaan ibadah, menghindari diskusi fiqih dan akidah yang menurut mereka sebagai momok biang pemecah umat, serta memiliki penampilan yang kontroversial.
Walau bagaimana pun popularitas golongan ini melejit dengan sangat pesat. Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; "Mas! Jama'ah Tabligh ya?". Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan Jama'ah Tabligh, image kita langsung menudingnya sebagai Jama'ah Tabligh. Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jama'ah yang berkiblat ke India ini? Semoga kajian di bawah ini mampu menjawab kemasgulan kita bersama.
Jama'ah Tabligh merupakan nama yang lebih populer di Malaysia. Sedangkan di Pakistan mereka terkenal dengan sebutan al-Jama'ah at-Tablighiyah atau al-Jama'ah al-Ilyasiyyah. Sementara di Indonesia mereka lebih terkenal dengan Jaulah. Karena mereka mempunyai lebih dari satu nama, sebagian pihak menuduh mereka sebagai bunglon, sering berganti-ganti atribut namun pelaku di dalamnya tetaplah sama. Namun menurut anggota Jama'ah Tabligh nama tersebut tidak berasal dari mereka, tetapi orang lainlah yang menyebut mereka demikian. Karena memproklamirkan sebuah nama sama artinya dengan memunculkan potensi perpecahan.
Da1am sebuah interview, salah seorang anggota jama'ah Tabligh ditanya, "Kenapa disebut Jama'ah Tabligh?", orang tersebut menjawab, "Nama JT (Jama'ah Tabligh) itu nggak ada, orang lain yang menamakan. Dari asal muasalnya pun tidak ada. Jaman Nabi pun kan tidak ada namanya, kita ingin seperti itu, sebab kalau kita kasih nama dan bendera, orang lain punya bendera, wah itu bukan bendera saya. Tapi kalau bilang kami ini Muslim, pasti semua saudara kita. Kita tidak merasa ini suatu kelompok atau golongan. Kita bekerja, dalam hal ini hanya mengendalikan tertib-tertib dakwahnya".

Profil Pendiri Jama'ah Tabligh
Pendiri jama'ah ini adalah Muhammad Ilyas al-Kandahlawy lahir pada tahun 1303 H (1886) di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Pradesh, India. Ayahnya bernama Syaikh Ismail dan Ibunya bernama Shafiyah al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama dan memiliki sifat wara'. Saudaranya antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad Yahya. Sementara Maulana Muhammad Ilyas adalah anak ketiga dari tiga bersaudara ini.
Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada kakeknya Syeikh Muhammad Yahya, beliau adalah seorang guru agama pada madrasah di kota kelahirannya. Kakeknya ini adalah seorang penganut madzhab Hanafi dan teman dari seorang ulama, sekaligus penulis Islam terkenal, Syeikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi yang menjabat sebagai seorang direktur pada lembaga Dar Al-'Ulum di Lucknow, India. Sedangkan ayahnya, yaitu Syaikh Muhammad Ismail ada1ah seorang ruhaniawan besar yang suka menjalani hidup dengan ber'uzlah, berkhalwat dan beribadah, membaca al-Quran dan melayani para musafir yang datang dan pergi serta mengajarkan a1-Quran dan ilmu-ilmu agama.
Syaikh Muhammad Ismail selalu mengamalkan doa ma'tsur dari Hadits untuk waktu dan keadaan yang berlainan. Perangainya menyukai kedamaian dan keselamatan serta bergaul dengan manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, tidak seorang pun meragukan dirinya. Bahkan beliau menjadi tumpuan kepercayaan para ulama sehingga mampu membimbing berbagai tingkat kaum Muslimin yang terhalang oleh perselisihan di antara mereka.
Adapun ibunda Muhammad Ilyas, yaitu Shafiyah al-Hafidzah adalah seoarang hafidzah a1-Quran. Istri kedua dari Syaikh Muhammad Ismail ini selalu mengkhatamkan al-Quran, bahkan sambil bekerja pun mulutnya senantiasa bergerak membaca ayar-ayat al-Quran yang sedang ia hafal.
Maulana Muhammad Ilyas sendiri mulai mengenal pendidikan pada sekolah Ibtidaiyah (dasar). Sejak saat itulah ia mulai menghafal al-Quran, hal ini disebabkan pula oleh tradisi yang ada dalam keluarga Syaikh Muhammad Ismail yang kebanyakan dari mereka adalah hafidzh al-Qur'an. Sehingga diriwayatkan bahwa dalam shalat berjama'ah separuh shaff bagian depan semuanya adalah hafidzh terkecuali muazzin saja. Sejak kecil telah tampak ruh dan semangat agama dalam dirinya, dia memiliki kerisauan terhadap umat, agama dan dakwah. Sehingga 'Allamah asy-Syaikh Mahmud Hasan yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (guru besar ilmu Hadits pada madrasah Darul Ulum (Deoband) mengatakan, "Sesungguhnya apabila aku melihat Maulana Ilyas aku teringat akan kisah perjuangan para sahabat".
Pada suatu ketika saudara tengahnya, yakni Maulana Muhammad Yahya pergi belajar kepada seorang alim besar dan pembaharu yang ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad al-Gangohi, di desa Gangoh, kawasan Saranpur, Utar Pradesh, India. Maulana Muhammad Yahya belajar membersihkan diri dan menyerap ilmu dengan bimbingan Syaikh Rasyid. Hal ini pula yang membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik untuk belajar pada Syaikh Rasyid sebagaimana kakaknya.
Akhirnya Maulana I1yas memutuskan untuk belajar agama menyertai kakaknya di Gangoh. Akan tetapi selama tinggal dan belajar di sana, Maulana Ilyas selalu menderita sakit. Sakit ini ditanggungnya selama bertahun-tahun lamanya, tabib Ustadz Mahmud Ahmad putra dari Syaikh Gangohi sendiri telah memberikan pengobatan dan perawatan kepadanya.
Sakit yang dideritanya menyebabkan kegiatan belajarnya menurun, akan tetapi dia tidak berputus asa. Banyak yang menyarankan agar ia berhenti belajar untuk sementara waktu, ia menjawab, "Apa gunanya aku hidup jika dalam kebodohan". Dengan ijin Allah swt., Maulana pun menyelesaikan pelajaran Hadits Syarif, Jami'at Tirmidzi dan Shahih Bukhari. Kemudian dalam tempo waktu empat bulan dia sudah menyelesaikan Kutubus Sittah. Tubuhnya yang kurus dan sering terjangkit penyakit semakin membuatnya bersemangat dalam menuntut ilmu, begitu pula kerisauannya yang bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh dari syariat Islam.
Ketika Syaikh Gangohi wafat pada tahun 1323 H, Muhammad Ilyas baru berumur dua puluh lima tahun dan merasa sangat kehilangan guru yang paling dihormati. Hal ini membuatnya semakin taat beribadah pada Allah. Dia menjadi pendiam dan hanya mengerjakan ibadah, dzikir, dan banyak mengerjakan amal-amal infiradi.
Maulana Muhammad Zakaria menuliskan:
"Pada waktu aku mengaji sebuah kitab kepada Muhammad Ilyas, aku datang padanya dengan kitab pelajaranku dan aku menunjukkan tempat pelajaran dengan jari kepadanya. Tetapi apabila aku salah dalam membaca, maka dia akan memberi isyarat kepadaku dengan jarinya agar menutup kitab dan menghentikan pelajaran. Hal ini ia maksudkan agar aku mempelajari kembali kitab tersebut, kemudian datang lagi pada hari berikutnya".
Maulana Muhammad Ilyas akhirnya berkenalan dengan Syaikh Khalid Ahmad ash-Sharanpuri penulis kitab Bajhul Majhud fi Hilli Alfazhi Abi Dawud dan akhirnya Muhammad Ilyas berguru kepadanya. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki, membuat Muhammad Ilyas semakin tawadlu'. Ketawadlu'annya pada usia muda menyebabkan Muhammad Ilyas dihormati di kalangan para ulama dan masyaikh. Syaikh Yahya, kakak kandung Muhammad Ilyas sendiri tidak pernah memperlakukannya sebagai anak kecil, bahkan Syaikh Yahya sangat menaruh hormat kepadanya.
Pada suatu ketika di Kandhla ada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh ulama-ulama besar, di antaranya terdapat nama Syaikh Abdurrahman ar-Raipuri, Syaikh Khalil Ahmad ash-Sharanpuri dan Syaikh Asyraf Ali at-Tanwi. Waktu itu tiba waktu shalat Ashar, mereka meminta Maulana Ilyas untuk mengimami shalat tersebut. Ustadz Badrul Hasan salah seorang di antara keluarga besar tersebut berkata, "Alangkah panjang dan beratnya kereta api ini, namun alangkah ringan lokomotifnya", kemudian salah seorang di antara hadirin menjawab, "tetapi lokomotif yang kuat itu justru karena ringannya".
Akibat kematian kakaknya, Maulana Muhammad Yahya, pada 9 Agustus 1925, Muhammad Ilyas mengalami goncangan batin yang cukup besar. Dua tahun setelah itu, menyusul kakaknya yang tertua, Maulana Muhammad. Maulana Muhammad meninggal di Masjid Nawab Wa1i, Qassab Pura dan dimakamkan di Nizamuddin. Kematian Maulana Muhammad ini mendapat perhatian dari masyarakat sekirarnya. Seribu orang menziarahi jenazahnya. Setelah itu, masyarakat meminta kepada Maulana Ilyas untuk menggantikan kakaknya di Nizamuddin padahal pada waktu itu dia sedang menjadi salah seorang pengajar di Madrasah Mazhohirul 'Ulum. Masyarakat bahkan menjanjikan dana bulanan kepada madrasah dengan syarat agar dapat diamalkan seumur hidupnya.
Pada akhirnya, setelah mendapat ijin dari Maulana Khalil Ahmad dengan pertimbangan jika tinggalnya di Nizamuddin membawa manfaat maka Maulana Ilyas akan diberi kesempatan untuk berhenti mengajar. Dia pun akhirnya pergi ke Nizamuddin, ke madrasah warisan ayahnya yang kosong akibat lama tidak dihuni. Dengan semangat mengajar yang tinggi dia pun akhirnya membuka kembali madrasah tersebut.
Karena semangat yang tinggi untuk memajukan agama, Maulana Ilyas kemudian mendirikan maktab di Mewat, tetapi kondisi geografis yang agraris menyebabkan masyarakatnya lebih menyukai anak-anak mereka pergi ke kebun atau ke sawah dari pada ke madrasah atau maktab untuk belajar agama, membaca atau menulis. Dengan demikian Maulana Ilyas dengan terpaksa meminta orang Mewat untuk menyiapkan anak-anak mereka belajar dengan pembiayaan yang ditanggung oleh Maulana sendiri. Besarnya pengorbanan Maulana untuk memajukan pendidikan agama bagi masyarakat Mewat tidak mendapatkan perhatian. Bahkan mereka enggan menuntut ilmu, mereka lebih senang hidup dalam kondisi yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun turun temurun.
Maulana melihat bahwa kebodohan, kegelapan dan sekularisme yang melanda negerinya sangat berpengaruh terhadap madrasah-madrasah. Para murid tidak mampu menjunjung nilai-nilai agama sebagaimana mestinya, sehingga gelombang kebodohan semakin melanda bagaikan gelombang lautan yang melaju deras sampai ratusan mil membawa mereka hanyut. Namun tetap saja masyarakat masih belum memiliki spirit keagamaan. Interest mereka tidak terlalu besar untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar ilmu di madrasah. Faktor utama dari semua ini adalah ketidaktahuan mereka terhadap pentingnya ilmu agama, mereka pun kurang menghargai para alumnus madrasah yang telah memberikan penerangan dan dakwah. Orang Mewat tidak bersedia mendengarkan apalagi mengikutinya. Kesimpulannya bahwa madrasah-madrasah yang ada itu tidak mampu mengubah warna dan gaya hidup masyarakat.
Kondisi Mewat yang sangat miskin pengetahuan itu semakin menambah kerisauan Maulana Ilyas akan keadaan umat Islam terutama masyarakat Mewat. Kunjungan-kunjungan diadakan bahkan madrasah-madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum bisa menjadi solusi terbaik untuk mengatasi problem yang dihadapi masyarakat Mewat. Kondisi buruk yang terus berlarut ini akhirnya menjadi inspirasi bagi Muhammad Ilyas untuk mengirimkan delegasi Jama'ah Dakwah ke Mewat. Pada tahun 1351 H /1931 M, Maulana menunaikan haji yang ketiga ke tanah suci Makkah. Kesempatan tersebut ia pergunakan untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab guna mempromosikan usaha dakwah, dengan harapan agar usaha ini dapat terus dijalankan di tanah Arab.
Keinginannya yang besar menyebabkan ia berkesempatan menemui Sultan Ibnu Sa'ud yang menjadi raja tanah Arab untuk mempromosikan usaha dakwah yang dibawanya. Selama berada di Makkah, Jama'ah ini melakukan banyak aktifitas pergerakan secara intensif, setiap hari sejak pagi sampai petang, usaha dakwah terus dilakukan untuk mengajak masyarakat mentaati perintah Allah dan menegakkan dakwah.
