Hukum khuruuj (keluar) bersama jamaah tablig (Syeikh Mustafa eladawy)

Siapa Anda

Sabtu, 10 April 2010

MAULANA MUHAMMAD ILYAS.

Muqaddimah.

Mungkin jauh sudah kita telah mendengar dan mengenal sosok manusia yang menafkahkan hidup dan matinya demi tegaknya tonggak agama, dan mengajak manusia hingga tidak lalai dari menjalankan kewajibannya sebagai manusia yang beragama,Islam. Dan dengan usahanya yang tiada kenal kata henti hingga tetes darah penghabisan, tersebarlah pergerakan yang cukup mulia yakni dengan manusia untuk kembali pada agama dan taat pada sang Kholiq. Dialah Maulana Muhammad Ilyas.

Maulana Muhammad Ilyas, adalah pendiri jama`ah tabligh di subkontinen Asia Selatan, dia adalah salah seorang yang sangat berpengaruh dan sosok yang sangat masyhur pada abad ke 21 Islam. Disamping kontribusi dia yang sangat besar terhadap perkembangan pergerakan da`wah Islam, maulana Ilyas tidak menaruh banyak perhatian terhadap literatur pergerakan islam moderen.

Lebih khusus, dalam pembahasa ini kita akan melihat sejauh mana usaha yang telah dilakukannya. Dan dengan usaha yang telah dilakukan itu, maka tumbuhlah satu pergerakan yang kita kenal dengan sebutan Tabligh.

Pengetahuan orang-orang barat, bahkan orang Islam, tetap terkontaminasi dengan manisfestasi ion-ion yang spectakuler dan dramatic dari kebangkitan Islam yang meluap-meluap. Literatur yang ada tentang Maulana Ilyas dan pergerakan Tablighnya hampir semuanya dalam bahasa urdu dan ini juga mengandung inspirasi kerja para pemimpin-pemimpinnya dan tulisan-tuisan sebagai kebaktian para pengikut-pengikut dan
pendukung-pendukungnya.

Sejarah Umum Maulana Ilyas.

Maulana Muhammad Ilyas lahir pada tahun 1885 di sebuah kota kecil di United Province of British India dalam sebuah keluarga yang relijius. Mula-mula dia mendapatkan pendidikan keagamaan di rumah dan selanjutnya pergi ke pusat pendidikan yang cukup terkenal yakni di Deoband dimana dia belajar Quran, Hadits, Fiqh dan pengetahuan Islam lainnya dibawah asuhan orang-orang terkenal Deoband kala itu. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Deoband, maulana Ilyas beralih posisi sebagai pengajar di Madrasah Mazharul `Ulum di Saharanpur (U.P.India).

Problematika Mewat.

