Hukum khuruuj (keluar) bersama jamaah tablig (Syeikh Mustafa eladawy)

Siapa Anda

Sabtu, 30 Januari 2010

Maulana Zakariyya Kandahlawi dan Kajian Hadits


Maulana Zakariyya Kandahlawi dan Kajian Hadits

10 Juli 2008 • Disimpan dalam Agama • Tagged bukhori, hadits, Jamaah Tabligh, karkun, khuruj, maulana ilyas, maulana zakariyya, sohih muslim, usaha dakwah, zakaria, zakariya

Maulana Zakariyya Kandahlawi lahir pada tanggal 10 Ramadhan 1315 H, bertepatan dengan 12 Februari 1898, di sebuah desa bernama Kandlah di wilayah Uttar Pradesh India, dari sebuah keluarga yang mempunyai sejarah panjang dalam pengabdian pada agama. Silsilah keluarga beliau bersambung sampai kepada Sahabat besar Abu Bakar Ashshidiq RA.
Zakariyya kecil mulai belajar membaca kepada Hakim Abdur Rahman, kemudian menghafal Alquran di bawah bimbingan langsung sang ayah, Maulana Muhammad Yahya, seorang ulama besar yang cukup terpandang di India. Setelah itu belajar bahasa Persia dan bahasa Arab kepada Maulana Muhammad Ilyas, pendiri gerakan Tabligh.
Pada usia 12 tahun, Maulana Zakariyya dibawa oleh sang ayah ke Madrasah Mazahirul Ulum. Di bawah bimbingan sang ayah, beliau mempelajari bahasa Arab tingkat lanjut, teks-teks klasik, nahwu, sharaf dan ilmu mantiq.
Ketika menginjak usia 17 tahun, minat utamanya mulai terfokus pada bidang kajian ilmu hadits. Beliau mempelajari 5 dari 6 kutubussittah. Bahkan beliau sempat belajar untuk kedua kalinya kitab Sahih Bukhori dan Sunan at-Tirmidzi kepada Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Selama mempelajari kitab-kitab tersebut, Maulana Zakariyya selalu menjaga wudlu’.
Maulana Zakariyya memulai karier mengajarnya pada tahun 1335 H, ketika beliau ditunjuk untuk mengajar di mata pelajaran nahwu, sharaf dan sastra. Pada tahun 1341 H, kemudian ditunjuk untuk mengajar tiga bagian dari kitab Sahih Bukhori dan pada tahun 1344 H ditambah lagi mengajar kitab Mishkat al-Masabih.
Pada tahun 1345 H, beliau berkesempatan mengunjungi tanah suci. Di Madinah beliau tinggal selama 1 tahun dan selama itu mengajar Sunan Abi Dawud di Madarasah Ulum Shar’iyyah. Di Kota Nabi ini, Maulana mulai menulis Awjaz al-Masalik ila Muwatta’ Imam Malik, syarah kitab Al-Muwatta’nya Imam Malik, ketika itu beliau berumur 29 tahun.
Ketika kembali ke India, beliau mulai lagi mengajar kitab Sunan Abi Dawud, Sunan al-Nasai, Al-Muwatta Imam Muhammad dan separuh bagian dari Sahih Bukhari, separuhnya lagi diajarkan oleh direktur madrasah. Setelah sang direktur wafat, tugas mengajar Sahih Bukhari ini diberikan seluruhnya kepada Maulana Zakariyya.
Selama hidup beliau, beliau telah mengajar separuh bagian pertama dari Sahih Bukhari selama 25 kali, mengajar seluruh kitab tersebut selama 16 kali dan mengajar kitab Sunan Abi Dawud sebanyak 30 kali. karier beliau mengajar bertahan sampai tahun 1388 H, ketika beliau menderita sakit mata yang tidak memungkinkan lagi untuk terus mengajar.
Kecintaan Maulana Zakariyya pada agama, terutama pada kajian ilmu Hadits, sangat total. Total waktu yang dihabiskan beliau untuk belajar an mengajar hadits adalah selama kurang lebih 60 tahun.
Dalam kurun waktu tersebut beliau juga telah menulis lebih dari 80 kitab yang sangat tinggi nilainya dan diakui oleh para ulama di seluruh dunia. Beberapa kitab yang beliau tulis dalam bidang kajian hadits antara lain ; Awjaz al-Masalik ila Muwatta’ Imam Malik (syarah dari kitab Muwatta Imam Malik, terdiri dari 6 jilid), Lami’ al-Dirari ‘ala Jami’ al-Bukhari (syarah dari kitab Sahih Bukhari), Syarah Muslim (syarah Sahih Imam Muslim), Juz’ Hajjat al-Wida’ wa ‘Umrat al-Nabi (Berisi tentang detilnya haji dan umroh yang dilakakukan oleh rasulullah SAW, juga memuat tentang masalah hukum haji, lokasi, dan tempat-tempat yang pernah dilalui atau disinggahi oleh Rasuulllah SAW), Khasa’il Nabawi Sharh Shama’il al-Tirmidhi (syarah dan komentar terhadap kitab al-Shama’il al-Muhammadiyya-nya Imam Tirmidzi yang beris tentang detil hadits-hadits yang berkenaan dengan peri kehidupan Nabi Muhammad SAW) dan beberapa kitab lainnya.
Detil lebih lengkap mengenai riwayat hidup beliau bisa dibaca di buku otobiografi beliau yang ditulis dengan cara yang unik oleh beliau sendiri dengan judul “Aap Beeti”, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Otobiografi Zakariyya Al-Kandahlawi”.
***
Membaca kisah belajar, mengajar, menulis, ketekunan dan semangat Maulana Zakariyya dalam pengabdiannya kepada agama, khususnya dalam ilmu hadits harusnya membuat kita menjadi malu.
Pertanyaan sederhana untuk kita, apa yang telah kita lakukan untuk memajukan agama yang kita cintai ini ? Kayaknya belum melakukan apa-apa ya ? Kalau sudah begitu, rasanya menjadi sangat tidak pantas bagi kita memberi label atau cap negatif terhadap sosok-sosok seperti Maulana Zakariyya Kandahlawi, Maulana Ilyas Kandahlawi dan ulama-ulama yang lainnya.
Apalagi penguasaan dan pengetahuan kita seringkali pas-pasan saja, itu pun kita mendapatkannya dari sumber terjemahan, bahkan seringkali hanya copy paste dari sumber yang tidak jelas sanadnya. Wallahu a’lam

0 komentar:

Poskan Komentar

type="text/javascript">