Setelah pulang dari haji tersebut, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai jama'ah dengan jumlah yang cukup besar, minimal berjumlah seratus orang. Bahkan di beberapa tempat, jumlah itu justru semakin membengkak. Kunjungan pertama dilakukan selama satu bulan dan kunjungan kedua dilakukan hanya beberapa hari saja. Dalam kunjungan tersebut dia selalu membentuk jama'ah-jama'ah yang dikirim ke kampung-kampung untuk berjaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama.
Dalam hati Muhammad memiliki konfidensi penuh bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan. Adapun satu-satunya jalan untuk memberantas virus tersebut adalah dengan membujuk masyarakat Mewat agar keluar dari kampung halamannya guna memperbaiki diri dan memperdalam agama, serta melatih disiplin dalam hal positif sehingga tumbuh kesadaran untuk mencintai agama lebih daripada dunia dan mementingkan amal dari mal (harta).
Dari Mewat inilah secara berangsur-angsur usaha tabligh meluas ke Delhi, United Province, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar, Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah Iainnya. Begitu juga di bandar-bandar pelabuhan banyak jama'ah yang tinggal dan terus bergerak menuju tempat-tempat yang ditargetkan seperti halnya daerah Asia Barat. Setelah jama'ah ini terbentuk, mereka tak lelah memperluas sayap dakwah dengan membentuk beberapa jaringan di sejumlah negara. Jama'ah ini memiliki misi ganda yaittl ishlah diri (peningkatan kualitas individu) dan mendakwahkan kebesaran Allah swt. kepada seluruh umat manusia.
Perkembangan Jama'ah cukup fantastis. Setiap hari banyak jama'ah yang dikirim ke daerah-daerah yang menjadi target operasi dakwah. Selain itu, masing-masing anggota jama'ah ada yang kemudian membentuk rombongan baru. Dengan usaha tersebut, Jama'ah Tabligh ingin mempererat tali silaturrahim antara kaum Muslimin dengan Muslim yang lain. Gerakan Jama'ah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi sedikit telah menyebar ke berhagai negara.
Muhammad Ilyas tanpa henti terus memberi motivasi dan arahan untuk menggerakkan mesin dakwah ini agar sampai ke seluruh alam. Ketika usianya sudah menjelang senja, Maulana terus bersemangat hingga tubuhnya yang kurus tidak mampu lagi untuk digerakkan ketika ia menderita sakit.
Pada hari terakhir dalam sejarah hidupnya, Maulana mengirim utusan kepada Syaikhul Hadits Maulana Zakariya, Maulana Abdul Qodir Raipuri, dan Maulana Zafar Ahmad, bahwa ia akan mengamanahkan kepercayaan sebagai Amir Jama'ah kepada sahahat-sahabatnya seperti Hafidz Maqhul Hasan, Qozi Dawud, Mulvi Ihtisamul Hasan, Mulvi Muhammad Yusuf, Mulvi In'amul Hasan dan Mulvi Sayyid Raza Hasan. Pada saat itu terpilihlah Mulvi Muhammad Yusuf sebagai pengganti Maulana Muhammad Ilyas dalam memimpin usaha dakwah dan tabligh.
Pada sekitar bulan Ju1i 1944 Maulana menderita penyakit yang cukup akut. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan ditemani para pembantu dan muridnya. Akhirnya, pada tanggal 13 Ju1i 1944, Maulana telah siap nntuk menempuh perjalanannya yang terakhir. Ia bertanya kepada salah seorang yang hadir, "Apakah besok hari Kamis?", yang di sekelilingnya menjawab, "Benar!". Kemudian ia berkata 1agi, "Periksalah pakaianku, apakah ada najisnya atau tidak!". Orang-orang yang berada di sekelilingnya berkata bahwa pakaian yang dikenakannya masih dalam keadaan suci. Lantas Muhammad Ilyas turun dari dipan untuk berwudlu dan mengerjakan shalat Isya' dengan berjama'ah. Maulana berpesan kepada orang-orang agar memperbanyak dzikir dan doa pada malam itu. Dia berkata, "Yang ada di sekelilingku ini pada hari ini hendaklah menjadi orang-orang yang dapat membedakan antara perbuatan setan dan perbuatan malaikat Allah".
Pada pukul 24.00 Maulana pingsan dan sangat gelisah, dokter segera dipanggil dan obat pun segera diberikan, kata-kata Allahu Akbar terus terdengar dari mulutnya. Ketika malam telah menjelang pagi, dia mencari putranya yang bernama Maulana Muhammad Yusuf dan Maulana Ikromul Hasan. Ketika dipertemukan dia berkata, "Kemarilah kalian, aku ingin memeluk, tidak ada lagi waktu setelah ini, sesungguhnya aku akan pergi". Akhirnya Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, dia pulang ke rahmatullah sebelum adzan Subuh.
Dia tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikirannya dituangkan dalam lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor Nu'mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah dalam Jama'ah Tabligh. Karyanya yang paling nyata adalah bahwa dia telah meninggalkan kerisauan dan ide-ide bagi umat Islam hari ini serta metode kerja dakwah yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Motif Berdirinya Jamaah Tabligh
Kisah di atas, merupakan sebuah aksioma bahwa motif berdirinya Jama'ah Tabligh adalah sebuah keinginan kuat untuk memperbaiki kondisi umat, terutama Mewat yang hidup jauh dari ilmu dan lekat dengan kebodohan serta keterbelakangan.
Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad ad-Dihlawi mengatakan, "Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Mewat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Is1am, berbaur dengan kaum Zoroaster dan paganis Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, diperparah dengan kebodohan yang kian merata, maka tergeraklah hati Muhammad Ilyas untuk memerangi semua itu. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad al-Kanhuhi dan Asyraf Ali at-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut".
Sedangkan menurut Jamal Muhammad, berdirinya Jama'ah Tabligh berawal dari ketidakpuasan Muhammad Ilyas terhadap teori pendidikan dengan metodologi kaum sufi yang sebelumnya ia geluti. Kekecewaan ini pernah disampaikan oleh Muhammad Ilyas, "Metodologi dakwah seperti ini terlalu melelahkan dan tidak menampakkan manfaat apa pun dan bisa menjerumuskan orang-orang awam untuk hanya tertarik pada kegiatan berdoa, azimat-azimat kesaktian dan haekal-haekal yang digunakan untuk memenuhi kepentingan duniawi belaka".
Menurut informasi yang telah populer, tugas mendirikan Jama'ah Tabligh ini langsung diterima oleh Muhammad Ilyas dalam sebuah mimpi sebagai kabar gembira. Abul Hasan Ali an-Nadawi pernah mengutip perkataan pendiri Jama'ah Tabligh ini sebagai berikut,
"Ketika aku bermukim di Madinah pada Tahun 1345 H, Allah mengabulkan maksudku dan memberikan kabar gembira (melalui mimpi) bahwa aku akan membentuk gerakan ini bersama kalian".
Mimpi menurut pendiri Jama'ah Tabligh mempunyai arti yang sangat urgen. Banyak tingkat keruhanian yang hanya bisa diperoleh melalui mimpi dan tidak bisa diperoleh melalui cara lain, dan ilmu yang diperoleh melalui mimpi merupakan bagian dari kenabian. Salah satu hasil yang diperoleh Muhammad Ilyas dalam mimpinya ialah metode dakwah sekaligus justifikasi pergerakannya.
Dalam sebuah tulisan Muhammad Mandzur Nu'mani, salah seorang karib Muhammad Ilyas disebutkan,
"Metode dakwah Jama'ah Tablighiyah ini pun aku dapatkan lewat mimpi, begitu juga mengenai penafsiran ayat "kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnasi ta'muruna bil ma'ruufi wa tanhauna 'anil munkar wa tu'minuna billah" juga ku dapatkan melalui mimpi. Setelah itu aku menampakkan diri untuk dakwah kepada masyarakat luas seperti halnya pada Nabi. Sedangkan pada firman Allah "ukhrijat" memberikan isyarat bahwa dakwah ini tidak akan sempurna apabila dilakukan dengan cara menetap atau bermukim saja di suatu tempat atau daerah, akan tetapi seorang mubaligh harus keluar masuk dari daerah satu ke daerah lainnya, atau bahkan dari pintu ke pintu".
Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan kembali dalam permasalahan ini, yaitu tentang mimpi yang mengilhami pembentukan Jama'ah Tabligh, dan mimpi yang dijadikan fundamen penafsiran ayat sebagai justifikasi gerakan mereka.
Mungkin masih bisa dimaklumi jika mimpi yang dialami oleh Mahammad Ilyas hanya ia jadikan inspirator untuk membentuk Jama'ah Tabligh, sebab pembentukan sebuah jama'ah tidak berhubungan langsung dengan hukum syariat. Dia menyebut mimpi tersebut dengan mubassyirot (kabar gembira) dari Allah. Seandainya pengakuan ini benar, maka Muhammad Ilyas tidak holeh disalahkan sebab banyak Hadits yang membenarkan mimpi-mimpi yang dialami oleh seorang Muslim, salah satunya ialah Hadits:
أن أبا هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لم يبق من النبوة إلا المبشرات. قيل : وما المبشرات قال : الرؤيا الصالحة
"Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: tidak ada yang tersisa dari sifat kenabian (setelah wafat Nabi) kecuali al-mubsyirot. Para sahabat bertanya, "Apakah al-mubsyirot itu wahai Nabi?" Nabi menjawab, "al-mubsyirot adalah mimpi baik".
Bahkan sebelum Nabi hijrah, beliau mendapatkan kabar baik dari Allah. Dalam mimpi beliau melihat bahwa tempat hijrah beliau adalah sebuah daerah yang kaya dengan buah kurma. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Musa diceritakan:
رأيت في المنام أني أهاجر من مكة إلى أرض بها نخل فذهب وهلى إلى أنها اليمامة أو هجر فإذا هي المدينة يثرب
"Dalam mimpi aku melihat bahma aku sedang melakukan hijrah dari Makkah menuju sebuah daerah yang banyak ditumbuhi buah korma. Aku menyangka daerah tersebut ialah Yamamah atau Hajar, ternyata daerah itu adalah kota Yatsrib".
Namun sayang, Muhammad Ilyas telah berani menggunakan mimpi sebagai landasan dalam menafsiri sebuah ayat. Hal inilah yang tidak boleh ditolerir. Belum pernah ada seorang ulama pun yang melakukan penafsiran ayat dengan metodologi mimpi. Jika Muhammad Ilyas sebagai mufassir sejati tentu metode yang akan ia gunakan ialah metode yang telah disebutkan oleh para ulama, bukan menggunakan metode semau gue. Teori tafsir ini telah disampaikan oleh imam as-Suyuthi sebagai berikut, "Para ulama telah mengatakan: Siapa pun yang ingin menafsiri al-Quran hendaknya yang pertama kali dilakukan ialah mencari tafsir tersebut di dalam a1-Quran. Dalam sebuah tempat, terkadang ayat al-Qur'an diterangkan secara general, namun di tempat lain dijelaskan dengan cukup detail. Apabila tidak ditemukan maka beralih pada Hadits, sebab salah satu fungsi dari Hadits ialah sebagai penjelas al-Quran. Imam Syafi'i telah menjelaskan : Seluruh hukum yang disampaikan oleh Nabi berasal dari pemahaman al-Quran, sebab Allah telah berfirman, "Inna anzalna ilaikal kitaba bil haqqi litahkuma bainannasi bima arokalloh" (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu). (QS. an-Nisa : 105).
Selanjutnya para ulama mengatakan : Jika maksud sebuah ayat tidak ditemukan dalam al-Qur'an maupun Hadits, hendaknya kita merujuk kepada tafsir yang disampaikan oleh para sahabat. Mereka adalah orang yang paling tahu mengenai penjelasan sebuah ayat, sebab mereka adalah saksi asbabun nuzul, sekaligus orang-orang yang memiliki pemahaman akurat dan didukung dengan kesalehan (devosional) amal mereka. Sedangkan tafsir yang disampaikan oleh generasi tabi'in ulama masih belum sepakat, apakah kita harus merujuk pada tafsir yang mereka sampaikan atau tidak? Sebagian berpendapat mengatakan, kita tidak harus merujuk pada tafsir mereka sebab tafsir mereka tidak bisa dijadikan hujjah. Sedangkan menurut imam Ahmad ra. kita harus merujuk kepada generasi tabi'in baik dalam permasalahan tafsir atau pun yang lain.
Kritik serupa juga pernah disampaikan oleh Maulawi Abu Ahmad. Dengan mengutip komentar Ibnu Hajar al-Atsqolani dalam Mirqotul Mafatih 'ala Misykatil Mashobih ia mengatakan, "Mimpi yang dialami selain para Nabi tidak bisa dijadikan keretapan hukum syar'i". Hukum syar'i hanya bisa diperoleh melalui ijtihad dan wahyu. Selanjutnya Maulawi Abu Ahmad mengatakan, "Bagaimana mungkin Muhammad Ilyas menafsiri ayat al-Quran melalui mimpi, kemudian menyebarluaskannya ke segenap penjuru dan ia memproklamirkan diri sebagai pemimpin. Bukankah ini semua merupakan pemalsuan hukum-hukum syar'i.
Sekarang mari kita bandingkan tafsir yang disampaikan oleh Muhammad Ilyas dengan tafsir para ulama ahli tafsir.
Muhammad Ilyas telah menafsiri kata 'ukhrijat' dengan dakwah yang dilakukan dengan cara keluar dari satu daerah ke daerah lain atau dari pintu ke pintu lain. Metode dakwah semacam ini kemudian lebih terkenal dengan sebutan khuruj.