Pada masa hidupnya, maulana Ilyas sadar akan “situasi Islam yang muram” di wilayah Mewat dekat New Delhi, dimana mayoritas umat Islam tinggal disana, namun sangat sedikit sekali yang mengamalkan ajaran Islam dan praktek-prakteknya. Maulana Ilyas mengirim sebagian muridnya untuk mensurvei situasi disana, selanjutnya beliau sendiri langsung terjun melakukan beberapa perjalanan untuk berdakwah ketempat tersebut. Maulana Ilyas bertemu dengan orang-orang Islam Mewati yang sama sekali tidak dapat mengucapkan syahadat bahkan tidak pernah sholat walau sekali dalam hidupnya karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara melakukan sholat. Beliau menyaksikan umat Islam yang memberi salam antar satu dengan yang lainnya seperti mana cara orang-orang Hindu. Bahkan sebagian lainnya telah mengadopsi ketuhanan Hindu dan mengunjungi tempat-tempat ibadah mereka dan berpartisipasi dalam melakukan ibadah.
Maulana Ilyas secara utuh betul-betul mengetahui dan sadar akan sulitnya permasalahan yang dihadapi oleh Mewati, walaupun demikian, beliau tetap memutuskan untuk membawa mereka kembali kepada lipatan Islam yang hakiki. Pada awal tahun 1920-an, beliau telah menyiapkan sebuah tim dari para pemuda lulusan madrasa Deoband dan Saharanpur kemudian mengirim mereka ke Mewat untuk membangun network mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah di seluruh wilayah tersebut. Kemudian dia menyadari, bagaimanapun juga, bahwa ulama Madrasa yang ditreining dalam tradisi Deoband secara simpel telah memperlihatkan sifat asli mereka dan tidak ada kesan istimewa pada masyarakat secara umum. Maulana Ilyas menyimpulkan bahwa madrasa madrasa tersebut telah kekurangan persiapan untuk mencetak para da`i yang memiliki keinginan pergi dari pintu ke pintu (door to door) dan mengingatkan manusia dari kewajiban-kewajiban mereka. Institusi-institusi ini hanya baik untuk mencetak petugas-petugas keagamaan, bukan pekerja Da`wah.
Lahirnya gerakan Tabligh.
Karena adanya ketidakpuasan terhadap madrasa maka maulana Ilyas mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pengajar di madrasa Mazaharul Uloom di Saharanpur dan kemudian kembali ke Basti Nizamuddin yang terletak di kawasan Delhi lalu memulai da`wahnya. Gerakan Tabligh terlahirkan di tempat tersebut pada tahun 1926. Basti Nizamuddin menjadi tempat tinggalnya sekaligus sebagai markaz besar gerakan Tabligh.
Pergerakan yang baru ini sukses secara dramatik pada waktu yang relatif singkat, dengan adanya usaha keras dari maulana Ilyas, berusaha tanpa letih dan dengan tujuan yang suci. Dan hasilnya banyak orang-orang Islam yang telah mengikuti usaha Maulana Ilyas untuk menda`wahkan ajaran Islam kesetiap kota dan kampung di Mewat. Kesuksesan yang begitu cepat dari hasil usaha Maulana Ilyas dapat kita saksikan dari fakta yang ada bahwa Ijtima` Tabligh untuk pertama kalinya pada November 1941 di Mewat, telah dihadiri oleh 25,000 orang yang kebanyakan dari mereka telah berjalan dari 10 sampai 15 mil untuk menghadiri Ijtima`. Sayyid Abul A`la Maududi, pendiri Jama`at Islam memberikan penghargaan yang indah atas kesuksesan yang spektakuler dari usaha da`wah yang dilakukan oleh maulana Ilyas di Mewat dan sekitar India. Sayyid Abul A`la Maududi juga menggambarkan gerakan Tabligh ini sebagai langkah yang mulia untuk Islamisasi dikalangan masyarakat muslim India.


