Hukum khuruuj (keluar) bersama jamaah tablig (Syeikh Mustafa eladawy)

Siapa Anda

Jumat, 26 Maret 2010

Jama’ah Tabligh Menurut Albani

“ JAMA’AH TABLIGH “
SUFI MASA KINI
Pengantar:
Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Ulama Ahli Hadists Abad ini) dalam Kitabnya “FATAWA AL-IMARATIYAH” halaman 30, ditanya tentang Jama’ah Tabligh atau Jama’ah Da’wah atau Jaulah, beliau memberikan jawaban berikut ini. (Diterjemahkan oleh Abul Abbas Al-Bantani yang dinukil dari Majalah As-Sunnah edisi 05/Th.III/1419 H – 1998).
Dakwah (jama’ah) Tabligh adalah (da’wah) Sufi masa kini yang tidak berpijak pada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Khuruj (keluar untuk berda’wah) yang mereka tentukan selama 3 hari, (7 hari) dan 40 hari tidak pernah menjadi amalan generasi salaf, dan bahkan tidak pernah pula menjadi amalan generasi khalaf (kaum mutaakhirin). Yang mengherankan, mereka keluar untuk tabligh (menyampaikan da’wah), padahal mereka sendiri mengakui bahwa mereka bukanlah ahlinya untuk tabligh (lalu kalau kenyataannya seperti itu, apa yang bisa mereka da’wahkan, sedangkan mereka sendiri miskin dari ilmu???!).
Tabligh (menyampaikan da’wah), sepantasnya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang yang berilmu, seperti halnya pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika mengutus delegasinya yang terdiri dari para sahabat yang alim (hanya yang alim, tidak seluruh sahabat disuruh untuk menjadi delegasi!!!!) untuk mengajarkan Islam kepada umat, misalnya beliau mengutus Ali bin Abi Thalib seorang diri, mengutus Abu Musa Al-Asy’ari seorang diri, mengutus Mu’adz bin Jabal seorang diri (untuk menyampaikan da’wah Islam kepada umat dan tidak pernah mengutus serombongan sahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan Rasul tersebut. Sekalipun mereka adalah juga para sahabat-sahabat Rasul, namun ilmunya tidak menyamai individu-individu para sahabat yang diutus beliau.
Karena itulah kami menasehati agar mereka (Orang-orang jama’ah Tabligh) mau belajar dan memperdalam pemahamannya tentang ilmu agama (karena orang yang tidak berilmu tidak mempunyai kewajiban menda’wahi orang lain, malah yang wajib dilakukannya adalah duduk di Majlis Ilmu para ulama, bukannya keliling kesana kemari dengan alasan berda’wah!!).
Kemudian dalam kepergiannya kenegeri kafir untuk berda’wah, sesungguhnya mereka mengahadapi fitnah yang jelas sekali, padahal mereka tidak memahami bahasa orang-orang kafir tersebut (dan lagi merekapun tidak mengetahui adab-adab berpergian kenegeri kafir!!).
Disisi lain, tidak jarang mereka berdalil dengan perkataan: “lihatlah para sahabat….mereka ada yang penduduk mekkah, dan adapula yang penduduk madinah, namun kuburan mereka ada yang dinegeri Bukhara dan Samarkand, (jika demikian dalil mereka), maka jawabannya adalah: “Bahwa betapa inginnya kita seandainya bisa keluar (khuruj) sebagaimana para sahabat dulu. Mereka keluar untuk berjihad dalam peperangan. Artinya, analogi (pengkiasan) orang-orang jama’ah tabligh diatas adalah pengkiasan yang tidak pada tempatnya.”
Kita tidak mengingkari amar ma’ruf nahi munkar, tetapi kita mengingkari Tanzhim (pengorganisasian da’wah) yang bernama Jama’ah Tabligh ini.
Sesungguhnya ada salah satu tokoh Jama’ah Tabligh menyusun sebuah Risalah. Ketika sampai pada penjelasan tentang kalimat Laa Ilaaha Illallah menafsirkannya dengan penafsiran : “Tidak ada yang disembah selain Allah…” Bagaimana mungkin tidak ada yang disembah selain Allah? Padahal berhala-berhala yang disembah selain Allah jumlahnya banyak sekali, dan penafsiran yang benar adalah menurut para ahli ilmu yaitu “Tidak ada Tuhan yang disembah dengan benar kecuali Allah.” Karena kalau yang disembah secara tidak benar itu jumlahnya banyak sekali, seperti: Latta disembah, Uzza disembah, Manat disembah, Api disembah, Matahari disembah dan seterusnya….(Dan pula ada seorang tokoh dari Jama’ah Tabligh yang menyusun sebuah Kitab yaitu “Fadhoil Amal” yang didalamnya kitab tersebut sangatlah banyak sekali hadits-hadits dhoif, maudhu, khurofat, Takhayul, Bid’ah dan banyak hal yang sangat dapat merusak aqidah seorang muslim).
Penutup:
Marilah kita renungi sebuah ucapan dari Syaikhul Islam Ibnu Qudamah (seorang Muhaddits) didalam kitabnya Mukhtasar Minhajul Qashidin karya Syaikhul Islam Ibnul Jauzi, yaitu: “Wahai saudaraku, bagaimana mungkin kamu begitu khusyu melakukan peribadahan kepada Allah yang padahal tata cara ibadah kamu itu diingkari oleh Rasulullah, dan dimurkai oleh Allah, tetapi kamu dapat begitu tenang dan istiqamah didalam hal yang Allah dan Rasul-Nya benci, kamu shalat, tetapi shalat kamu itu berasal dari hadits dhaif yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang durhaka pada Allah dan Rasul-Nya, lalu kamu berdzikir, padahal dzikir kamu itu adalah dzikir-dzikir dari buatan syaithan yang membisikannya pada telinga orang-orang yang tidak percaya bahwa Islam ini sudah sempurna…”
Saudaraku…. Percayakah kamu kalau Islam agama yang sudah sempurna? Percayakah kamu bahwa Islam itu adalah cukup dengan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan? Percayakah kamu kalau semua jalan / cara / manhaj yang arahnya kesurga atau keneraka telah diberitakan oleh Rasulullah secara lengkap? Adakah menurutmu risalah Rasulullah itu ada yang belum disampaikan atau kelupaan? Kalau kamu mempercayai Islam ini sudah sempurna, maka ikutilah sunnah-sunnah yang beliau telah sampaikan, dan jauhilah olehmu cara-cara yang baru didalam melakukan peribadahan kepada-Nya, enyahkanlah olehmu Fanatik kepada Syaikh-syaikh yang mengajarkan ajaran-ajaran syaithan, karena yang selain Allah dan Rasul-Nya itu adalah Thoghut yang wajib kamu tinggalkan……

0 komentar:

Poskan Komentar

type="text/javascript">