Interpretasi semacam ini sama sekali belum pernah disampaikan oleh seorang ulama pun. Jadi Muhammad Ilyas adalah satu-satunya. Dalam tafsir Alusi disebutkan: Tafsir dari kata 'ukhrijat' ialah "udzhirot (umat yang ditampakkan)". Sedangkan dalam tafsir ar-Rozi disebutkan, "Ada dua pendapat ,yang ditampilkan oleh para ulama mengenai makna "ukhrijat linnas". Pertama, kuntum khoirol umam al-mukhorrojah linnas fi jami'il a'shor (kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia sepanjang masa). Sedangkan kelompok kedua berpendapat, makna dari "ukhrijat linnas" adalah udzhirot linnas hatta tumuyyizat wa 'urifat wa fushila bainaha wa baina ghoiriha (umat yang ditampakkan bagi manusia sehingga mereka bisa dibedakan, bisa dikenali, dan dipisahkan dengan umat yang lain).
Jadi, interpretasi para mufassir itulah yang benar, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menafsiri kata 'ukhrijat' dengan berdakwah dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung.
Sekarang mari kita perhatikan kritik Maulawi Abu Ahmad mengenai tafsir yang disampaikan Muhammad Ilyas ini, "Lihat saja penafsirannya yang sembarangan ini. Ia menafsiri 'ukhrijat' dengan melalui mimpi, lagi pula penafsiran tersebut mengesankan betapa dangkal akal pikirannya. Seolah-olah ia tidak tahu mana arah kanan kiri. Dan tidak pula tahu mana perkara wajib dan mana perkara sunah. Perhatikan penafsirannya itu dengan seksama : Bahwa amar ma'ruf tidak akan bisa sempurna kecuali dilakukan dari pintu ke pintu. Padahal Islam sudah sedemikian menggema baik di penjuru barat maupun timur. Alangkah melelahkan metode dakwah seperti ini".
Dalam halaman lain Maulawi Abu Ahmad melanjutkan kritiknya, "Pemimpin gerakan ini telah menyampaikan sebuah manifesto bahwa penafsirannya dan ilmu-ilmunya yang lain diberikan Allah lewat mimpi. Manifesto ini tak jauh berbeda dengan apa yang pernah disampaikan oleh Abu al-A'la al-Maududi dalam kitab at-Tankihat, "Bahwa di dalam memahami al-Qur'an tidak butuh pada tafsir-tafsir yang kita kenal. Namun cukup dengan menguasai bahasa Arab pada tingkatan pertama saja". Pemikiran kedua orang ini sama persis dengan pemikiran yang berkembang di kalangan ahli bid'ah. Mereka sering kali menafsiri al-Quran dengan pendapatnya sendiri.
Kemudian jika umat terbaik yang telah disanjung oleh ayat ini bukanlah para mubaligh dalam Jama'ah Tabligh. Lalu siapakah mereka? Banyak versi yang disampaikan oleh para ulama mengenai ha1 ini. Menurut Ikrimah dan Muqotil sanjungan ini disampaikan Allah untuk Ibnu Mas'ud ra, Ubai bin Ka'ab ra, Muadz bin Jabal ra dan Salim ra mantan budak Abi Khudzaifah. Sanjungan mulia ini mereka terima setelah mereka mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Dikisahkan, suatu hari mereka dihina oleh dua orang Yahudi yang bernama Malik bin Shoif dan Wahb bin Yahuda, mereka berdua mengatakan, "Kami lebih mulia dari pada kalian, dan agama kami lebih baik dari pada agama yang kalian dakwahkan kepada kami!". Sebagai respon dari hinaan tersebut, kemudian Allah menurunkan ayat di atas.
Menurut Ibnu Abbas ra, seperti yang telah diriwayatkan oleh Sa'id bin Jabir, "Orang terbaik tersebut ialah orang-orang yang pernah melakukan hijrah bersama Nabi saw menuju Madinah". Pendapat senada disampaikan oleh Juwaibir dari ad-Dlohak, "Sanjungan ini khusus diperuntukkan bagi para sahabat Nabi, mereka para perawi dan juru dakwah yang harus kita taati". Umar bin Khattab ra juga telah mengatakan, "Umat terbaik itu ada pada generasi awal-awal kita dan tidak berada pada generasi akhir".
Kemudian menurut pendapat terakhir, sanjungan itu diperuntukkan bagi seluruh kaum Muslimin umat Muhammad saw. Qotadah mengatakan, "Mereka adalah umat Muhammad saw. Sebab para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw tidak diperintahkan untuk berperang, sedangkan umat Muhammad saw melakukan peperangan melawan orang kafir, lalu mengajak orang-orang kafir untuk memeluk agama mereka (Islam). Mereka adalah umat terbaik bagi manusia".
Akidah Jama'ah Tabligh
Komentar para pengamat tentang akidah Jama'ah Tabligh sangatlah bervariasi. Hal ini disebabkan Jama'ah Tabligh tidak mempunyai akidah yang jelas, apakah mereka menganut paham Ahlus Sunnah, Mu'tazilah atau yang lain. Mereka bahkan merangkul setiap orang yang telah berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat, tanpa mempedulikan dari golongan apakah mereka. Mari kita simak bagaimana komentar yang disampaikan oleh kelompok yang gemar mengkafirkan ahli ziarah kubur dan mengkafirkan orang-orang yang melakukan tawassul (baca: Wahabi).
"Jama'ah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal akidah. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadlail A'mal karya Muhammad Zakariya al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid'ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah akidah adalah:
1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (panteisme). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).
2. Sikap fanatis yang berlebihan terhadap orang-orang shaleh dan berkeyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu gaib. (Lihat Fadhail A'mal, bab Fadhail Dzikir, h1m. 468-469, dan h1m. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta sikap ekstrim mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A'mal, bab Shalat, hlm. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, h1m. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore)
4. Keyakinan bahwa para Syaikh Sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A'mal, bab Fadhail Qur'an, hlm. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara gaib atau batin. (LihatWhat Fadhail A'mal, bab Dzikir, hlm. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, h1m. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jama'ah Tabligh telah berbaiat kepadanya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam sekedar untuk melihat wajah Syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hlm. 143, dikutip dari Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu an Tushahhah, hlm. 2).
7. Saling berbaiat terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah dan Sahrawardiyyah. (Ad- Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya asy-Syaikh Sa'ad al-Hushain, hlm. 9-10, dikutip dari Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu an Tushahhah, hlm. 12).
8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i. (Fadhail A'mal, bab Fadhail ash-Shalati ‘ala Nabi, hlm. 19, cet. Idarah Isya'at Diyanat Anarkli, Lahore).
9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan pemusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jama'ah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa'rifuha, hlm. 10).
10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir wa I'tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hlm. 94, dikutip dari Jama'atut Tabligh 'Aqaiduha wa Ta'rifuha, hlm. 70).
11. Banyak sekali cerita-cerita kurafat dan Hadits-hadits lemah/palsu di dalam kitab Fadhail A'mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu an Tushahhah, h1m. 46-47 dan hlm. 50-52. Bahkan cerita-cerita kurafat dan Hadits-Hadits palsu inilah yang cnereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah.
Konfutasi Wahabiyah di atas apabila kita bandingkan dengan tulisan-tulisan mereka yang lain, sekilas tampak ada pernyataan yang paradoks. Sebagian dari mereka ada yang mengkafir-kafirkan Jama'ah Tabligh, namun sebagian lagi ada yang memberi dukungan. Namun pada hakikatnya adalah sama, mereka semua menolak akidah Jama'ah Tabligh. Berikut akan kami sampaikan fatwa Abdul Aziz ketika menanggapi pertanyaan mengenai Jama'ah Tabligh. Fatwa tersebut merupakan dukungan nyata pemerintah dan sebagian ulama Wahabi terhadap Jama'ah Tabligh:
Surat Untuk Abdul Aziz
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan kepada-Nyalah kita memohon pertolongan dalam urusan-urusan dunia dan agama.
Yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Ketua Umum Lembaga Penyelidikan Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Pertimbangan, semoga Allah meneguhkannya dalam kehidupan dunia dan akhirat dan menjadikannya sebagai penolong kebenaran.
Assalamu'alaikum wr. wb.
Amma ba'du. Sungguh, kami telah membaca surat dari pendahulu tuan, yakni Syaikh Ibrahim bin Ibrahim, keluarga Syaikh Mufti ad-Diyar as-Su'udi, semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya dan melapangkan surga untuknya, yang ditujukan kepada para ulama di belahan Timur dan di Barat serta oleh pimpinan Jama'ah Tabligh di Madinah serta sejumlah orang yang dipesan agar mendampingi dan membantunya dengan baik. Dalam surat tersebut Syaikh Mufti ad-Diyar as-Su'udi menyebutkan bahwa tujuan Jama'ah Tabligh adalah memberikan nasihat dan keterangan-keterangan di masjid-masjid, mendorong untuk mengamalkan al-Qur'an dan Hadits, memberikan peringatan keras agar menjauhi bid'ah dan kurafat seperti menyembah kubur, meminta kepada orang-orang yang telah mati, maupun bid'ah dan kemungkaran lainnya. Kemudian beliau berkata, "Saya menulis hal yang demikian mengenai mereka, tidak lain supaya mereka mendapatkan bantuan dari saudara-saudara mereka dengan mempersilahkan mereka untuk menjalankan kerja-kerja tersebut seraya memohon kepada Allah agar memberikan taufiq kepada mereka agar meluruskan niat dan berkata benar, selamat dari kebengkokan, serta memberikan manfaat kepada bayan (penjelasan) dan ceramah mereka. Sesungguhnya Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Di samping itu kami juga banyak membaca surat-surat tuan sendiri, semoga Allah memberikan pahala kepada tuan yang dalam surat tersebut tuan sangat mendukung kegiatan jama'ah tersebut, memuji keutamaan, pengorbanan dan kesabaran mereka dalam usaha dakwah ilallah, semata-mata mengharapkan keridloan Allah swt. Karena pengorbanan merekalah maka banyak orang yang tersesat kembali mendapatkan petunjuk dan banyak orang kafir yang masuk Islam, yang selanjutnya timbul pula semangat untuk keluar bersama mereka dalam rangka dakwah ilallah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Apalagi di kalangan mahasiswa, mereka sangat banyak yang ambil bagian karena mendapatkan kebaikan yang hanya dapat diketahui oleh Allah swt.
Selanjutnya, kami juga membaca beberapa surat dari pihak pemerintah yang isinya mendukung mereka, semoga Allah membalas kebaikan mereka yang telah berusaha memberikan bantuan. Pertama adalah surat dari yang mulia Raja Abdul Aziz, semoga Allah memberikan kenikamatan di tempat peristirahatannya. Kemudian, surat yang ditujukan kepada tuan yang mulia Raja Fahd, semoga Allah senantiasa melindunginya. Dalam surat tersebut beliau berkata tentang Jama'ah Tabligh sebagai berikut, "Sesungguhnya Jama'ah Tabligh tidak mempunyai tujuan politik maupun materialistik. Tujuannya hanya semata-mata memperbaiki diri di jalan Allah, mengajak manusia kepada Allah dengan penuh bijaksana dan nasihat yang baik. Banyak di antara mereka yang telah pergi ke seluruh dunia untuk mengajak manusia kepada Allah. Kemudiau mereka meminta kepada setiap orang agar menyiapkan dirinya sebagai da'inya Allah swt."
Dalam suratnya tersebut, yang mulia Raja Fahd menginstruksikan agar mereka memberikan pertolongan kepada mereka sebagaimana yang kami dapati dalam surat-surat dari banyak ulama besar maupun dari kalangan dosen universitas, baik di Madinah, bahkan di dalam maupun di luar kerajaan Saudi. Da1am surat tersebut mereka memuji Jama'ah Tabligh, terutama terhadap berbagai pengaruh positif yang muncul di mana-mana karena dengan kerja Tabligh tersebut, bahkan banyak orang yang kemudian mengikutinya, baik ketika mereka menjalankan kerja di tempat tinggalnya maupun ketika mereka bepergian (keluar di jalan Allah).
Sebagian kalangan yang saling berbeda paham, bahkan juga mengakui kelebihan Jama'ah Tahligh dan pengaruhnya terhadap ahli kurafat sehingga berkat usaha mereka, Allah swt. menunjuki mereka jalan yang lurus. Sehingga Muhammad Aslam, semoga Allah mengampuni kita dan dia, dalam suratnya yang terkenal mengakui kebaikan Jama'ah Tabligh. Dia berkata bahwa dia tidak mengetahui Islam melainkan dengan cara yang digunakan oleh Jama'ah Tabligh.
Namun pada akhir-akhir ini, setan dan hawa nafsu telah mempermainkan sebagian orang di Madinah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang sangat membenci Jama'ah Tahligh. Bahkan mereka mengerahkan tenaga dan waktunya untuk menyerang, mencaci-maki, menimbulkan kecurigaan, bahkan dengan enaknya mereka mendatangi pemuda-pemuda yang berkat usaha Jama'ah Tabligh telah berubah rajin menjaga shalat lima waktu dan mengamalkan sunnah, lalu berkata kepada mereka, "Apabila kamu tetap seperti keadaanmu dahulu, yakni hidup dalam kelalaian dan kemaksiatan, itu lebih baik dari pada kamu terpengaruh oleh Jama'ah Tabligh." Tentu saja sebagian mereka ada yang menjadi nakal kembali. Na'udzubiLlah.
