Hukum khuruuj (keluar) bersama jamaah tablig (Syeikh Mustafa eladawy)

Siapa Anda

Sabtu, 10 April 2010

Jusuf Kalla & Jamaah Tabligh

Hari Kamis sore, tanggal 30 April 2009, beberapa waktu setelah mengumumkan pencalonan dirinya menjadi Calon Presiden, Pak Jusuf Kalla beserta rombongan kecil mendatangi sebuah masjid tua di bilangan Jalan Hayam Wuruk 83 Jakarta. Masjid tua itu lebih dikenal dengan nama Masjid Jami Kebon Jeruk, sehari-harinya masjid itu digunakan sebagai pusat kegiatan jamaah Tabligh Indonesia.

jk2

Sebelum mengikuti kegiatan malam “markaz”, aktifitas rutin setiap malam Jum’at di setiap markaz Tabligh di seluruh dunia, Pak JK singgah sebentar di kediaman Pak Cecep Firdaus, sesepuh masjid, yang letaknya tidak begitu jauh dari masjid tersebut. Tujuan kedatangan Pak JK, sebagaimana disebutkan oleh Pak Teddy Abu Hasan, ada dua, pertama untuk sillaturrahim, kedua untuk memohon doa restu atas pencalonan Pak JK.

Hubungan Pak JK dan Pak Cecep khususnya, serta pada aktifitas Tabigh pada umumnya, sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, bukan hubungan yang tiba-tiba terjadi saat menjelang pemilihan Presiden saja.

jk

jk3

Dalam even-even besar yang diadakan oleh para aktifis Tabligh, semisal ijtima (pertemuan) Indonesia yang rutin diselenggarakan setiap tahun, Pak JK hampir selalu menyempatkan diri untuk hadir. Meskipun dalam forum-forum tersebut, Pak JK “hanya” disambut dengan cara yang sangat sederhana dan tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara di depan umum, Pak JK kelihatan menikmati suasana dan kekhusyuan forum tersebut. Beliau selalu tawadlu mendengarkan bayan dari para masyaikh yang memberikan nasehat pada forum tersebut. Pendek kata, terdapat hubungan batin yang cukup mendalam antara Pak JK dengan dengan para sesepuh tabligh dari dalam maupun luar negeri.jk4

Pun pada malam itu, Pak JK juga tidak diberi kesempatan untuk berbicara di depan ribuan jamaah masjid yang hadir. Beliau hanya duduk mendengarkan saja nasehat dari mubayin yang pada malam itu kebetulan disampaikan oleh Pak Cecep Firdaus sendiri.

Kami ingat beberapa patah kata yang disampaikan oleh Pak Cecep soal kedatangan Pak JK pada malam itu. Pertama, Pak Cecep menyampaikan ucapan selamat datang dan bersyukur Pak JK bisa hadir di tengah-tengah jamaah. Kedua, Pak Cecep minta kepada para jamaah untuk mendoakan agar Pak JK mendapat kedudukan yang terbaik !, bukan doa agar Pak JK dimenangkan dalam Pemilu dan diangkat menjadi Presiden.

Apa yang terjadi di dalam masjid tidak banyak diliput oleh media massa pada saat itu. Yang ramai diberitakan dalam pemberitaan adalah adanya insiden pelemparan batu yang diarahkan ke iring-iringan mobil Pak JK dan rombongan.

Kini kita tahu, bahwa Pak JK sudah tidak lagi menjadi Wakil Presiden, beliau juga tidak menjadi presiden RI karena kalah suaranya dengan Pak SBY, urusan politik di Golkar pun juga sudah diserahkan kepada orang lain. Kini Pak JK kembali lagi menjadi orang biasa.

Meskipun begitu, Pak JK akan tetap dikenang banyak orang karena sikap, tindakan dan berbagai gebrakannya selama ini. Kita dapat banyak belajar dari kehidupan Pak JK, sebagai pribadi maupun sebagai pejabat, bagaimana Pak JK menjalani hari-hari dalam kehidupannya, bagaimana Pak JK menyikapi kekalahannya dalam PilPres, bagaimana Pak JK menyelesaikan berbagai konflik dan permasalahan berat di republik ini, bagaimana kerja keras dan kesungguhan Pak JK dalam memajukan bangsa ini dan sebagainya dan sebagainya.

Kini Pak JK lebih banyak mempunyai waktu luang dan tidak banyak lagi terikat dengan masalah protokoler. Pak JK tetap bisa melanjutkan pengabdiannya di berbagai bidang yang sudah menjadi konsennya sejak lama ; agama, sosial, pendidikan dan lain-lainnya.

Mudah-mudahan Pak JK selalu mendapat kedudukan terbaik, di masa kini dan masa yang akan datang. Doa inilah yang juga dipanjatkan oleh seluruh jamaah yang hadir pada malam ijtima’ di masjid Kebon Jeruk saat itu. Semoga !

0 komentar:

Poskan Komentar

type="text/javascript">