Misi perjuangan.
Maulana Ilyas bukanlah seorang pemimpin yang karismatik seperti Maulana Mohammad Ali Jauhar pimpinan “Khilafat Movement”, bukan seorang `alim yang terkemuka seperti Abul kalam Azad, pimpinan “the Indian National Congress”. Dia bukan pula orang yang pandai dalam “Public Speaker” seperti Ataullah Shah Bukhari pimpinan “The Ahrar movement”. Tidak juga seperti Abul A`la Maududi Pimpinan Jamaat-e-Islami yang sangat produktif dalam menulis dan pemikir yang cerdas, maulana Ilyas tidak memiliki satu karangan pun dalam hidupnya.
Layaknya missionaris sejati, dia gigih, dan tak henti-henti. Diantara salah satu missi perjalanannya ke mewat, sekali dia pernah dipukul tongkat oleh petani yang coba untuk dipengarungi tentang pentingnya agama dalam kehidupan. Maulana, yang memang sudah lemah fisiknya, jatuh dan tersungkur kelantai.
Keinginannya yang kuat dan ketetapan hatinya yang tak tergoyahkan untuk mencapai setiap muslim dan mengingatkannya tentang kewajiban-kewajibannya sebagai orang yang beriman. Kuat hasratnya mengenai kekayaan rohani terhadap muslim-muslim pengikutnya menyebabkan dia menderita batin yang sangat. Suatu hari seorang teman datang menjenguknya ketika dia berada diatas pembaringan menanti maut. Maulana Ilyas menyambut temannya dengan mengatakan. “orang-orang diluar sana sedang terbakar oleh api pengabaian dan kamu menghabiskan waktu disini hanya untuk mengetahui kesehatanku!”.
Dia menginginkan setiap muslim mengikuti tapaknya, menyampaikan pesan Islam kepada yang lainnya. Dia menyemangati teman-teman dan pengikut-pengikutnya untuk mempersembahkan hidup mereka dalam urusan ini (da`wah). Suatu saat, ketika dia mencoba memeriksa dengan teiliti para pendengarnya untuk melakukan missi secara sukarelawan ke Kanpur, U.P.India, tak seorang pun yang merespon ajakannya. Ketika tampak salah seorang temannya di antara para hadirin, maulana Ilyas bertanya padanya apa yang mencegahnya untuk tidak berangkat ke Kanpur. Temannya menderita penyakit yang serius dan tentunya perjalanan akan menghabiskan waktu selama berminggu. Dia memberitahu maulana Ilyas bahwa sebenarnya dia “hampir mati” dan tak ada jalan baginya untuk melakukan perjalanan. Lalu maulana mengatakan, “jika kamu sedianya sudah mati, maka kamu alangkah baiknya mati di Kanpur.”
Tetap menjaga hubungan antar sesama.
Penting untuk dicatat bahwa ketika maulana Ilyas menjauhkan dirinya dari urusan politik dalam keseharian dan menfokuskan diri pada program secara eksklusif dalam pembentukan muslim yang sadar akan kewajiban-kewajiban agama, dia tidak mengkritisi kelompok-kelompok Islam yang telah menyibukkan diri mereka kedalam dunia politik secara aktif. Sebaliknya, dia tetap menjaga hubungan kordialnya (mesra) terhadap ulama disekolahan Deoband yang berada dalam organisasi politik, Jamiat Ulama-e-Hind, dan Pro-Indian National Congress group, yang kesemuanya aktif dalam politik India. Maulana Ilyas memiliki hubungan yang sama hangatnya terhadap sebagian kelompok di sekolahan Deoband yang pro-Pakistan yang dipimpin oleh Maulana Ashraf Ali Thanvi dan Maulana Shabbir Ahmad Usmani. Bagaimanapun juga dia tetap menolak untuk mengambil posisi pada The Issue of united India vs.a separate Muslim state of Pakistan dengan alasan yang sangat jelas bahwa hal ini akan melenturkan atau mengganggu pergerakan dia dari permasalahan yang mendasar yaitu persoalan agama, dan juga akan menciptakan perselisihan didalam susunan tarafnya. Maulana Ilyas dengan pandangannya bahwa gerakan Tabligh dan kelompok-kelompok Islam yang berorientasi politik, meskipun beroperasi pada dua sisi, namun saling melengkapi kerja antar satu sama lainnya dan dengan demikian tidak seharusnya ada suatu kompetisi dan persaingan diantara mereka.
Penutup.
Suatu ketika seseorang menunjukkan bahwa gerakan maulana Ilyas adalah “dengan focus yang sangat sempit” dan tidak ditujukan kepada issu yang luas tentang pembaharuan socio-politik dalam masyarakat Islam, Maulana meresponnya bahwa fokus yang sempit ini pada fase permulaan pergerakan telah dikehendaki oleh adanya manpower dan bahwasanya pergerakan ini dapat tumbuh mencakup program yang luas dan lengkap pada masa yang akan datang. Hal ini sangat disayangkan bahwa mereka yang menggantikan posisi maulana Ilyas tidak menyadari pandangannya yang luas dan memandang model da`wah Mewat sebagai suatu hal sudah ditetapkan untuk selamanya. Sekalipun demikian, buah dari usaha Mualana Ilyas dapat kita saksikan hingga kepenjuru dunia hari ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

type="text/javascript">