Bahkan, mereka juga menyebarkan desas-desus bahwa tuan yang mulia telah menarik kembali pendapat tuan mengenai Jama'ah Tabligh manakala mereka telah menyampaikan keburukan Jama'ah tersebut kepada tuan. Namun kami tidak percaya mengenai hal tersebut kepada tuan. Kami telah banyak membaca atau mendengar dari tulisan tuan sebelum ini, yang tentunya berdasarkan pada pengamatan yang mendalam serta keinginan untuk mencapai kebaikan dan menghindarkan bahaya. Oleh karena itu, kami tidak menerima apa yang mereka sandarkan kepada tuan. Maka dalam kesempatan ini kami mohon penjelasan kepada Tuan yang mulia mengenai sikap mereka agar umat tidak menjadi bingung. Semoga Allah swt. meneguhkan tuan untuk menghentikan fitnah ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.
Wassalamu'alaikum ur. wb.
Atas nama murid-murid tuan di Madinah
Ibrahim bin Abdur-Rahman Al-Hussain
Surat Balasan
Wa'alaikumus-salam wr. wb.
Amma ba'd. Saya beritahukan kepadamu bahwa pada saat ini saya tetap berada pada pendapat saya semula mengenai Jama'ah Tabligh sebagaimana yang telah saya tulis dalam buku-buku maupun surat-surat, baik dahulu maupun sekarang. Demikian pula apa yang telah ditulis oleh pendahulu saya, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, keluarga asy-Syaikh, semoga Allah mensucikan ruhnya dan menerangi kuburnya, atau pun yang telah di tulis oleh para ulama lain yang telah dikuatkan oleh yang mulia Paduka Raja Abdul Aziz, semoga Allah merahmatinya, dan Paduka Raja Fahd, semoga Allah melimpahkan taufiq kepadanya. Karena melalui Jama'ah Tabligh, Allah telah memberikan manfaat yang amat banyak dan menurunkan hidayah kepada manusia. Yang seharusnya kita perbuat adalah berterimakasih kepada mereka atas usaha dan perjuangannya. Hal yang demikian termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta saling menasihati sesama kaum Muslimin. Hanya saja, saya nasihatkan kepada mereka dan seluruh umat Islam (terutama kaum muda) agar tidak bepergian ke negeri kafir, kecuali bagi orang yang mempunyai ilmu dan bashirah. Karena hal itu akan sangat berbahaya bagi orang yang tidak mengetahui syariat Islam dan dasar akidah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. dan diikuti oleh para sahabatnya.
Adapun mengenai pertanyaan mereka bahwa saya mencabut pendapat saya mengenai Jama'ah Tabligh, itu pernyataan dusta. Bahkan, saya menasihati mereka agar menghentikan ulah tersebut dan saya menganjurkan mereka agar menghadiri pertemuan Jama'ah Tabligh dan ikut keluar bersama mereka supaya memperoleh banyak manfaat. Kemudian, saya meminta kepada mereka agar berhati-hati dalam memberikan pendapat dan agar berpandangan jauh ke depan. Saya juga mengingatkan kepada mereka bahwa sikap penolakan mereka itu akan berakibat buruk di dunia dan akhirat, karena itu hanyalah tipu daya setan. Semoga Allah menyelamatkan kita dari orang-orang yang hendak memalingkan manusia dari seruan agama serta menyibukkan manusia dengan hal-hal yang merusak hati dan banyak bicara.
Ini adalah agama Allah. Kita memohon kepada Allah agar memperlihatkan kebenaran kepada kita dan menetapkan kita di atas kebenaran tersebut, kemudian menampakkan kebatilan kepada kita, dan menjauhkan kita darinya. Sesungguhnya Dia Maha Penolong dan Maha Kuasa atas semua itu.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya ke atas hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw. Sebagai rahmat bagi seluruh alam, beserta > keluarga, para sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat. Amin.
Wassalamu'alaikum um. wb.
Ketua Umum
Lembaga Penyelidikan Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Pertimbangan Abdul-Aziz bin Abdullah bin Baz
Namun menurut Syaikh Rabi' bin Hadi a1-Madkhali, dukungan yang diberikan oleh Syaikh Ibnu Baz kepada Jama'ah Tabligh adalah karena kesalahan informasi yang ia terima. Ia mendapatkan informasi mengenai Jama'ah ini tidak faktual. Seandainya ia mengetahui faktanya, tentu ia akan tnenyampaikan hujatan dan celaan pada Jama'ah tersebut. Karena menurut Syaikh Rabi' terdapat polarisasi fundamental antara Wahabiyah dan Jama'ah Tabligh baik dalam bidang akidah atau pun manhaji. Jama'ah Tabligh tidak akan pernah diterima oleh Wahabiyah, karena mereka menganut akidah Maturidiyah, mengikuti jalan sufistik dalam hal ibadah dan adab, melaksanakan baiat berdasarkan empat ajaran tarekat sufi yang sesat, mengakui ajaran hululiyyah (inkarnasi), mengakui wihdatul wujud (panteisme), dan melakukan banyak kesyirikan dengan menyembah kubur dan yang lain.
Kemudian Syaikh Rabi' menyampaikan fatwa terakhir dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai berikut:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz telah ditanya:
Saya telah keluar bersama Jama'ah Tabligh ke India dan Pakistan, kami berkumpul dan shalat di masjid-masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, dan saya mendengar bahwa shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, maka shalatnya batal (tidak sah). Apakah pendapat Syaikh tentang shalat saya? Apakah saya mengulanginya? Dan apa hukum khuruj bersama mereka kepada tempat-tempat seperti ini?
Jawab:
Bismillah walhamdulillah, amma ba'du :
Sesungguhnya Jama'ah Tabligh tidak mempunyai ilmu dan pemahaman dalam masalah-masalah akidah, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka kecuali bagi orang yang memiliki ilmu dan pemahaman tentang akidah yang benar yang dipegang teguh oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah (baca : Wahabiyah), sehingga ia membimbing dan menasihati mereka, serta bekerja sama dengan mereka dalam kebaikan, karena mereka gesit dalam beramal, akan tetapi mereka butuh penambahan ilmu dan butuh kepada orang yang akan memahamkan mereka dari kalangan ulama-ulama tauhid dan sunah. Semoga Allah menganugerahkan kepada semua akan pemahaman dalam agama dan konsekuen di atasnya.
Adapun shalat di dalam masjid-masjid yang di dalamnya ada kuburan, maka shalatnya tidak sah, dan kamu wajib mengulangi shalat yang kamu kerjakan di masjid-masjid itu, karena Nabi bersabda, "Allah telah melaknat Yahudi dan Nasrani yang mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid" (muttafaq alaih). Dan sabda Nabi, "Ingatlah sesungguhnya orang sebelum kalian, mereka menjadikan kubur Nabi-nabi dan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid, ingatlah, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sesungguhnya saya melarang kalian akan hal itu". (HR. Muslim).
Dan Hadits-hadits yang menjelaskan tentang hal ini sangatlah banyak, wa billahi taufiq, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad dan atas keluarga serta sahabatnya.
[fatwa tanggal 2/12/1414 H.]
Fatwa di atas hanyalah salah satu contoh sikap antipati Wahabiyah atas Jama'ah Tabligh. Selain itu masih banyak fatwa serupa yang menyudutkan posisi Jama'ah Tabligh seperti fatwa Abdu1 Aziz bin Abdullah Ali Syeikh, Sholeh bin Fauzan al-Fauzan, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Muhammad bin Ibrahim Ali Syeikh, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Abdur Razzak Afifi, dan fatwa-fatwa lain. Beberapa fatwa di atas menunjukkan bahwa pluralitas akidah yang berusaha diwadahi oleh Jama'ah Tabligh ternyata tidak bisa diterima oleh siapa pun. Bayangkan saja seandainya fatwa di atas dibaca oleh anggota Jama'ah Tabligh Indonesia yang notabenenya sebagai Islam tradisional yang sering mengadakan ritual ziarah ke kubur dan masih menganut akidah asy-‘-Ariyah dan Maturidiyah, tentu mereka akan emosi karena mereka dituduh sebagai orang kafir. Namun sebaliknya, jika fatwa di atas dibaca oleh anggota Jama'ah Tabligh yang menganut paham Wahabiyah tentu mereka akan no comment saja, sebagai tanda setuju.
Sekarang mari kita tengok kritik yang disampaikan oleh salah seorang ulama Sunni yaitu Maulawi Abu Ahmad. Maulawi telah mengutip tulisan Muhammad Idris yang tertuang dalam Tablighi Dusthur al-Amal. Dalam buku tersebut Muhammad Idris telah menjelaskan tiga tujuan yang ingin dicapai oleh Jama'ah Tabligh:
1. Meninggikan kalimat Allah.
2. Menyampaikan Islam dan mensyiarkannya.
3. Mempersatukan orang-orang yang sama akidahnya, serta mengadakan rekonstuksi pemahaman madzhab, etika, dan pendidikan.
Selain itu, Muhammad Ilyas pernah menjelaskan bahwa aktifitas dakwah dari kampung ke kampung hanya sekedar awal dari seluruh misi Jama'ah Tabligh. Sedangkan penegakan kalimatullah, mengajarkan shalat, dan aktif dalam bidang pendidikan laksana alif, ba', dan ta' bagi gerakan tersebut. Final dari semua itu ialah mendidik masyarakat dengan seluruh ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sesuai dengan akidah yang dikehendaki Muhammad Ilyas.
Muhammad Ilyas juga pernah bertutur kepada rekan dekatnya, Dhahir al-Hasan, "Tujuanku tidak bisa dimengerti setiap orang, masyarakat menduga pergerakan ini sekedar mengajak orang mengerjakan shalat. Aku pun bersumpah, demi Allah gerakan ini bukan sekedar mengajak orang mengerjakan shalat". Inti dari tujuan mereka adalah ingin menciptakan tarekat dan akidah sebagai alat propaganda untuk menghimpun anggota Jama'ah sebanyak-banyaknya. Dan menurut Dhahir al-Hasan Jama'ah Tabligh ini telah mewadahi syariat, tarekat dan hakikat dengan sangat sempurna.
Selanjutnya Maulawi Abu Ahmad menyoal akidah Jama'ah Tabligh yang telah dijelaskan oleh Muhammad Idris Anshori. Dalam penjelasannya ia mengatakan, "Akidah Jama'ah Tabligh ini adalah laiilaha illalah muhammadur rosulullah". Menurut Maulawi Abu Ahmad memang benar akidah ini merupakan akidah Islam, tetapi sangat disayangkan akidah ini juga mereka pakai untuk merekrut golongan al-Qodiyani, al-Bahai, dan golongan-golongan lain yang telah dinyatakan keluar dari ajaran Islam. Seluruh golongan bisa masuk dalam komunitas Jama'ah Tahligh selama mercka mengakui dua kalimat syahadat.
Statemen di atas memiliki ekuivalensi dengan apa yang tertulis dalam Dustur al-A'mal, "Setiap orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat dan mengakui maknanya sebagai akidah, kemudian setuju dengan pergerakan ini dan dengan penuh semangat ikut berkhidmah kepada agama Islam, maka dengan sendirinya termasuk anggora Jama'ah ini. Meski pun berasal dari golongan mana saja atau berdiam di penjuru mana pun. Untuk masuk ke dalam Jama'ah ini tidak ada syarat lain". Di tempat lain dalam Dustur al-A'mal juga tertulis, "Jangan sampai membicarakan masalah khilafiyah dan furu'iyyah. Sampaikan saja pokok-pokok tauhid dan rukun-rukun Islam".
Muhammad Ilyas juga mengatakan, "Dasar gerakan kita adalah meningkatkan keimanan dan keyakinan dalam beragama. Oleh karena itu, tidak usah mengungkit-ungkit permasalahan akidah". (Malfudhot:116). Dia juga mengatakan, "Pada suatu saat kalian menyinggung masalah bid'ah. Lain kali kata-kata itu jangan kalian sampaikan karena bisa memancing fitnah di tengah masyarakat". (Makatib:l42).
Jelas sudah kini bahwa mereka tidak mempunyai apakah Ahlus Sunah atau Ahli Bid'ah. Semua mereka kasihi di bawah bendera lailaha illallah muhammadur rasulullah. Ada dua persoalan yang harus dijawab oleh Jama'ah Tabligh mengenai hal ini. Pertama, agar akidah kita selamat, kita harus mengenal akidah yang benar, membedakannya dengan 72 dua firqoh yang terancam masuk neraka. Untuk mengetahui ha1 itu mau tidak mau kita harus mendiskusikan khilafiyah yang terjadi dalam permasalahan teologi.
Kedua, dengan merekrut seluruh golongan, berarti tanpa disadari mereka telah menjalin hubungan harmonis dengan ahli bid'ah. Padahal keharmonisan ini telah dilarang oleh Nabi, "Barangsiapa melihat pelaku bid'ah dengan pandangan penuh kebencian, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan iman dan perasaan aman. Barangsiapa menghardik pelaku bid'ah dengan penuh kebencian, kelak di hari kiamat dia akan aman dari siksa neraka. Barangsiapa menghina pelaku bid'ah, derajatnya di surga kelak akan dilipatgandakan seratus kali. Barangsiapa ketika bertemu dengan pelaku bid'ah menampakk'an face yang ceria, maka sungguh ia telah melecehkan ajaran Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw".
