Hukum khuruuj (keluar) bersama jamaah tablig (Syeikh Mustafa eladawy)

Sabtu, 30 Januari 2010

Tabligh Yang Banyak Disalahpahami


Tabligh Yang Banyak Disalahpahami

16 Juni 2008 • Disimpan dalam Agama • Tagged Jamaah Tabligh, Jaulah, karguzari, karkun, tablighi jamaat, yoginder sikand
Yoginder Sikand, seorang pengamat yang menulis disertasi doktornya tentang “The Origins and Development of the Tablighi Jama’at: A Cross-Country Comparative Study” di University of London tahun 1998 di bawah supervisi Francis Robinson, pernah menulis mengenai beberapa kesalahpahaman orang mengenai gerakan Tabligh.
Beberapa pengamat dan intelejen dari negara barat (Amerika, Eropa, juga Australia) seringkali mengaitkan dan menyebut gerakan ini mempunyai link dengan beberapa gerakan “teroris”. Sandra Laville, penulis di harian Guardian London, menyebut gerakan ini sebagai satu sel untuk perekrutan anggota Alqaidah.
Paul Lewis, penulis lain di harian yang sama, juga menyebut Tabligh sebagai gerakan Islam fundamentalis yang dipercaya para intelejen barat sebagai pusat pembiakan dan perekrutan ekstrimis yang dipengaruhi dan dibiayai oleh Gerakan Wahabi dari Arab Saudi.
Dari kalangan internal Islam sendiri, juga banyak yang melihat gerakan ini dengan agak sinis. Kalangan yang getol dengan penegakan syariah dan khilafah menyebut Tabligh sebagai gerakan yang anti politik dan tidak mengajarkan Islam yang kaffah dan syumul karena tidak mendukung tegaknya negara dan syariah Islam di muka bumi.
Mereka yang getol dengan pemberantasan kemungkaran menyebut gerakan Tabligh sebagai gerakan banci dan lembek karena hanya berani menjalankan “amar ma’ruf” tetapi tidak pada “nahi munkar”. Buktinya, gerakan ini tidak mau ikut serta dalam gerakan pemberantasan berbagai kemaksiatan seperti perjudian, diskotik, minuman keras dan lain sebagainya.
Mereka yang getol dengan “jihad” dengan berbagai laskarnya, menyebut Tabligh sebagai gerakan yang sengaja dibentuk oleh tangan-tangan Yahudi dan Hindu untuk melemahkan semangat jihad secara fisik sehingga mereka bersikap cuek dan tak mau membela kaum muslimin yang tertindas di berbagai belahan dunia, seperti di Palestina, Bosnia, Afghanistan, India, Thailand Selatan, Philipina dan lain sebagainya.
Sementara dari kalangan yang sering menyebut dirinya sebagai pengikut generasi terbaik “salafus solihin” menyebut Tabligh sebagai gerakan yang penuh dengan penyimpangan, kesalahan dan kebodohan. Mereka juga menyebut gerakan ini sebagai gerakan sufiyah, penyembah kuburan dan ajarannya penuh dengan bid’ah dan khurafat.
***
Terhadap berbagai penilaian dan kritikan di atas, tak ada sedikit pun sesi disediakan oleh para ahli syura untuk membahas dan meresponnya dalam satu pun musyawarah atau muzakarah yang diadakan secara rutin, baik pada musyawarah harian, mingguan, bulanan maupun tahunan, dari tingkat masjid (muhalla) terendah sampai ke tingkat musyawarah dunia di markaz dakwah Nizamuddin India.
Insyaallah juga tidak akan ada satu “buku putih” pun yang diterbitkan untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan miring yang dialamatkan ke jamaah ini. Juga tidak akan ada protes di jalanan atau pengajuan petisi ke pengadilan atau Komnas HAM untuk mengadukan berbagai “perlakuan” yang tidak menyenangkan tersebut. Insyaallah mereka juga pantang meminta suaka ke negara lain.
Yang sering dimuzakarahkan oleh para ahli jamaah dalam responnya terhadap gerakan lain, baik yang mendukung maupun menentang usaha ini, adalah agar para ahli jamaah tidak melakukan kritik dan membalas kritik terhadap harokah atau gerakan lain, tidak merendahkan, membanding-bandingkan serta diam terhadap semua kritik dan pujian yang datang. Para ahli jamaah juga dimotivasi untuk selalu menjalin hubungan dan silaturrahim kepada semua anggota masyarakat, terutama kepada orang-orang miskin, tokoh-tokoh masyarakat dan alim ulama.
Para ahli jamaah juga dimotivasi untuk terus belajar ikhlas dan memakai kaca mata kuda dalam setiap langkahnya, bahwa berbuat maupun tidak berbuat adalah semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Sikapnya terhadap orang yang mengkritik maupun memujinya adalah sama saja.
Semua kritik, nasehat, caci maki, fitnah bahkan usiran adalah “obat” yang sangat diperlukan untuk mematangkan, memperbaiki dan mendewasakan gerakan ini. Semua “masukan” tersebut merupakan bahan evaluasi agar para ahli jamaah lebih berhati-hati dan bersungguh-sungguh serta menyadari bahwa diri mereka adalah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan.
Semua hal di atas insyaallah merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT untuk memotivasi agar para ahli jamaah lebih bermujahadah dan meningkatkan pengorbanan dalam usaha perbaikan diri dan umat di seluruh alam. Wallahu a’lam.

1 komentar:

Mas Banjit mengatakan...

Subhanalloh...subhanalloh...subhanalloh...

Poskan Komentar

type="text/javascript">