Seorang Wali agung Fudlail bin 'iyadl juga mengatakan, "Barangsiapa mencintai Pelaku bid'ah, Allah akan menghapus amalnya dan menghilangkan cahaya keimanan dari hatinya. Ketika Allah mengetahui ia membenci pelaku bid'ah, aku berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Kemudian ketika kamu menjumpai pelaku bid'ah di tengah jalan, maka ambillah jalan lain". (AlGhunyah, 1:90).

Ushulus Sittah
Realisasi laa ilaha illallah muhammadur rasulullah merupakan salah satu dari enam asas dari pergerakan Jama'ah Tabligh. Agar penjelasan ini lebih perfect, kami akan menyampaikan keenam landasan Jama'ah Tabligh yang terkenal dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam).
Merealisasikan Kalimat Thayyibah La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Mereka menafsirkan makna La Ilaha Illallah dengan: "Mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang Dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Madlarat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan". Mayoritas diskusi mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata. (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu an-Ushahhah, hlm.4).
Padahal makna La Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: "Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah." (Lihat Fathul Majid, karya asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hlm. 52-55). Adapun makna 'merealisasikannya' adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al-asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa'rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hlm. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: "Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya) dari kesyirikan, bid'ah, dan kemaksiatan." (Fathul Majid, hlm. 75)
Oleh karena itu, asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jama'ah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golougan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asy'ariyah serta Maturidiyah, dan kepada Maturidiyah mereka lebih dekat". (Nazhrah 'Abirah I'tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 46).
Kritik serupa banyak disampaikan oleh kalangan Wahabiyah. Kekeliruan ini terjadi karena Jama'ah Tabligh mempunyai 'kalimat kunci' dalam pergerakan mereka. Kalimat kunci tersebut ialah, segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan perpecahan -walaupun hal tersebut merupakan kebenaran- maka harus ditinggalkan dan disingkirkan. Jama'ah Tabligh tidak akan pernah bersedia mendiskusikan tauhid al-asma' was shifat, sebab diskusi tersebut akan menimbulkan konflik di antara mutakallimin. Di sana ada kelompok Asy'ariyah, Maturidiyah, Jahmiyah, Hululiyah, Ittihadiyah dan lain -lain. Tauhid uluhiyah juga tidak akan mereka bicarakan, sebab di dalamnya terdapat konflik antara golongan yang melegalkan ziarah kubur dan tawassul dengan golongan yang mengkafir-kafirkan ahli ziarah dan ahli tawassul. Jama'ah Tabligh hanya bersedia membicarakan tauhid rububiyyah; Allah yang menciptakan, Allah yang memberi rizki, Allah yang memberi nikmat, dan makna-makna tauhid rububiyyah yang lain. Padahal tauhid semacam ini juga telah dikenal oleh kaum musyrikin Arab pada masa lampau.
Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri
Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: "Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunah-sunahnya, hukum sujud sahwi dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jama'ah Tabligh) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka". (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu 'an Ushahhah, h1m. 5-6).
Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir
Mereka mengklasifikasikan ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhoil. Ilmu masail, menurut prespektif mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj dan pada majelis-majelis tabligh. Jadi yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal serta dasar-dasar pedoman Jama'ah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu.
Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya. (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hlm. 6).
Pengklasifikasian yang telah disampaikan oleh Jama'ah Tabligh memang kurang tepat. Sekali lagi motif dari pengklasifikasian ini karena mereka ingin menghindari konflik dengan cara menghindari ilmu-ilmu masa'il. Dengan demikian berarti Jama'ah ini membiarkan begitu saja anggotanya mempunyai atau menganut ilmu-ilmu masa'il yang mungkin mengandung kebid'ahan atau kesesatan. Bukankan kebid'ahan itu merupakan kemungkaran yang harus diluruskan? Kita patut bertanya kepada mereka, apakah mereka hanya bisa mendakwahi orang-orang di luar golongan mereka dan menganggap anggota Jama'ah mereka tidak ada lagi yang memerlukan dakwah?
Baiklah! Berikut di sini kami akan menyampaikan definisi ilmu dan pengklasifikasiannya menurut para ulama.
Dalam pengertian etimologis, ilmu bisa berarti ma'rifat (pengetahuan), syu'ur (filling), itqon (keahlian), dan yaqin (keyakinan). Sedangkan dalam pengertian terminologis, ilmu berarti visualisasi dari sebuah pengetahuan yang ditangkap oleh akal. Sedangkan menurut al-'Adlud al-Iji ilmu adalah sebuah sifat yang mendiferensikan antara beberapa makna sehingga tidak ada lagi kontradiksi. Sedangkan menurut penulis kitab Kulliyyat makna substansial dari kata 'ilmu' ialah idrok (persepsi kognitif). Makna ini mempunyai keterkaitan dengan al-ma'lum (informasi atau data). Agar sebuah informasi terus terekam dalam otak maka membutuhkan sebuah instrumen yang disebut dengan malakah (naluri). Sedangkan kata 'ilmu' bisa digunakan untuk ketiga-tiganya; idrok, al-ma'lum, dan malakah.
Sedangkan mengenai hukum tergantung pada seberapa kadar faedah yang terkandung dalam sebuah ilmu dan seberapa ilmu itu dibutuhkan oleh manusia. Setelah menganalisa kadar masing-masing, kita akan mengetahui bahwa mempelajari sebuah ilmu ada yang hukumnya wajib seperti mempelajari ilmu tentang shalat, sunah seperti memperluas pengetahuan agama, mubah seperti mempelajari puisi yang liriknya tidak memberi dampak negatif atau positif, makruh seperti mempelajari puisi cinta, dan haram seperti mempelajari sihir dan sulap. Kemudian ilmu wajib dapat diklasifikasikan menjadi dua kategorial; fardlu ain dan fardlu kifayah.
Imam Nawawi telah mengatakan: Termasuk bagian dari ilmu syar'i adalah ilmu yang hukumnya fardlu ain. Fardlu ain ialah ilmu yang inheren dengan sebuah kewajiban. Sebuah kewajiban tidak akan terealisasi kecuali dengan adanya ilmu tersebut, seperti cara melakukan wudlu, shalat, dan yang lainnya. Sedangkan dalam permasalahan ushul dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah, maka cukup dengan mempercayai dan meyakini seluruh ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dengan sebuah keyakinan yang mantap dan tidak ada lagi keraguan. Orang yang telah mempunyai keyakinan seperti ini tidak diwajibkan mempelajari dalil-dalil (theorem) para teolog.
Termasuk dari ilmu yang harus dipelajari dan hukumnya fardlu ain adalah ilmu hati. Ilmu hati dalam penjelasan Imam Nawawi ialah ilmu tentang penyakit hati seperti dengki, ta'ajjub dengan diri sendiri, dan yang lain.
Al-Ghazali mengatakan, "Hukum mendiagnosa penyakit hati, mengetahui batasan-batasannya, gejalanya, obatnya, dan bagaimana cara pengobatannya, adalah fardlu ain". Sedangkan menurut ulama lain, seseorang yang dikaruniai hati yang bersih, sehingga tidak mungkin terjangkit penyakit hati, dia tidak diwajibkan belajar tentang obat hati. Namun jika seseorang mungkin terjangkit penyakit ini, maka dia harus introspeksi diri, apakah dia mampu memberikan obat penawar dengan tanpa harus belajar atau tidak mampu. Jika dia mampu melakukan pengobatan sendiri maka dia harus segera melakukan pengobatan dan kembali membersihkan hatinya. Apabila tidak mampu melakukan pengobatan sebelum mempelajari ilmu tentang pengobatan, maka hukum mempelajari pengobatan tersebut adalah fardlu ain.
Sedangkan ilmu yang fardlu kifayah ialah ilmu-ilmu syariat yang sangat diperlukan untuk menegakkan agama Islam. Contohnya seperti menghafalkan al-Quran dan Hadits, mengkaji ilmu a1-Quran, Hadits dan ushul, mengkaji fiqih, mempelajari gramatika Arab, mengetahui para perawi Hadits, mengetahui tentang ijma' dan khilaf antar ulama. Termasuk fardlu kifayah juga adalah ilmu-ilmu yang dibutuhkan uutuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia, seperti kedokteran, hisab, dan beberapa ilmu dalam bidang usaha seperti navigasi dan garmen.
Di atas jelas tertulis bahwa mempelajari khilaf yang terjadi di tengah ulama atau masail hukumnya adalah fardlu kifayah. Lalu bagaimana Jama'ah Tabligh dengan begitu saja meninggalkan kewajiban ini dengan mengatakan "Mempelajari khilafiyah hanya akan menyebabkan konflik". Apakah mereka tidak mengerti bagaimana resiko meninggalkan fardlu kifayah? Hukum meninggalkan fardlu kifayah secara total dalam sebuah komunitas adalah atsimal jami' (seluruh manusia dalam komunitas tersebut akan menanggung beban dosa).
Jadi pengklasifikasian ilmu dalam versi Jama'ah Tabligh akan melahirkan sebuah pertanyaan besar, terutama mengenai ilmu masail. Dalam prespektif mereka, ilmu masail harus dipelajari di luar komunitas Jama'ah Tabligh, di pelajari di negeri masing-masing. Padahal faktanya, ketika seorang telah menyatakan diri masuk dalam keanggotaan Jama'ah Tabligh mereka nyaris tidak lagi tertarik untuk menimba ilmu kepada para ulama yang notabene tidak mendukung gerakan Jama'ah Tabligh, kalau perlu ulama tersebut menjadi obyek dakwah mereka.
Anggota Jama'ah Tabligh hanya tertarik untuk menimba ilmu yang ada dalam komunitas mereka sendiri. Sedangkan ilmu yang tersedia dalam komunitas tersebut hanyalah keutamaan ibadah; fadlilah, fadlilah dan fadlilah. Mereka rawan terpedaya oleh setan karena mereka tidak mempunyai kestabilan antara ritual ibadah yang identik dengan fadlilah dan keilmuan. Apakah mereka belum tahu lebih utama mana antara orang alim dan ahli ibadah? Tentu lebih utama orang alim. Dalam al-Quran disebutkan, "Katakanlah: "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar : 9). Disebutkan pula, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (QS. at-Mujadalah : 11). Dan firman Allah, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama". (QS. Fathir : 28). Keutamaan orang-orang yang berilmu dibanding ahli ibadah juga disabdakan oleh Nabi, "Menuntut ilmu lebih utama dari pada shalat sunnah". Dalam Hadits lain Nabi bersabda, "Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah sebagaimana keutamaanku (Nabi) dibanding orang yang paling rendah di antara kalian".
Menghormati Setiap Muslim
Sesungguhnya Jama'ah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan yang jelas dalam merealisasikan ushul yang keempat ini, khususnya dalam masalah al-wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang kontras dengan substansi ushul yang keempat ini. Mereka memusuhi orang-orang yang menasihati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda prinsip, walaupun orang tersebut 'alim rabbani. Memang hal ini tidak rerjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hlm. 8.)
Dalam kritik yang ia sampaikan, Muhammad Ali Ishmah al-Medani menuliskan, "Dalam urusan amar ma'ruf nahi munkar mereka juga menggunakan senjata kalimat rahasia ini... Oleh karena itu bila ada orang yang bermaksiat ikut khuruj bersama mereka ingin merokok maka mereka memperbolehkannya bahkan membelikan rokok untuknya. Demikian juga peminum arak, mereka akan membawakan botolnya. Dan kalau orang itu ingin mencukur jenggotnya mereka akan berikan pisau cukur untuknya atau mereka akan membawanya ke tukang cukur".
Seandainya informasi tersebut akurat dan sesuai dengan realitas di lapangan, artinya mereka mentolerir sebuah kemaksiatan, tentu hal ini merupakan sebuah kesalahan Jama'ah Tabligh yang harus kita luruskan. Pertama, kita tidak diperbolehkan muwalah (mengasihi) orang-orang munafik. Allah telah berfirman:
لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين
"Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min". (QS. A1i Imran : 28)
AI-Qofal mengatakan, "Ayat tersebut merupakan larangan bagi kaum Muslimin untuk mengasihi orang-orang munafik. Sebab terkadang virus kemunafikan itu akan menular, sehingga kita mengikuti gaya hidup dan pola pikir mereka. Oleh sebab itu janganlah kalian menjadikan mereka sebagai kekasih".
Kedua, sikap diam mereka terhadap sebuah kemaksiatan berarti mengindikasikan sebuah keridloan. Padahal ridlo dengan maksiat adalah kemaksiatan. Atau yang Iebih parah lagi jika mereka turut menfasilitasi atau melancarkan usaha kemaksiatan. Hal ini merupakan sebuah pertolongan yang disebut dengan i'anah ‘alal ma'shiyyat. Bukan hanya pelaku kemaksiatan saja yang berdosa, melainkan fasilisator sebuah kemaksiatan juga akan mendapatkan jatah dosa.
Memperbaiki Niat
Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dau keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jama'ah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hlm. 9).
Sekali lagi, kritik yang disampaikan oleh Ruwaifi' di atas berawal dari back groundnya sebagai seorang Wahabi. Dia dan kawan-kawan sering melontarkan kritik yang berhubungan dengan kuburan dan tawashul. Untuk mengetahui kebenaran atau kekeliruan kritik mereka, insyaallah kami akan mengupasnya pada bab berikutnya yang mengulas tentang Wahabi.

Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah Subhanahu Wata'ala
Cara merealisasikan hal tersebut adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah) bersama Jama'ah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta'lim setiap hari, majelis ta'lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturrahmi, membaca satu juz al-Quran setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para Jama'ah yang khuruj, serta i'tikaf pada setiap malam Jum'at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah yang disampaikan oleh salah seorang anggota Jama'ah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hlm. 9).
Aktifitas khuruj yang dilakukan oleh para karkun bukan hal asing lagi di Indonesia. Kita sering melihat sebuah kelompok yang berjumlah sekitar sepuluh sampai lima belas orang, berjenggot, bersurban dan celana dipangkas agak tinggi, sebagai ciri dari penampilan mereka. Biasanya sebelum melakukan khuruj terlebih dahulu mereka akan menerima tawaran, siapa saja yang telah siap untuk mengadakan khuruj?
Hidayatullah pernah menuliskan aktifitas yang dilakukan dalam sebuah masjid di Kebon Jeruk, Jakarta Selatan sebagai berikut, "Usai khutbah ada tasykil, tawaran khuruj secara berombongan. Lamanya dakwah bervariasi mulai 3 hari, 7 hari, 10 hari, 40 hari sampai 4 bulan. "Ayo saudara-saudara kita dakwah, masya Allah, masya Allah. Allah yang akan menjaga anak, istri, keluarga atau harta kita," katanya. Banyak Jama'ah antusias menerima ajakan itu. Mereka lalu didaftar dan diseleksi oleh Ahli Syura. Hanya yang memenuhi syarat yang bisa khuruj".
Yang sering menjadi permasalahan adalah tentang keluarga yang ditinggalkan. Bahkan sebagian orang menuduh anggota Tabligh telah menelantarkan anak dan istri untuk kepentingan dakwah. Mereka meninggalkan anak dan istri di rumah tanpa meninggalkan nafkah. Namun tuduhan apriori ini disikapi biasa saja oleh Jama'ah Tabligh sebab menurut mereka sebelum melakukan dakwah segalanya telah diperhitungkan dengan cukup matang. Mari kita lihat wawancara yang dilakukan oleh Hidayatullah dengan Amin, salah seorang penanggungjawab Jama'ah Tabligh Surabaya.
Khuruj dilakukan secara berkelompok -antara 10 hingga 15 orang- mengunjungi daerah-daerah sesuai sasaran dakwah yang telah ditentukan. Bagaimana dengan pendanaan? Dan bagaimana pula dengan nafkah pada keluarga yang ditinggal di rumah?
"Itu sudah diperhitungkan secara matang," ujar Amin yang sudah 7 kali keliling dunia (1995 ke Eropa, 1996 ke Australia, 1997 ke Afrika, dan ke beberapa negara di Asia lainnya). "Khuruj jangan disalahtafsiri mengabaikan keluarga di rumah," timpal Muhammad Muslihuddin, salah seorang anggota Syuro Jama'ah Tabligh Indonesia.
Sebelum khuruj, keluarga di rumah terlebih dulu dicukupi nafkahnya. Atau dengan cara lain, misalnya "Bersama keluarga secara berpasangan dengan muhrim-nya, suami dan isteri serta anak-anak," tambahnya.
Soal biaya?
"Itu ditanggung pribadi masing-masing. Karena, dari setiap usaha yang dilakukan sengaja disisihkan untuk dakwah". Ustadz Amin melengkapi keterangan Muslihuddin.
Setidaknya, kata Muslihuddin, dalam sebulan ada 3 hari dan 40 hari dalam setahun yang disisihkan untuk khuruj. Jumlah waktu khuruj ini, katanya lagi, jika dibanding dengan waktu di rumah sebetulnya lebih banyak waktu yang diberikan untuk keluarga di rumah. Kalangan Jama'ah kita, lanjutnya, sudah paham. Sehingga, ketika ada keluarga, misalnya suami yang melakukan khuruj, istri dan anak di rumah sudah mahfum.
Hasil interview yang dilakukan oleh Daromi juga akhirnya mempunyai kesimpulan yang serupa. Anggota Jama'ah Tabligh tidak menelantarkan keluarga mereka. Daromi mengatakan, "Pertanyaan ini pernah saya diskusikan dengan beberapa Jama'ah Tabligh dari berbagai markas (demikian Jama'ah ini menyebut), dan yang benar menurut temen-teman saya yang di JT adalah sebelum keluar (khuruj), maka nafkah harus terpenuhi dahulu baru bisa keluar, juga harus izin dengan istri dulu. Adapun kasus-kasus seperti menelantarkan istri atau meninggalkan orang tua yang sakit adalah kasus yang terjadi karena begitu antusiasnya sebagian personil dari Jama'ah ini, sehingga menyimpang dari kaidah yang benar. Kadang ada Jama'ah yang mengasumsikan seperti halnya Nabi Ibrahim menimggalkan istrinya dan Nabi Ismail di tengah gurun dimana Allah lah yang mencukupi rizkinya, dan ini kurang benar".
Menurut Daromi dampak dari dakwah ini sangatlah positif, mampu merubah pola hidup yang hedonis menjadi religius. Mereka mengajak orang lain shalat berjama'ah, berdzikir dan lain-lain. Dia mencontohkan perubahan itu pada diri Gito Rollies, "Kalau kita lihat Gito Rollies sekarang sudah jauh berbeda dengan Gito yang dulu, karena bersentuhan dengan Jama'ah ini. Gito Rollies juga sering khuruj (menurut keterangan temen-temen saya yang aktif di JT)".
Namun dari sisi lain, kita harus menyampaikan kritik kepada Jama'ah Tabligh, sebab mereka telah mewajibkan kegiatan dakwah dengan memberikan batasan waktu 3 hari, 7 hari, 40 hari atau 3 bulan. Mengenai hal ini Daromi mengatakan, "Adapun keluar khuruj, kalau hal ini menjadi sebuah kewajiban dengan berpatokan pada 3, 7, 40 hari atau 3 bulan menurut saya menyalahi sunah rasulullah karena Rasalullah tidak mewajibkan jumlah-jumlah tersebut, apalagi jika sampai menelantarkan keluarga".
Ruwaifi' juga mengkritik penentuan hari tersebut dengan menampilkan beberapa pendapat ulama Wahabi. Berikut beberapa pendapat yang telah dikutip oleh Ruwaifi':
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata: "Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jama'ah Tabligh) sebut dengan khuruj maka ini bid'ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan Jama'ah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak." (Aqwal Ulama as-Sunah fi Jama'atit Tabligh, hlm. 7)
Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi berkata: "Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada al-Quran dan as-Sunah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, Syaikh mereka yang ada di Bangladesh (maksudnya India). (Aqwal Mama as-Sunah fi Jama'atit Tabligh, hlm. 6).
Tabligh, Tarekat dan Tasawwuf Muhammad Ilyas
Sesuai dengan misi Jama'ah Tabligh yang ingin mengejar fadlail, membuat mereka lebih akrab dengan wirid dan wadhifah-wadhifah yang lain. Untuk ini kita perlu mengenal bagaimana sebenarnya pandangan pendiri gerakan ini mengenai tabligh, tarekat dan tasawwuf.
Untuk mengetahui pandangan Muhammad Ilyas, mari kita simak statemen-statemen yang pernah ia sampaikan sebagai berikut, "Fungsi tarekat hanyalah untuk mendorong seseorang agar dengan senang hati mau menjalankan hukum-hukum Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Sedangkan fungsi dzikir, amalan-amalan hanyalah untuk mewujudkan hal-hal di atas. Namun sayang sekali kebanyakan orang menyangka tarekat, dzikir dan amalan-amalan tertentu sebagai tujuan. Apalagi ada yang berupa perbuatan bid'ah". (Mahfudhat:l4).
Statemen di atas kemudian dikritik oleh Maulawi Abu Ahmad sebagai berikut, "Jadi menurut Muhammad Ilyas fungsi dari tarekat hanyalah sebagai stimulus untuk menjalankan hukum-hukum Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan dzikir sebagai penopang saja. Setelah hal di atas terwujud maka seseorang tidak lagi membutuhkan tarekat, bahkan yang harus dilakukan selanjutnya adalah berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk melakukan dakwah. Apakah pernyataan seperti ini pernah disampaikan oleh para ulama terdahulu? Jawabnya tidak".
Sebenarnya akuitas kritik di atas masih kurang, sebab mungkin Muhammad Ilyas yang menganggap tarekat dan dzikir bukanlah sebagai tujuan pokok dapat dibenarkan. Memang keduanya bukanlah tujuan, tujuan sebenarnya dari tarekat dan dzikir adalah ma'rifat kepada Allah. Begitulah tahap-tahap yang harus ditempuh dalam dunia tasawwuf. Syariat ibarat perahu, tarekat ibarat lautan, dan hakikat ibarat mutiara dalam lautan. Perahu dan lautan hanyalah alat dan tempat untuk mendapatkan mutiara. Mutiara itulah tujuan akhir bagi para mutasawwif.
Syariat adalah melakukan beberapa perintah dan meninggalkan larangan. Tarekat adalah selalu meneladani Nabi dan mengamalkan sunah-sunahnya. Ada juga yang mengatakan tarekat adalah berhati-hati dalam seluruh tindakan dan melakukan amal-amal yang berat, seperti bersifat wira'i dan continue melakukan riyadloh; meminimalisir makanan, minuman, tidur, berbicara dan banyak melakukan dzikir. Sedangkan hakikat adalah buah dari tarekat yang berupa ma'rifat kepada Allah.
Selain itu, orang yang antusias menghadiri majlis dzikir dan telah merasa cukup dengan dzikir itu; dzikir yang dilakukan tidak mampu merubah perilaku menjadi lebih baik, maka orang tersebut adalah orang yang tertipu. Sebab sebuah dzikir akan bernilai baik ketika ia bisa menjadi stimulus untuk melakukan amal yang baik. Ketika sebuah dzikir tidak mampu menjadikan seseorang menjadi lebih baik maka tidak ada nilai kebaikan dalam dzikir tersebut.
Maulawi Abu Ahmad menuduh Muhammad Ilyas telah menciptakan tarekat gaya baru. Tuduhan ini ia lontarkan karena menurut Muhammad Ilyas amalan yang baik dilakukan setelah waktu subuh adalah membaca terjemah atau mengajarkan al-Quran. Ajaran ini tertulis dalam Dustur al-A'mal halaman 20.
Sugesti di atas belum pernah disampaikan oleh ulama salaf kepada para pengamal tarekat. Selanjutnya Maulawi mengutip amalan setelah subuh yang pernah disampaikan oleh Syaikh Zainuddin Ali al-Malibari dalam Hidayatul Adzkiya', "Mengenai amalan setelah shalat subuh adalah menyibukkan diri dengan wirid, tidak boleh berbicara, selalu menghadap kiblat, muroqobah dan membaca kalimat tahlil, sesuai tarekat yang diajarkan para guru. Engkau akan melihat api dan cahaya, menyinari hati dengan cahaya terang, perangai-perangai buruk pun sirna dan kemudian menjadi ahli musyahadah. Hal ini adalah nikmat agung dari Allah. Aktifitas di atas dilakukan hingga matahari naik sepenggalan".
Dari abstraksi di atas Maulawi Abu Ahmad kemudian membuat sebuah presumpsi bahwa rutinitas pengajian dan dzikir yang dilakukan oleh Jama'ah Tabligh tidaklah seperti layaknya pengajian, sebab yang mereka kaji hanyalah buku-buku tentang fadlilah amal yang ditulis oleh para Amir dan sama sekali tidak menyinggung ilmu fiqih atau ilmu khilaf yang lain. Dzikir yang mereka lakukan pun tidak selayaknya dzikir yang dilakukan oleh para penganut sebuah tarekat.
Hal lain yang disorot oleh Maulawi Abu Ahmad adalah perkataan Muhammad Ilyas yang pernah diekspos dalam harian Gandharikah, 24 Juli 1976, "Guru tarekatku telah memberikan ijazah kepadaku untuk membimbing dan mengajar murid-murid tarekat tentang amalan-amalan tasawwuf dan berbagai macam riyadloh. Mereka kemudian aku bimbing dengan karunia dan nikmat Allah, mereka pun merasakan lezatnya berdzikir dalam waktu yang singkat. Aku sangat heran dengan keadaan mereka, yang bisa mencapai kemajuan spiritual dengan sangat pesat. Kemudian aku berfikir, sebenarnya apa faedah dari tarekat yang mereka jalani itu? Paling-paling yang mereka peroleh hanya popularitas di tengah-tengah masyarakat, karena bisa melakukan hal-hal yang aneh, luar biasa, bisa selamat dari pemeriksaan perkara, bisa mempunyai anak setelah mandul, sukses dalam perniagaan, profesi dan lain sebagainya. Kemudian para sufi itu membikin azimat-azimat dan haekal. Agar mereka dihormati banyak orang. Mereka bersusahpayah menjalani amalan tarekat dan riyadloh hanya untuk tujuan-tujuan yang rendah. Setelah merenung dan berfikir panjang, aku tidak lagi tertarik pada dunia tarekat dan aku putuskan untuk meninggalkannya".
Menurut Abu Muhammad, perkataan Muhammad Ilyas ini merupakan pelecehan terhadap para kaum sufi. Dia menyebut riyadloh yang dilakukan oleh sufiyyah hanya untuk mendapatkan popularitas, identik dengan klenik, dan tujuan-tujuan duniawi. Atau mungkin Muhammad Ilyas mengatakan hal di atas karena dia tidak memahami seluk beluk sebuah tarekat?
Jika kita analisa sekilas, perkataan Muhammad Ilyas ada benarnya. Artinya, kita harus pandai-pandai me-manage niat. Jangan sampai amal yang seharusnya murni dipersembahkan hanya untuk Allah terkontaminasi dengan kepentingan pribadi; popularitas, materi, atau kesuksesan duniawi yang lain. Banyak amal yang kemasannya amal akhirat, namun isinya adalah untuk meraih kepentingan dunia. Dengan demikian berarti tarekat dan tasawwuf telah disalahartikan. Namun kesalahan sebenarnya bukan terletak pada ajaran tarekat atau tasawwuf, melainkan kesalahan person-person yang belum mengenal dunia tarekat secara mendalam. Justru orang-orang seperti itu merupakan pasien yang harus diobati dengan tarekat dan tasawwuf. Dari sini berarti keputusan Muhalnmad Ilyas untuk hengkang dari dunia tarekat merupakan keputusan yang keliru, sebab tiada lagi jalan untuk mencapai ma'rifat selain tarekat.
Ajaran Muhammad Ilyas yang dirasa aneh masih menyisakan teka-teki besar. Karena ternyata ajaran yang tujuan awalnya adalah untuk menyatukan umat yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat justru masih sulit diterima oleh golongan-golongan lain. Yang Sunni menuduh Jama'ah Tabligh sebagai Wahabiyah dan yang Wahabi menuduh mereka sebagai golongan sesat, ahli kubur.
Maulawi Abu Ahmad menyebut Muhammad Ilyas telah mengusung benih-benih ajaran Wahabi. Sebutan tersebut bukanlah tuduhan yang aprioris melainkan sebuah sikap pragmatis, berdasarkan sebuah analisa terhadap pernyataan Muhammad Ilyas mengenai kalimat ash-sholatu was-salamu 'alaika. Muhammad Ilyas mengatakan, "Dalam ucapan ini rawan sekali terjadi kebid'ahan apalagi dalam pengucapannya dibarengi perasaan akan kehadiran Nabi saw. Dalam presumpsinya Maulawi mengatakan, "Mari kita renungkan! Statemen Muhammad Ilyas yang merupakan manifesto mengenai larangan memanggil Nabi saw dengan menganggap seolah-olah hadir dan melihat kita, meski pun dalam keadaan dilanda rindu dendam kepada beliau. Padahal ketika dalam keadaan rindu dendam berarti sudah berada di luar kontrol. Selain itu, menghadirkan bayangan Nabi merupakan salah satu penyebab rusaknya akidah dan harus dijauhi. Statemen Muhammad Ilyas ini persis dengan statemen-statemen kaum Wahabi".
Sedangkan yang Wahabi mengatakan, "Jama'ah ini dibangun di atas empat jenis tarekat sufi; Jisytiyah, Qadiriyah, Sahrawardiyah dan Naqsyabandiyah. Di atas empat tarekat Sufi inilah In'amul Hasan membaiat para pengikutnya yang telah pantas untuk dibaiat. Dari sini telah nampak Jama'ah Tabligh tidaklah menjadikan pemahaman salaf shaleh sebagai fundamen. Sehingga pemahaman yang demikian dapat dipastikan kesesatannya".
Asumsi tentang kesesatan Jama'ah Tabligh banyak disampaikan dalam fatwa ulama-ulama Wahabi. Salah satunya bisa kita lihat dalam fatwa Muhammad bin Ibrahim Ali Syeikh yang ia sampaikan pada Pangeran Khalid bin Sa'ud, "...Saya mengemukakan ke hadapan Pangeran, bahwasanya organisasi ini tidak ada kebaikan di dalamnya, karena sesungguhnya ia adalah organisasi bid'ah dan sesat. Dan dengan membaca buku-buku kecil yang dilampirkan dengan surat mereka, maka kami telah menemukan buku-buku itu mengandung kesesatan, bid'ah dan dakwah (ajakan) untuk mengibadati kubur dan syirik".
Kini menjadi pekerjaan rumah kita semua untuk menyingkap siapa sebenarnya Jama'ah Tabligh dan apa motif 'terselubung' dari pergerakan mereka? Mungkin tulisan di atas hanyalah sedikit informasi yang kami terima tentang mereka, dan kami yakin masih banyak lagi informasi yang belum kami ketahui. Oleh karena itu kami menghimbau kepada semua pihak, mari kita membicarakan ini secara transparan melalui medium-medium yang ada terutama media tulis. Bagi anggota Jama'ah Tabligh sendiri silahkan Anda berbicara dan tunjukkan kebenaran kalian jika kalian merasa benar. Tapi sekali lagi seluruh kebenaran harus disertai dengan hujjah dan argumen yang obyektif".
Sebagai sajian akhir kami akan menyampaikan beberapa catatan Ustadz Azizi yang mungkin bisa kita jadikan konklusi dari seluruh deskripsi yang telah kami paparkan di atas.
Catatan Suplemen Dari Ustadz Azizi
Dalam Majalah Misykat, rubrik Kupas Tuntas, yang diasuh oleh KH. M. Azizi Hazbullah, ia telah mengungkapkan beberapa kelebihan dan kekurangan Jama'ah Jaulah. Dari beberapa referensi dan investigasi ke beberapa tokoh Jaulah, setidaknya Kiai Azizi berhasil menyimpulkan enam pokok doktrinal yang diajarkan dalam Jaulah. Selain enam hal tersebut, kiai muda tersebut mensinyalir masih banyak ajaran-ajaran 'rahasia' Jaulah yang berpotensi mengandung kesalahan. Keenam doktrin tersebut ialah:
Tidak boleh berpolitik karena akan menyebabkan kebohongan dan pertengkaran
Menurut Ustadz Azizi orang yang tidak mau berpolitik pasti akan menjadi mangsa politik. Jadi doktrin yang disampaikan Jaulah ini sangat berbahaya, dan bahkan kemungkinan doktrin ini merupakan upaya politik untuk melemahkan hegemoni umat Islam dalam percaturan dunia. Fungsi dari pemerintahan adalah untuk merealisasikan syariat Islam. Jika umat Islam tidak memiliki hegemoni politik, maka tidak mustahil negara akan dikuasai oleh non-muslim yang akan menjegal pelaksanaan segala bentuk aktifitas keislaman.
Selanjutnya Ustadz Azizi mencoba membaca situasi di negara kita. Di mana saat ini masih banyak umat Islam yang duduk di Lembaga Pemerintahan baik Eksekutif atau Legislatif, tetapi tidak sedikit umat Islam yang justru memberikan banyak suport pada program non-muslim. Seperti bidang pendidikan dan perundang-undangan. Dalam bidang pendidikan masih terjadi ketimpangan dan disharmoni antara materi agama dan umum. Dalam kurikulum kita materi keagamaan masih memiliki porsi yang jauh di bawah standar.
Kondisi seperti ini telah kita rasakan, ketika yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang Islam. Lalu bagaimana jika politik dan pemerintahan telah dikuasai oleh kelompok non-Islam? Tentu Islam akan menjadi mangsa dan korban dari politik itu sendiri.
Tidak boleh nahi munkar tetapi cukup amar ma'ruf, karena amar ma'ruf pada hakikatnya adalah nahi Munkar. Selain itu nahi munkar akan berpotensi konflik.
Larangan yang disampaikan Jaulah untuk nahi munkar merupakan pengingkaran terhadap perintah Allah. Sebab Allah tidak hanya memerintahkan nahi munkar melainkan juga amar ma'ruf. Dalam al-Qur'an Allah berfirman:
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar". (QS. A1i Imran : 110)
كتب عليكم القتال وهو كره لكم وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وانتم لا تعلمون
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui". (QS. A1-Baqarah : 216)
Tidak boleh menyebutkan dalil tandzir (ancaman dari al-Quran dan al-Hadits), karena akan mengakibatkan orang takut.
Yang boleh hanyalah tabsyir (memberi kabar gembira tentang amaliyah dan pahalanya), sehingga pengajian-pengajian mereka yang disampaikan hanya tentang fadlail al-a'mal (keutamaan amal).
Sikap antipati Jaulah yang tidak mau membicarakan ancaman Allah dan hanya bersedia membicarakan kabar gembira dari Allah, merupakan kesalahan fatal. Sebab ketidakseimbangan (disekuilibritas) antara roja' dan khauf akan memberikan efek ghurur (tertipu), merasa dirinya yang paling baik dan kemudian menjadi ‘ujub (bangga) dengan segala amal ibadahnya. Sedangkan ‘ujub merupakan perbuatan yang akan menghilangkan pahala amal itu sendiri. Tendensi yang dijadikan justifikasi oleh Ustadz Azizi adalah firman Allah:
قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا. الذين ضل سعيهم فى الحياة الدنيا وهم يحسبون انهم يحسنون صنعا. أولئك الذين كفروا بأيات ربهم ولقائه فحبطت اعمالهم فلا نقيم لهم يوم القيامة وزنا.
"Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat". (QS. al-Kahfi : 103-105).
Juga Hadits Thabrani dalam Musnadil Firdaus riwayat Abi Dunya:
لولا المؤمن يعجب بعلمه ما خليت بينه وبين الذئب ولكن الذئب خير من العجب
"Andai orang-orang Mukmin tidak takjub dengan ilmunya, maka tidak akan kuberikan kesempatan dosa baginya. Tapi perbuatan dosa yang kemudian merasa terhina itu lebih baik daripada takjub dengan ilmunya".
Dampak negatif ujub juga akan melahirkan sifat jumawa dan rasa kebanggaan terhadap pribadi, materi, keturunan dan yang lain. Selain itu, masih banyak resiko negatif yang akan ditimbulkan dari orang-orang yang hanya membicarakan kabar gembira dan fadloil tanpa diimbangi dengan kabar yang berupa ancaman-ancaman Allah. Tetapi justru metode inilah yang diaplikasikan oleh Jaulah untuk merekrut masyarakat, bergabung dengan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa doktrin Jaulah akan mengakibatkan mereka merasa aman dan percaya diri, selamat dari rekayasa Allah, padahal Allah telah berfirman:
أفأمنوا مكر الله, فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرين
"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi". (QS. al-A'raf : 99)
Tidak boleh berbicara tentang soal khilafiyah (perbedaan pendapat dalam hal-hal agama)
Tidak membicarakan khilafiyah juga akan berdampak sangat fatal. Sebab orang yang tidak bersedia membicarakan khilafiyah tidak akan mampu mengetahui kebenaran orang lain dan akhirnya menganggap orang yang tidak sepaham dengan mereka sebagai orang yang salah. Selain itu, Rasul juga pernah bersabda:
من ترك المراء وهو مبكل بنى الله تعالى بيتا فى أرض الجنة ومن ترك المراء وهو محق بنى الله تعالى بيتا فى أعلى الجنة
"Barangsiapa meninggalkan perdebatan dan dia salah, maka Allah akan membangun (untuknya) rumah di surga. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan dan dia benar, maka Allah akan membangun (untuknya) rumah di surga yang paling tinggi".
Tidak boleh meminta-minta
Larangan Jaulah berkaitan dengan meminta-minta memang sangat baik. Agama mengajarkan kita untuk mandiri, tidak meminta-minta kecuali terpaksa. Sebagaimana sabda Nabi:
قال النبي صلى الله عليه وسلم ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة ليس فى وجهه مزعة لحم
"Tidak henti-henti seorang laki-laki dan perempuan yang meminta-minta sampai datang hari kiamat dan di mukanya tidak terdapat sepotong daging". (Bukhori Muslim)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سأل الناس اموالهم تكثرا فإنما يسأل جمرا فليستقل أو ليستكثر
"Barangsiapa meminta harta orang lain hanya untuk memperkaya dirinya maka sama dengan meminta bara api (maka dipersilahkan baginya) untuk meminta sedikit atau banyak". (HR. Muslim)
Diharuskan khuruj (keliling untuk menyebarkan) dakwah mereka
Kemudian menurut Ustadz Azizi konsep dakwah yang sebenarnya adalah murid keluar mencari guru, bukan guru yang mencari murid. Namun keluar untuk melakukan dakwah bukanlah hal yang dilarang, selama seluruh kewajiban mereka telah terpenuhi.
Selanjutnya Ustadz Azizi memberikan sugesti kepada kita untuk menjadi hamba Allah sesuai dengan porsi masing-masing. Menjadi hamba Allah yang perfect dengan cara melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Kita tidak diperbolehkan meninggalkan kewajiban untuk mengejar kesunahan atau bahkan hal yang mubah. Untuk ini, kita harus tahu kewajiban kita masing-masing. Jika kita diwajibkan menyabit, ya! menyabitlah. Jangan berdakwah. Jika kewajiban kita belajar, belajarlah! Jangan melakukan wirid atau berdakwah. Dan seterusnya. Dengan demikian kita benar-benar akan menjadi hamba Allah, bukan hamha dakwah. Demikian kata Ustadz Azizi mengakhiri pemaparannya.
Pandangan Habib Mundzir Al Musawa Tentang Jamaah Tabligh
Menanggapi pertanyaan pengunjung website www.majelisrasulullah.org Habib Mundzir al Musawa memberikan beberapa tanggapan seputar Jamaah Tabligh. Berikut beberapa rangkuman point-point tanggapan beliau:
Kurang Pengetahuan Syariah,
Jamaah tabligh ini baik ajarannya secara umum, namun ada beberapa hal yg perlu diperbaiki, di antaranya mereka sering meninggalkan keluarga mereka, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Tentunya merupakan kesalahan individu, tidak sepantasnya pergi berdakwah meninggalkan nafkah di rumah, dakwah hukumnya fardhu kifayah dan nafkah hukumnya fardhu ain, maka tak sepantasnya mereka meninggalkan keluarga tanpa nafkah. Namun sepanjang yang saya tahu ajaran Jamaah Tabligh itu sendiri tidak memerintahkan untuk melupakan nafkah, namun kesalahan individunya dan ada hal lain yaitu kurangnya ilmu pengetahuan mereka dalam syariah. Salah satu saudara seperguruan saya di Yaman, yaitu Hb Saleh Aljufri (Solo) ia anggota Jamaah Tabligh, sering ke Pakistan dll, tidak bermasalah dan kita tidak memusuhinya, dan kesimpulan pendapat saya bahwa Jamaah Tablig baik dan mulia programnya, namun kekurangannya adalah kurang memperhatikan ilmu syariah.
Kurang Memiliki Dasar Ilmu Fiqh
Kelemahan mereka ini kurang dalam dasar-dasar ilmu fiqih, karena ilmu fiqih sangat vital bagi da'i, apalagi mereka itu tinggal di masjid dan i'tikaf, yang lima waktu dipantau oleh masyarakat awam, kesimpulannya saya sangat gembira dengan keberadaan gerakan JT. Namun sungguh akan lebih baik jika uang dan waktu untuk dakwahnya itu mereka pakai untuk belajar ilmu syariah, karena belajar ilmu syariah adalah fardhu 'ain, dan dakwah adalah fardhu kifayah. Misalnya setiap minggunya hadir majelis taklim, atau setiap bulannya mereka mondok pada kyai atau Ustaz selama 3 hari dan belajar fiqih ibadah, lalu beberapa bulan kemudian mereka mengunjungi pesantren2 utk praktek dakwah, jika salah maka ada yg membetulkan, nah lalu terjunlah ke masyarakat sebagai Da'i atau di kalangan mereka sendiri dari para ulama nya, membuat acara taklim, misalnya hal hal seperti itu menurut saya mesti lebih didahulukan daripada berdakwah tanpa dasar ilmu, namun kita tidak anti terhadap mereka, mereka saudara2 kita yg punya semangat dalam dakwah, kita doakan saja.
Terpengaruh Wahabi
Kita tidak menilai Jamaah Tablig sesat, cuma yg diperjelas disini adalah ada beberapa hal yg mesti diperbaiki pada jamaah tabligh dari keluhan masyarakat. Sebagaimana banyak diantara personil mereka di pelbagai negara telah terpengaruh dg wahabi, sebab wahabi menggembar-gemborkan tidak fanatis madzhab, dan menganggap dirinya sesuai dg sunnah dan hadits shahih, maka sebagian jamaah tablig tertipu dg ucapan ini dan mengikuti manhaj mereka. Dengan ketertipuan itu, mereka bukan berdakwah tapi menebar fitnah, dan kebanyakan jamaah tablig di Indonesia ini dirasuki wahabi, dengan alasan tidak fanatik madzhab, padahal adalah kebodohan atas semua madzhab. Kita mengemukakan dan memperjelas hal itu, dan hal semacam itu wajar saja dan merupakan kritik membangun.
Mirip Sufi yang tidak Mengabaikan Syariah
Mereka ini mirip sekelompok sufi, namun satu hal, mereka tak mementingkan ilmu syariah, bukan berarti para pesertanya tak ada yg ulama, justru pesertanya ada ulama, umara, aghniya, fuqara, dan seluruh lapisan masyarakat, baru saja beberapa hari yg lalu saya ke Kualalumpur, saya melihat jamaah tabligh yg akan berangkat ke K'lumpur, saya sempat ngobrol dg salah satu dari mereka, sebagaimana biasa bahwa jamaah tabligh ini sopan dan sangat santun, mereka bicara bahwa mereka akan dakwah ke Kualalumpur, tentunya dg uang tabungan sendiri, ongkos sendiri, pakaian mereka kumal, memang demikian keadaan para sufi, hal seperti itu dimaksudkan utk Qahrunnafs (menghancurkan hawa nafsu), agar berani tampil dg tdk tergubris dan tdk perlu malu didepan orang orang modern.
Saya berbicara selembut mungkin, "Sungguh jika anda berpakaian rapi dan bersih, merapikan jenggot, bukan menghilangkannya, namun rapikanlah, dan berpakaian rapilah, sungguh Rasul saw mencintai kerapihan dan kebersihan".
Maka ia menjawab, "Kami bukan Da'i ahli dunia", (maksudnya kira-kira: kami ini bukan da'i sok modern sepertimu), seraya berkata demikian sambil melirik HP Nokia E90 saya dan laptop di pangkuan saya.
Saya diam.
Lalu ia berkata lagi: "Pak ustad mau kemana?"
Saya jawab: "Dakwah juga, saya ada undangan ceramah di Universitas Islam selangor Kualalumpur untuk ceramah di Masjid Al Azhar di univ itu. Anda mau hadir?"
JT: "Insya Allah. Pak ustadz ke sana atas biaya sendiri?"
Saya: "Bukan, dengan biaya mereka yg mengundang"
JT : "Kami dakwah dengan biaya sendiri"
Saya menunduk, lalu saya berkata: "Saya hargai ketulusan anda untuk berdakwah dg uang sendiri, tapi kalau menurut saya, coba kalau uang itu anda pakai untuk mendalami ilmu syariah dan ilmu ibadah dulu, maka ilmu itu akan abadi menemani anda, anda akan dakwah kemana saja dan akan dibiayai oleh orang lain, karena anda berilmu, maka dakwah anda berkesinambungan, namun kalau seperti keadaan anda sekarang ini, bila uang anda habis maka dakwah anda berhenti, bila anda tak punya uang maka anda tak bisa dakwah, namun kalau anda berilmu maka anda bisa 24 jam dakwah sepanjang umur" lalu saya berkata lagi sambil tak melihat wajahnya: "kalau saya lebih senang menghabiskan waktu dan uang sebanyak banyaknya untuk belajar, karena setelah itu selama lamanya saya tak perlu mengeluarkan uang lagi"
Ia terdiam, dan kami terpisah karena telah waktunya masuk pesawat.
Memiliki Tujuan Mulia
Jamaah Tabligh adalah baik dan bertujuan mulia secara umum, walaupun ada beberapa hal berupa kritik yg membangun untuk personil personilnya.
Fanatisme Aliran
Mengenai boleh atau tidaknya berdakwah tanpa memiliki ilmu yang cukup, sungguh tak ada larangannya, namun dakwah ini butuh metode, bukan asal dakwah tanpa memperhatikan cara yg benar, jamaah tabligh mendakwakan mereka tidak fanatis madzhab, namun mereka sendiri fanatis madzhab dan sering menebar fitnah,'mereka masuk ke masjid yg bermadzhab syafii dan saat menjadi imam mereka tak mengeraskan basmalah, kenapa?, alasannya tidak mau fanatik madzhab, nah justru.. bila mereka masuk ke wilayah madzhab syafii maka jangan keras kepala dengan fanatik madzhabnya sendiri hingga seluruh makmum harus mengikuti madzhabnya, ini pemahaman batil dari bentuk kebodohan dalam dakwah, mereka bukan berdakwah tapi menebar fitnah,dan kebanyakan jamaah tablig di Indonesia ini dirasuki wahabi, dengan alasan tidak fanatik madzhab, padahal adalah kebodohan atas semua madzhab, sebagaimana di Masjid Kb Jeruk Jakarta, di masjid itu dahulu ada majelisnya Guru kita Al Allamah KH Syafii Hadzamiy rahimahullah, beliau itu adalah guru dari hampir semua kyai di Jakarta, sanad beliau muttashil pada para Huffadh di zamannya, seperti Al Hafidh Alhabib Salim bin Jindan, AL Musnid Alhabib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi kwitang dl, ketika sang guru besar ini sedang mengajar, maka waktu adzan dhuhur, maka jamaah tabligh langsung adzan dan iqamat dan shalat, sang guru terpaksa beringsut tergopoh gopoh menyingkir, inilah kebodohan mereka, mana ulama mereka?, tak satupun kah ada yg tahu bahwa Rasul saw seringkali menunda iqamat shalat bila ada hajat?, dan apakah tak satupun dari mereka tahu bahwa Rasul saw bersabda : "kalian tetap dalam pahala shalat selama kalian menantikannya"..?, hadits hadits itu adalah dalil bahwa shalat fardhu sunnah ditunda bila ada majelis ilmu, agar hadirin yg datang turut mendengar pula ilmu yg diajarkan, tentunya tidak lama lama, misalnya 15 menit, atau 20 menit, dan yg makruh dalam menunda pelaksanaan shalat fardhu adalah kesibukan duniawi, bukan kesibukan ibadah pula semacam ilmu syariah, bahkan para ulama sengaja menjadikan pelajaran Ilmu syariah adalah sebelum shalat, agar makmum tak bubar, karena bila habis shalat maka masyarakat awam umumnya bubar, maka mereka tak mendengar ilmu, namun karena kebodohan mereka (kalau tidak salah yg di Masjid kb Jeruk itu adalah pusatnya bagi mereka yah..?), ternyata disana tak ada satupun yg menyangga, dan kemudian Guru Syafii Hadzamiy rahimahullah menyingkir dari masjid itu karena sudah dipenuhi kebodohan yg diselubungi kesombongan
Dakwah butuh Ilmu
Mereka mesti kita perlakukan sebagaimana kita memperlakukan saudara kita muslimin, dihimbau dg sopan dan dinasehati untuk memperdalam ilmu, sebab mereka itu para da'i, da'i adalah derajat mulia, namun da'i yg tak berilmu akan menyesatkan ummat, oleh sebab itu kita mesti mengingatkan mereka, agar mereka terus berdakwah namun memperdalam ilmunya, jangan hanya besar semangat dalam menasehati orang namun lupa bahwa menasehati orang itu butuh keluasan ilmu, karena bisa mneyesatkan banyak orang. bukan berarti mereka itu kesemuanya tak berilmu, banyak diantara para ulama dan fuqaha yg mengikuti jamaah tabligh dan khuruj, namun secara program keseluruhannya, jamaah tablig mengajak orang orang untuk berdakwah, dan kebanyakan dari kelompok mereka yg baru bertobat, hal ini sangat baik bagi personil tabligh itu sendiri, namun acapkali merusak pemahaman masyarakat, karena masyarakat banyak bertanya hukum2 kepada mereka dan mereka memberikan jawaban yg tidak benar.Dan salah satu dari program jamaah tabligh adalah tidak terpaku pada madzhab, hal ini baik maksudnya, karena demi persaudaraan muslimin antara mereka, namun buruk dampaknya bila dilakukan oleh orang yg kurang berilmu, mereka akan bercampur baur antara pemahaman syiah, sunnah, al irsyad, sufi dll hingga muncullah bentuk pemahaman yg tak menentu, mereka tidak mau mengacu kepada ulama syafii, karena tak mau fanatik madzhab, padahal justru hal yg benar adalah berpegang pada satu madzhab namun menghargai madzhab lainnya, Kebanyakan dari jamaah tabligh masuk ke masjid yg bermadzhab syafii, mengimami shalat dan tak mengucap basmalah, atau mengimami subuh dan tak berqunut, maka ini justru meresahkan masyarakat, memang betul hal hal seperti ini adalah ikhtilaf furu'iyah, tapi tidak sepantasnya dilakukan dihadapan masyarakat awam hingga mereka bingung mana sih yg benar?, karena dakwah bukan sembarang menasihati, namun butuh uslub (metode) yg jelas dan menyesuaikan diri dg keadaan masyarakat setempat. Saudaraku saya bukan memfitnah, belasan masjid yg mengadukan hal ini, dan saya mengenal jamaah tabligh bukan hanya di Indonesia, namun sejak saya menuntut ilmu di Yaman saya telah jumpa dg mereka, sejak th 1994 kami bergaul akrab dg mereka, Guru saya (Habib Umar Ibn Hafidz) pun berpendapat sama dengan yg saya sampaikan, bahwa Jamaah Tabligh mempunyai celah yg perlu diperbaiki, yaitu keterbatasan ilmu syariah dari personilnya, karena personilnya bukan ratusan, tapi jutaan, bahkan di Yaman kebanyakan Jamaah Tabligh terpengaruh faham Ibn Abdulwahhab yg memusyrikkan muslimin yg tawassul dlsb, dan sebagian di Indonesia pun demikian. Guru saya banyak bergaul dan pernah khuruj dengan Jamaah Tabligh, demikian pula ayah beliau, Al Allamah Alhabib Muhammad bin Salim bin Hafidh, beliau pernah pula hadir ke Pakistan untuk menghadiri ijtima' tahunan Jamaah Tabligh. Saya pun pernah khuruj dg jamaah tabligh di Makasar, hingga bersama sama ke Pinrang, mereka ramah, sopan dan mencintai sunnah, namun itulah barangkali ada kekurangannya, yaitu keterbatasan ilmu dari sebagian besar personilnya, hingga tercampurnya banyak pemahaman.
Saya sesekali tak mengatakan bahwa mereka ini sesat, mereka ini mencintai sunnah, programnya adalah menegakkan sunnah, maksudnya adalah dakwah semata, dan dasar utamanya adalah sufi, namun ada beberapa hal yg perlu dikoreksi.
type="text/javascript">